Demensia Bisa Dipicu Oleh Diabetes dan Depresi Berlebihan

DokterSehat.Com – Masalah pikun atau yang kerap disebut dengan sebutan demensia kini telah banyak dialami oleh banyak orang, khususnya yang berusia lansia. Tak hanya di negara-negara berkembang layaknya Indonesia, banyak masyarakat negara maju yang juga mengalami masalah demensia. Sebagai contoh, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh University of Washington School of Medicine menyebutkan jika demensia juga menjadi perhatian di negara-negara maju layaknya Amerika Serikat hingga negara-negara Eropa layaknya Denmark. Banyaknya kasus demensia ini diyakini berasal dari semakin banyaknya orang yang terkena depresi atau diabetes.

doktersehat-vertigo-pusing-penyakit-kepala-berputar-demensia

Pakar kesehatan dr. Davydow yang terlibat dalam penelitian yang dilangsungkan pada tahun 2007 hingga 2013 ini menyebutkan jika dari 2,4 juta warga negara Denmark berusia 50 tahun ke atas yang menjadi partisipan, ditemukan fakta bahwa 9,1 persen diantaranya menderita diabetes tipe 2 dan 19,4 persen diantaranya terkena masalah depresi. Dari jumlah orang yang terkena depresi dan diabetes tersebut, 3,9 persen diantaranya akhirnya berakhir dengan demensia. Di Amerika Serikat sendiri, ditemukan fakta dimana diabetes dan depresi bisa meningkatkan resiko terkena demensia hingga 80 persen lebih besar, dimana penderita diabetes memiliki resiko 20 persen dan penderita depresi cenderung memiliki 83 persen resiko terkena demensia jauh lebih tinggi.

Melihat adanya fakta ini, pakar kesehatan pun berusaha keras mencegah masyarakat modern agar tidak mudah terkena demensia. Caranya adalah dengan mulai mengkampanyekan diet yang lebih sehat, olahraga dengan teratur, serta melakukan latihan otak dan kegiatan sosial. Perilaku hidup sehat ini diyakini akan mampu menekan resiko demensia hingga 25 persen. Selain itu, ada baiknya kini masyarakat lebih baik dalam menjaga berat badannya agar tetap ideal dan sebisa mungkin tidak merokok agar tidak akan mudah terkena demensia di masa depan.