Depresi Postpartum – Penyebab, Gejala, Pencegahan, dan Pengobatan

DokterSehat.Com– Depresi postpartum (PPD) atau depresi pascamelahirkan adalah depresi yang bersifat sementara setelah persalinan. Depresi postpartum merupakan penyakit medis yang dapat diobati, yang memengaruhi sekitar 13 persen wanita setelah melahirkan. Penyakit ini bisa berkembang dari beberapa minggu sampai satu tahun setelah melahirkan, tapi ini paling umum terjadi pada tiga bulan pertama pascapersalinan. Depresi postpartum bisa sulit ditemukan, karena kemurungan dan gejala lainnya mirip dengan baby blues —keadaan singkat yang memengaruhi hingga 80 persen ibu baru, menurut National Institutes of Health Amerika Serikat (NIH).

Depresi-Postpartum-Baby-Blue-Syndrome-doktersehat

Kondisi depresi postpartum muncul dalam dua bentuk: waktu beberapa minggu setelah melahirkan sering disebut sebagai “baby blues,” dan waktu lambat. Jenis waktu awal terjadi dengan ringan. Dimulai setelah melahirkan dan biasanya sembuh dalam beberapa minggu tanpa pengobatan. Bentuk waktu lambat adalah apa yang disebut oleh banyak orang sebagai depresi yang sebenarnya, bentuk yang lebih parah ini biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Secara keseluruhan, itu memengaruhi sekitar 10-16 persen dari wanita.

Gejala PPD ringan termasuk kesedihan, kecemasan, selalu menangis bercucuran air mata, dan kesulitan tidur. Gejala ini biasanya muncul dalam beberapa hari setelah melahirkan dan hilang 10-12 hari setelah melahirkan. Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah kepastian dan bantuan pekerjaan rumah tangga serta mengurus bayi. Sekitar 20 persen dari wanita yang memiliki baby blues akan mengalami depresi yang lebih lama. Penting untuk dokter tahu jika Anda mengalami sindrom “blues” yang berlangsung lebih dari dua minggu.

Penyebab Postpartum

Tidak ada yang tahu pasti mengapa beberapa wanita mengalami depresi pascamelahirkan dan yang lainnya tidak. Penurunan tajam hormon estrogen dan progesteron setelah melahirkan bisa memicu penyakit, dan kurang tidur dapat berkontribusi juga. Beberapa wanita merasa berkonflik dengan perubahan identitas dan tanggung jawab mereka yang baru, dan ini bisa menjadi faktor. Jika Anda pernah mengalami depresi di masa lalu, Anda cenderung mengalami depresi pascamelahirkan.

Gejala Depresi Postpartum

Gejala depresi postpartum (PDD) dapat dibagi menjadi tiga kategori:

  • Baby blues: Sangat pendek durasinya, mungkin tidak memerlukan pengobatan medis tetapi perawatan di rumah
  • Depresi postpartum: Berlangsung lebih lama, lebih melelahkan, dan membutuhkan perawatan medis
  • Psikosis postpartum: bentuk paling parah, memerlukan perawatan kejiwaan agresif karena sudah timbul halusinasi dan gejala psikosis lainnya

Ada banyak kemungkinan gejala depresi postpartum, termasuk berikut:

  • Sulit tidur atau malah tidur lebih banyak dari biasanya
  • Perubahan nafsu makan
  • Kekhawatiran ekstrem dan khawatir tentang bayi atau kurangnya minat atau perasaan untuk bayi
  • Merasa tidak mampu mencintai bayi atau keluarga
  • Kemarahan terhadap bayi, pasangan, atau anggota keluarga lainnya
  • Kecemasan atau serangan panik
  • Takut merugikan bayi Anda; pengalaman ini mungkin obsesif, dan Anda mungkin takut ditinggal sendirian di rumah dengan bayi Anda
  • Iritabilitas –peka terhadap rangsangan
  • Kesedihan atau menangis berlebihan
  • Kesulitan berkonsentrasi atau mengingat
  • Perasaan ragu, rasa bersalah, tak berdaya, putus asa, atau gelisah
  • Kelelahan ekstrem
  • Kehilangan minat pada hobi atau kegiatan biasa lainnya
  • Perubahan suasana hati yang berlebihan dan terendah
  • Merasa mati rasa emosional
  • Mati rasa atau kesemutan di lengan atau kaki
  • Sesak napas
  • Sering ke dokter anak dengan ketidakmampuan untuk diyakinkan
  • Pikiran berulang tentang kematian, yang dapat mencakup berpikir tentang atau bahkan berencana bunuh diri
  • Pikiran obsesif-kompulsif dan perilaku yang mengganggu.

Segera hubungi dokter jika merasakan hal ini:
Anda memiliki gejala atau tanda-tanda depresi yang telah berlangsung lebih dari dua minggu setelah melahirkan atau justru dimulai dua bulan setelah melahirkan. Cari bantuan darurat jika Anda memiliki salah satu dari gejala berikut:

  • Anda memiliki halusinasi dan delusi tentang diri Anda atau bayi Anda; jangan menunggu, ini darurat
  • Anda memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi Anda; ini juga hal yang darurat dan membutuhkan bantuan segera.

Perlu diperhatikan! Pikiran atau upaya untuk bunuh diri dan pikiran atau upaya membunuh merupakan risiko yang sangat serius dan nyata dari depresi postpartum. Gejala-gejala ini bukan mitos atau khayalan semata, dan beberapa kasus telah dipublikasikan dengan baik secara medis. Cari perawatan medis segera jika Anda memiliki pikiran untuk bunuh diri atau membunuh.

Mencegah Depresi Postpartum

Karena depresi postpartum (PPD) mungkin terkait dengan fluktuasi hormon setelah melahirkan, pencegahan tidak mungkin dilakukan. Namun, beberapa pendekatan dapat membantu menjaga terhadap kondisi tersebut. Salah satu hal terbaik untuk dilakukan adalah belajar sebanyak mungkin tentang apa yang diharapkan secara fisik dan psikologis selama kehamilan, persalinan, dan pengasuhan anak. Ini dapat membantu Anda mengembangkan harapan yang realistis untuk diri sendiri dan bayi Anda. Ambil kelas ibu hamil dan bersosialisasi dengan wanita hamil lainnya dan ibu baru tentang pengalaman mereka.

Baca Juga:  Ternyata, Penggunaan Ponsel Dapat Terkait Gejala Depresi

Wanita yang memiliki riwayat depresi mungkin berisiko lebih tinggi untuk mengalami PPD, dan wanita yang mengalami depresi sebelum atau selama kehamilan mungkin mengalami gejala yang sama setelah melahirkan.

Setelah Anda melahirkan, dapatkan bantuan dari teman dan keluarga, tapi batasi juga bantuan itu agar Anda memiliki waktu untuk mengasuh anak sendiri juga. Jangan terlalu khawatir dengan tugas-tugas yang tidak benar-benar harus dilakukan. Seringlah tidur siang untuk tetap beristirahat, makan makanan sehat dan mendapatkan berolahraga yang cukup.

Mengobatan Depresi Postpartum

Depresi Postpartum (PPD) kadang-kadang hilang sendiri dalam waktu tiga bulan setelah melahirkan. Tetapi jika hal ini mengganggu kehidupan Anda setiap saat, atau jika “blues” berlangsung lebih dari dua minggu, Anda harus mencari pengobatan. Sekitar 90 persen dari wanita yang mengalami depresi pascamelahirkan dapat diobati dengan kombinasi obat-obatan dan psikoterapi. Partisipasi dalam kelompok pendukung untuk berdiskusi juga dapat membantu. Dalam kasus depresi postpartum berat atau psikosis postpartum, rawat inap mungkin diperlukan. Jarang, electroconvulsive (ECT) terapi dapat digunakan untuk mengobati depresi yang sangat parah dengan halusinasi (persepsi palsu) atau delusi (keyakinan yang salah).

Cara terbaik adalah untuk mencari pengobatan sesegera mungkin. Jika terlambat terdeteksi atau tidak terdeteksi sama sekali, kondisi bisa memburuk. Juga, para ahli telah menemukan bahwa kondisi mental anak-anak dapat dipengaruhi oleh PPD ibunya. Anak tersebut mungkin lebih rentan terhadap gangguan tidur, perkembangan kognitif terganggu, rasa tidak aman, dan sering marah.

Pulih dari depresi postpartum, sadarilah bahwa gejala ini mungkin dapat muncul kembali sebelum periode menstruasi karena fluktuasi hormon. Depresi postpartum bisa ditangani di rumah dengan beberapa cara berikut ini:

1. Obat depresi postpartum
Langkah pertama dalam pengobatan adalah untuk mengatasi masalah langsung seperti gangguan tidur dan perubahan nafsu makan. Obat antidepresi biasanya cukup efektif untuk ini. Anda dan dokter Anda perlu berhati-hati untuk memilih obat antidepresi jika Anda sedang menyusui. Beberapa antidepresan disekresikan dalam jumlah kecil dalam air susu ibu (ASI). Obat-obat lain, seperti lithium, yang lebih kontroversial untuk ibu menyusui menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka dapat menyebabkan keracunan bayi, meskipun ada perdebatan terhadap lithium dalam menimbulkan risiko. Diskusikan dengan dokter untuk menentukan manfaat dari terapi antidepresan. Jika pasien diharuskan untuk meminum obat antidepresan, dokter mungkin akan menyarankan untuk mengonsumsi obat tersebut selama enam bulan sampai satu tahun untuk menghindari kekambuhan, lalu dikurangi dosisnya secara perlahan atau melanjutkannya lagi tergantung pada gejala dan riwayat.

Jika Anda telah memiliki episode depresi postpartum sebelumnya, dokter mungkin menyarankan Anda mengambil obat pencegahan sesaat setelah bayi lahir atau selama kehamilan. Kebanyakan antidepresan tidak menimbulkan risiko besar untuk perkembangan janin, meskipun semua obat memiliki potensi risiko. Beberapa antidepresan yang termasuk serotonin reuptake inhibitor selektif seperti Paxil, Zoloft, dan Prozac jarang dikaitkan dengan hipertensi pulmonal persisten dari defek sekat jantung pada bayi yang baru lahir ketika dikonsumsi selama trimester terakhir kehamilan, sedangkan antidepresan trisiklik dapat menyebabkan deformitas ekstremitas ketika dikonsumsi pada awal kehamilan.

Banyak wanita yang telah melahirkan tidak ingin hamil segera. Namun, jika Anda sedang dirawat karena depresi postpartum, Anda dapat memilih metode kontrasepsi selain pil KB, yang kadang-kadang memperburuk gejala depresi. Bicarakan dengan dokter untuk memutuskan metode kontrasepsi terbaik untuk Anda.

2. Psikoterapi
Psikoterapi umumnya diresepkan sendiri atau dipadu dengan antidepresan untuk mengobati PPD. Dokter dapat merujuk Anda ke seorang profesional kesehatan mental berkualitas yang mengkhususkan diri dalam mengobati depresi postpartum. Seorang terapis dapat memberikan dukungan emosional dan membantu memahami perasaan dan mengembangkan tujuan yang realistis, yang penting untuk mengatasi depresi postpartum.

3. Memperoleh dukungan
Pulih dari depresi postpartum, coba untuk mengambil waktu untuk diri sendiri. Keluar dari rumah setiap hari, bahkan jika itu hanya untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Peroleh dukungan keluarga dan teman-teman untuk bantuan emosional dan rumah tangga. Tidak disarankan mencoba melakukan semuanya sendiri. Pertimbangkan untuk bergabung dengan kelompok ibu-ibu atau jika tidak ada, mulailah membuat perkumpulan ibu-ibu di daerah tempat tinggal Anda.

4. Olahraga
Latihan dapat membantu meningkatkan semangat Anda. Setelah Anda pulih secara fisik dari melahirkan, coba untuk melakukan olahraga setiap hari. Satu penelitian telah menunjukkan bahwa olahraga berat setelah pulih dari melahirkan berkaitan dengan perasaan peningkatan kesejahteraan. Dokter dapat membantu Anda merencanakan program latihan yang tepat untuk Anda.