7 Gejala Penyakit Serius pada Bayi dan Balita

Saat membawa bayi yang baru lahir pulang dari rumah sakit atau rumah bersalin, tidak ada yang memberikan buku panduan mengenai cara untuk merawat bayi tersebut. Bagaimana bila bayi tersebut sakit – apakah orang tuanya akan dapat mengenali tanda-tandanya? Bagaimana caranya kita tahu apakah sang bayi ini perlu dibawa ke dokter atau tidak jika dia bahkan tidak bisa mengatakan apa yang dirasakannya?

doktersehat-bayi-rewel-nangis-sakit-perut-demam-flu

Tarik napas. Setelah mengetahui apa yang perlu diperiksa, orang tua akan merasa lebih siap untuk memastikan kapan mereka perlu membawa bayi mereka ke dokter.

Bayi merupakan usia yang sangat rentan dalam kehidupan, karena sistem kekebalan tubuh bayi masih dalam proses perkembangan. Sebelum seorang bayi mendapatkan vaksinasi atau imunisasi, tubuhnya akan lebih sulit untuk melawan infeksi dibandingkan anak yang lebih besar.

Bayi dan balita memerlukan perawatan dokter untuk beberapa masalah kesehatan yang pada anak yang lebih besar cukup dirawat sendiri saja tanpa bantuan dokter. Jika bayi atau balita mengalami gejala berikut ini, segera hubungi dokter.

Demam
Bayi seharusnya tidak mengalami demam sampai usia 3 bulan. Jika bayi kurang dari 3 bulan memiliki suhu rektal (suhu tubuh yang diukur dengan memasukkan termometer ke dalam anus) >38ºC, segera hubungi dokter atau unit gawat darurat. Bukan karena demam itu sendiri yang berbahaya, melainkan karena pada bayi baru lahir, demam bisa menjadi tanda dari infeksi bakteri yang berbahaya.

Setelah melewati usia 3 bulan, jika bayi demam, dapat ditunda satu hari sebelum membawanya ke dokter. Hal ini karena demam yang timbul selama lebih dari 24 jam dan tidak disertai dengan gejala flu perlu evaluasi oleh dokter.

Tingkah laku bayi seharusnya juga bisa membantu dalam pengambilan keputusan apakah dia perlu dibawa ke dokter atau tidak. Perhatikan respon bayi terhadap orang di sekitarnya, keadaan umumnya (apakah tampak pucat atau lemah), serta keaktifan geraknya. Anak yang biasanya senang bermain tetapi saat itu hanya berbaring saja, merintih, atau rewel bisa menjadi petunjuk adanya perubahan kondisi kesehatan bayi yang cukup bermakna dan perlu mendapat perhatian dokter.

Kuning
Bayi baru lahir sering mengalami ikterik atau jaundice, dimana kulit dan bagian putih mata berubah warna menjadi kuning. Hal ini terjadi karena liver atau organ hati pada bayi tidak selalu bekerja secara optimal, sehingga tidak bisa memecah zat dalam darah yang disebut dengan bilirubin.

Sebagian besar jaundice atau ikterik ini bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Dokter akan memeriksanya sebelum bayi pulang dari rumah sakit, dan beberapa hari kemudian saat bayi melakukan kontrol yang pertama kali. Setelah itu, jika kulit atau mata bayi tampak kuning, bawa kembali menemui dokter.

Sangat sulit untuk mengetahui apakah jaundice yang dialami bayi masih dalam batas normal atau sudah pada level yang harus diterapi hanya dengan melihatnya saja. Perlu pemeriksaan laboratorium untuk mendukungnya.

Pada beberapa kasus, memberikan lebih banyak ASI dapat mengurangi kuning. Pada beberapa kasus yang lain, bayi perlu mendapat terapi penyinaran untuk membantu mempercepat proses pemecahan bilirubin.

Baca Juga:  Susu Formula Ternyata Membuat Bayi Cenderung Lebih Gemuk

Ruam
Sebagian besar ruam akan tampak memudar atau menghilang jika ditekan dengan jari. Jika pada bayi atau balita muncul bintik-bintik merah pada dada, punggung, lengan, atau kaki yang tidak memudar jika ditekan, segera hubungi dokter atau bawa anak ke unit gawat darurat terdekat. Ruam semacam ini dapat menjadi tanda infeksi serius seperti meningitis atau penyakit kelainan pada darah atau pembuluh darah.

Ruam yang tidak memudar yang muncul di wajah atau leher anak bukan merupakan tanda bahaya jika disertai dengan batuk atau muntah, tetapi boleh saja langsung dibawa ke dokter untuk berjaga-jaga kemungkinan terburuknya. Ruam seperti ini muncul karena adanya pembuluh darah kecil pada kulit yang pecah akibat adanya peningkatan tekanan saat anak batuk atau muntah.

Muntah atau diare
Jika bayi atau balita mengalami muntah atau diare, segera bawa ke dokter atau unit gawat darurat. Kunci tanda bahaya adalah popok yang kering. Jika bayi tidak buang air kecil, kemungkinan besar dia mengalami dehidrasi.

Anak yang lebih besar akan mampu mentoleransi diare berat selama kurang lebih satu hari, tetapi bayi dapat mengalami dehidrasi hanya karena diare berat selama kurang dari 12 jam.

Hubungi dokter juga jika muntahan atau tinja anak tampak berbeda. Perhatikan jika ada darah atau cairan empedu yang berwarna kehijauan pada muntahan. Pada diare, hubungi dokter jika terdapat darah atau lendir pada tinja.

Gangguan pernapasan
Bayi yang mengalami gangguan pernapasan biasanya menghirup dan menghembuskan napas dengan cepat, serta bagian tengah dadanya tertarik ke dalam. Jika sela-sela antara dua tulang rusuk tampak tertarik ke dalam setiap kali bayi menarik napas, segera bawa bayi ke unit gawat darurat terdekat.

Jika anak tidak berhenti batuk, bawa ke dokter atau UGD, barangkali dia menderita asma atau tanpa sengaja ada benda asing yang masuk ke saluran napasnya. Tidak semua anak yang menderita asma mengi – beberapa hanya batuk saja. Pada balita, hal ini lebih sering akibat adanya benda asing yang tidak sengaja masuk ke saluran napas.

Nyeri kepala
Bayi tidak bisa memberi tahu jika dia mengalami nyeri kepala, tetapi balita bisa. Balita mungkin akan sering memegangi kepalanya atau mengungkapkan dengan kata-kata jika dia mengalami sakit kepala. Nyeri kepala merupakan keluhan yang jarang pada balita sehingga harus segera dievaluasi.

Menangis tanpa henti
Jika bayi atau balita menangis sepanjang sepanjang hari dan tidak bisa ditenangkan, hubungi dokter atau unit gawat darurat agar bisa dilakukan evaluasi segera. Hal ini karena penyebab tangisan seperti ini pada bayi bisa bervariasi mulai dari hanya masalah kecil seperti karena ada sehelai rambut yang melilit di jarinya hingga adanya gangguan usus yang serius. Begitu diketahui penyebabnya, akan lebih mudah untuk dicari solusinya.