Gangguan Penyakit Jiwa Neurosis

DokterSehat.Com – Neurosis berasal dari bahasa Yunani yaitu neuron artinya saraf dan osis artinya penyakit atau gangguan. Istilah neurosis pertama kali dipopulerkan oleh William Cullen pada 1769. Cullen mengartikan neurosis sebagai gangguan perasaan dan gerakan yang disebabkan oleh kelainan saraf. Saat ini, neurosis didefinisikan sebagai gangguan mental yang mengenai sebagian kecil aspek kepribadian, dan orang yang mengalaminya masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit.

5

Penyebab

  • Stres mental dan jasmani yang berlebihan.
  • Pengalaman emosional yang sangat menyakitkan atau mendalam.
  • Ada masalah yang tidak bisa dipecahkan.
  • Jadwal kerja yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk istirahat atau bersantai.
  • Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan.

Gejala

Gejala neurosis yang paling menonjol adalah kecemasan yang berlarut-larut dengan intensitas yang cukup kuat. Gejala lain berupa gejala psikis dan fisik. Gejala psikis antara lain rasa takut berlebihan, depresi, apatis dengan lingkungan, merasa tidak aman, gangguan percaya diri, merasa tidak mampu, suasana hati yang berubah-ubah, mudah tersinggung atau marah, kesedihan mendalam, kebingungan, penghindaran, berpikiran negatif, suka menyendiri, dan lain-lain.

Sedangkan gejala fisik yang sering menyertai neurosis adalah rasa lemah dan kurang fit, mudah letih, kurang semangat, bermalas-malasan, sesak nafas, dada rasa tertekan, panik, berkeringat dingin, gangguan pencernaan, tidak nafsu makan, tangan gemetar, sering kencing, serta sakit kepala, perut, atau dada.

Pengobatan

Pengobatan utama neurosis adalah dengan psikoterapi. Pada psikoterapi, seorang psikolog membangun komunikasi dengan pasien, membantu pasien mengidentifikasi sumber kecemasannya, memberi ruang agar pasien pasien mengekspresikan perasaan terpendamnya, dan bersama-sama mencari cara untuk mengelola sumber kecemasan tersebut.

Selain itu, agar lebih berhasil, pengobatan neurosis harus didukung oleh keluarga, teman, pasangan, dan lain-lain. Obat-obatan anticemas atau antidepresan biasanya hanya memberi efek kesembuhan sementara. Bahkan, jika obat-obatan tersebut dikonsumsi tanpa kontrol, dapat timbul ketergantungan dan memperparah neurosis. Oleh karena itu, penggunaan obat-obatan hanya ditujukan untuk kasus neurosis yang berat, itu pun harus mendapat kontrol yang ketat dari dokter atau psikiater.