Skizofrenia – Gejala, Faktor Risiko, dan Diagnosis

Gejalanya skizofrenia adalah:

doktersehat-Depresi-Postpartum-Baby-Blue-Syndrome-Skizofrenia

  • Halusinasi: mendengar atau melihat hal-hal imajiner yang dalam kenyataan tidak ada
  • Delusi: keyakinan liar yang palsu
  • Paranoia: takut bahwa orang lain sedang merencanakan melawan atau hendak menyakiti Anda
  • Gejala kognitif Skizofrenia: gejala ini sangat menegangkan dan mengganggu kemampuan untuk menjalani hidup normal. Seseorang dengan skizofrenia akan terganggu dari segi pengambilan keputusan, tindakan sehari-hari (misal suka jalan-jalan sambil telanjang, suka keluyuran tanpa tujuan, suka menyiram tubuhnya dengan air, dan sebagainya)

Beberapa tanda-tanda, seperti kurangnya kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari dan penarikan dari kegiatan sosial, dapat menyerupai depresi.

Cara Mempengaruhi Pikiran
Orang dengan skizofrenia mungkin memiliki kesulitan mengorganisir pikiran mereka atau membuat koneksi logis. Mereka mungkin merasa seperti pikiran sahut menyahut berbalap-balapan namun tidak berhubungan. Kadang-kadang mereka memiliki “penarikan pikiran,” yaitu perasaan bahwa pikiran disedot keluar dari kepala mereka, atau ” blocking pikiran” yaitu ketika seseorang yang sedang berpikir tiba-tiba teralihkan oleh sesuatu yang tidak jelas.

Efek pada Perilaku
Penyakit ini memiliki dampak yang besar dalam banyak cara. Penderita dapat berbicara atau membuat kata-kata tidak masuk akal. Namun, penderita dapat gelisah atau tidak menunjukkan ekspresi. Banyak yang memiliki kesulitan menjaga kebersihan diri, merawat diri, dan menjaga kebersihan lingkungannya. Beberapa penderita melakukan perilaku yang berulang, seperti mondar-mandir. Meskipun mitos, risiko melakukan kekerasan terhadap orang lain cukup kecil.

Faktor Risiko
Siapapun bisa. Masing-masing etnis, laki-laki dan perempuan memiliki kemungkinan yang sama besarnya. Gejala biasanya mulai antara usia 16–30 tahun. Kecenderungan untuk mulai lebih awal pada pria dibandingkan pada wanita. Skizofrenia jarang dimulai selama masa kanak-kanak atau setelah usia 45 tahun. Orang dengan skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya dalam keluarga mereka mungkin lebih mungkin untuk mendapatkannya.

Baca Juga:  Kanker Vagina (1)

Diagnosis
Tidak ada pemeriksaan laboratorium untuk menemukan skizofrenia, sehingga dokter biasanya mendasarkan diagnosa pada riwayat dan gejala seseorang. Dokter pertama akan menyingkirkan penyebab medis lainnya. Dalam remaja, kombinasi sejarah keluarga dan perilaku tertentu dapat membantu memprediksi skizofrenia awal. Perilaku ini termasuk menarik diri dari kelompok sosial dan mengekspresikan kecurigaan yang tidak biasa, tapi itu tidak cukup untuk menegakkan diagnosis.

Mendiagnosis skizofrenia didasarkan pada mengamati pola tindakan pasien. Tapi dokter menggunakan tes tertentu untuk memastikan tidak ada penyakit fisik lain yang mendasari.

Psikiater dan psikolog menggunakan teknik khusus untuk mendiagnosa penyakit mental seperti skizofrenia.  Untuk mendiagnosa skizofrenia, pertama dokter akan menyingkirkan penyakit medis yang mungkin bisa menyebabkan perubahan perilaku. Setelah penyebab medis tidak ditemukan, penyakit psikotik seperti skizofrenia bisa dipertimbangkan.