Faktor Yang Berperan Dalam Kenaikan Berat Badan Bayi

DokterSehat.Com – Jika kita memperhatikan bayi yang baru lahir, maka kita akan mendapati pertumbuhan berat badannya yang cenderung sangat cepat, khususnya dalam tiga bulan pertama setelah dilahirkan. Setelah itu, pertumbuhan berat badan bayi biasanya akan cenderung menurun dan tidak sepesat tiga bulan pertama. Memang, pertumbuhan berat badan bayi akan berbeda-beda. Namun, setidaknya pakar kesehatan telah menemukan adanya beberapa faktor yang memiliki peran besar dalam kenaikan berat badan bayi. Apa sajakah faktor-faktor ini?

doktersehat-nutrisi-gizi-bayi-balita

Pakar kesehatan dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC menyebutkan jika tiga bulan pertama adalah fase paling cepat dalam kenaikan berat badan bayi. Beliau menunjukkan jika dalam periode tersebut, setidaknya bayi akan mengalami kenaikan 700 gram hingga 1 kg setiap bulannya. Setelah tiga bulan umur terlampaui, bayi mulai mengalami penurunan kenaikan berat badan, namun, dalam satu bulannya pun bayi akan tetap mengalami kenaikan rata-rata 400 hingga 600 gram. Saat bayi sudah mencapai fase ini, kenaikan berat badan bayi memang cenderung lebih landai, dan pada saat usia bayi sudah mencapai satu tahun, rata-rata berat badan bayi sudah mencapai tiga kali berat badannya saat baru saja lahir.

Hanya saja, ada beberapa kasus dimana sebelum enam bulan berat badan bayi justru cenderung stagnan dan tentu akan mengkhawatirkan orang tuanya. Dr. Wiyarni justru berkata jika orang tua tidak perlu khawatir dan terburu-buru menambahkan susu formula pada bayi pada usia tersebut atau bahkan memberikan makanan atau vitamin tambahan. ASI tetap menjadi makanan paling utama bagi bayi sebelum usia enam bulan dan tambahan jenis makanan lain layaknya susu formula justru ditakutkan menimbulkan alergi pada saluran pencernaan sang buah hati.

Baca Juga:  Ngeri! Tangan Gadis Kecil Ini Bolong Akibat Digigit Laba-Laba Beracun

Dr. Wiyarni justru menekankan orang tua agar lebih baik dalam memenuhi kebutuhan ASI buah hatinya jika berat badan bayi cenderung stagnan. Sebagai contoh, cara atau waktu pemberian ASI yang kurang tepat sehingga bayi tidak mengkonsumsi ASI dengan maksimal, atau dalam beberapa kasus, bayi ternyata memiliki masalah kesehatan yang tentu harus diperiksakan kondisinya ke dokter.