Faktor Pemicu Kelahiran Prematur

DokterSehat.com – Kelahiran prematur bisa terjadi saat usia kehamilan belum memasuki minggu ke 37 atau kira-kira tiga minggu sebelum hari perkiraan lahir (hpl). Perlu diketahui bahwa bayi yang lahir prematur rentan menderita maslah kesehatan yang lebih serius ketimbang bayi yang lahir sesuai jadwal kelahirannya. Sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab bayi lahir prematur. Berikut ini beberapa faktor yang diduga bisa memicu persalinan prematur.



Bayi kembar lebih dari dua

Mengandung anak kembar dua atau lebih berisiko melahirkan prematur. Kondisi ini disebabkan rahim merenggang terlalu lebar sehingga rahim tidak bisa menahan bayi lebih lama lagi dalam kandungan.

Gaya hidup

Gaya hidup ibu akan berdampak pada janin dalam kandungannya. Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok atau mengonsumsi alkohol tentu saja berisiko menyebabkan persalinan prematur. Stres berlebihan dan kekurangan nutrisi diduga menjadi salah satu faktor pemicu kelahiran prematur.

Infeksi

Infeksi pada air ketuban maupun selaput pembungkus bayi bisa mengakibatkan air ketuban pecah sebelum waktunya. Akibatnya, tubuh ibu bereaksi dan mengalami kontraksi persalinan. Diketahui pula infeksi pada gigi berlubang juga bisa mengakibatkan bayi lahit prematur.

Penyakit yang diderita si ibu maupun si janin

Kondisi kesehatan kompleks pada ibu maupun janin dapat memicu bayi lahir prematur. Beberapa penyakit seperti anemia, darah tinggi, diabetes diduga bisa memicu persalinan prematur. Selain itu, perkembangan bayi yang tidak sempurna atau mengalami cacat bawaan maka tubuhnya akan bereaksi hingga persalinan prematur pun terjadi.

Trauma

Trauma akibat kecelakaan atau kekerasan selama masa kehamilan bisa memicu ibu melahirkan secara prematur. Air ketuban akan pecah bahkan belum si bayi berkembang sempurna dan siap dilahirkan.

Baca Juga:  Pria, Lakukan Pemeriksaaan Mandiri Secara Rutin Demi Mencegah Kanker Testis

Masalah pada tali pusar

Bayi yang terlilit tali pusar juga terpaksa dilahirkan secara prematur. Kondisi tersebut akan membahayakan ibu dan bayi jika tidak dikeluarkan.