Dengan Alat Ini, Kita Bisa Berkomunikasi Dengan Pasien yang Koma

DokterSehat.Com– Setiap orang yang sedang dalam kondisi koma atau vegetatif tentu tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain, baik itu keluarganya atau bahkan tenaga medis yang merawatnya. Kondisi mereka yang sedang tidak sadarkan diri membuatnya tidak mungkin untuk melakukan komunikasi tersebut. Beruntung, belakangan ini ditemukan sebuah alat yang diklaim mampu membuat kita berkomunikasi dengan pasien yang koma. Seperti apakah peralatan tersebut?

doktersehat-universiyofliege-komunikasi-dengan-orang-koma

Photo Credit: University of Liege

Peralatan yang ditemukan oleh pakar kesehatan dari University of Liege yang ada di Belgia ternyata mampu membuat pasien yang berada dalam kondisi koma melakukan komunikasi dua arah. Mereka bisa melakukannya dengan menjalankan prosedur stimulasi arus searah transkranial atau TDCS. Dalam prosedur ini, terdapat elektroda yang diletakkan pada kepala pasien yang sedang koma. Elektroda inilah yang nantinya akan merangsang area otak yang sebelumnya ditargetkan agar bisa melakukan komunikasi.

Pemimpin penelitian yang merupakan ahli saraf bernama Aurore Tibaut menyebutkan bahwa di atas bagian otak bernama korteks prefontal, bagian otak yang mampu mengendalikan kesadaran, ditempatkan headset. Setelah mendapat rangsangan dari elektroda, pasien koma biasanya mulai mampu memberikan respons pada komunikasi dari luar dengan gerakan pada bagian tubuh layaknya tangan.

Dalam penelitian ini sendiri, setidaknya ada 16 pasien yang mengalami koma karena kerusakan otak sehingga tidak mampu berkomunikasi setidaknya dalam 3 bulan terakhir. 8 pasien diketahui diberikan stimulasi otak selama 20 menit selama 5 hari berturut-turut. 8 pasien sisanya diberi stimulasi dengan frekuensi yang lebih rendah. Hasilnya adalah, 2 pasien yang mendapatkan stimulasi otak mampu berkomunikasi dengan cara menggerakkan bagian tubuhnya. Sementara itu, semua pasien yang hanya mendapatkan stimulasi dengan frekuensi rendah tidak mendapatkan pengaruh apa-apa dari prosedur ini.

Sejauh ini, penggunaan alat ini bisa membantu pasien koma untuk berkomunikasi selama seminggu. Namun, pakar kesehatan masih akan melakukan penelitian lebih dalam agar penemuan mereka bisa digunakan dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih efektif.