Delirium – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Delirium-doktersehat

Delirium adalah gangguan mental serius yang menyebabkan penderita mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Gangguan ini dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering terjadi pada pasien yang lanjut usia dan telah didiagnosis gangguan mental sebelumnya.

Gejala Delirium

Penderita delirium akan menunjukkan gejala-gejala setelah ia terkena delirium dalam beberapa jam hingga beberapa hari. Penderitanya akan mengalami penurunan konsentrasi dan kebingungan. Terkadang, gejala delirium akan memburuk pada malam hari.

Gejala delirium lain yang bisa Anda kenali, diantaranya:

  • Sulit mempertahankan konsentrasi dan mudah dialihkan
  • Mengalamai halusinasi
  • Tingkat kesadaran berfluktuasi
  • Disfasia/sulit berbicara
  • Dysarthria (berbicara mendengung karena kesulitan berartikulasi)
  • Mengalami tremor
  • Kelainan anggota gerak

Selain itu, delirium juga dapat menunjukkan tampilan psikomotor seperti:

  • Delirium hiperaktif. Penderita akan menunjukkan tampilan gaduh, gelisah dan bicara meracau. Selain itu, penderita juga sering mengalami halusinasi.
  • Delirium hipoaktif. Sebanyak 25% akan memiliki tampilan klinis berupa delirium hipoaktif. Pada delirium tipe ini, penderita akan bersikap tenang dan menarik diri. Penderita akan cenderung tertidur dan memiliki respons yang lambat.
  • Delirium campuran. Penderita menunjukkan gambaran klinis baik hiperaktif maupun hipoaktif.

Diagnosis Delirium

Untuk menentukan diagnosis delirium, dapat dilakukan melalui pengamatan yang teliti dari tampilan klinis penderita. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang sebenarnya tentang gambaran klinis delirium. Umumnya, penderita datang dengan keluhan berkurangnya atensi atau perhatian, gangguan psikomotor, gangguan siklus tidur dan terjadi dalam waktu pendek.

Berdasarkan panduan dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), kriteria diagnostik untuk delirium adalah sebagai berikut:

  • Gangguan dalam perhatian (yaitu, berkurangnya kemampuan untuk mengarahkan fokus, mempertahankan fokus, dan mengalihkan perhatian) dan gangguan dalam kesadaran.
  • Perubahan kognisi (misalnya, defisit memori, disorientasi, gangguan bahasa, gangguan persepsi) yang tidak membaik dari catatan yang sudah ada sebelumnya, berkembangnya suatu demensia.
  • Gangguan perkembangan dalam waktu yang singkat (biasanya jam sampai hari) dan cenderung berfluktuasi.
  • Ada bukti dari riwayat, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa gangguan ini disebabkan oleh konsekuensi fisiologis langsung dari kondisi umum medis, misal zat memabukkan, penggunaan obat, atau lebih dari satu penyebab.

Beberapa langkah-langkah yang digunakan untuk mengidentifikasi penyakit ini meliputi:

  • Metode Penilaian Kebingungan (CAM)
  • Wawancara Gejala Delirium (DSI)
  • Metode Penilaian Kebingungan untuk Intensive Care Unit (CAM-ICU)
  • Perawatan Intensif Delirium Checklist Screening (ICDSC)

Keparahan gejala delirium dapat dinilai dengan Skala Deteksi Delirium (DDS) dan Skala Penilaian Delirium Memorial (MDAS). Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien.

Pengobatan Delirium

Tujuan pengobatan adalah untuk menentukan penyebab delirium, menghentikan atau mengembalikan pasien seperti semula lagi. Komponen manajemen delirium termasuk terapi suportif dan manajemen farmakologis.

Cairan dan nutrisi harus diberikan dengan hati-hati karena pasien mungkin tidak bersedia atau fisiknya tidak dapat mempertahankan asupan gizi yang seimbang. Untuk pasien yang diduga menderita keracunan alkohol, terapi harus mencakup multivitamin, terutama asupan tiamin.

Selain itu, teknik reorientasi atau isyarat memori seperti kalender, jam, dan foto keluarga juga dapat membantu. Hal ini harus didukung oleh lingkungan yang tenang dan penerangan yang baik.

Sedangkan, delirium yang menyebabkan pasien mencederai orang lain atau diri sendiri perlu diberi obat penenang. Obat yang paling sering digunakan adalah neuroleptik  yaitu Benzodiazepin.

Sebuah penelitian menunjukkan penurunan suara pada malam hari dengan menggunakan penyumbat telinga dalam ruang ICU akan menurunkan risiko delirium sebanyak 53% dan meningkatkan persepsi tidur yang dilaporkan sendiri oleh pasien selama 48 jam. Dukungan dari perawat dan keluarga juga akan mendorong pasien untuk pulih.

Satu hal penting lain yang harus diperhatikan adalah sebisa mungkin untuk tidak melakukan pengekangan fisik pada penderita delirium. Hal ini bisa menyebabkan pasien mengigau, menarik-narik infus, dan menyebutkan kata-kata yang tidak sopan. Seorang penderita delirium tidak boleh ditinggalkan sendirian atau tanpa pengawasan.

Perawatan pendukung juga diperlukan bagi penderita delirium untuk mencegah komplikasi. Beberapa perawatan pendukung adalah:

  • Mencegah penderita kehilangan kendali atas dirinya
  • Menghindari banyak perubahan di lingkungan sekitar penderita
  • Menyediakan cairan dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh penderita
  • Membantu penderita yang kesulitan menggerakkan tubuh
  • Menangani rasa nyeri yang dialami penderita
  • Mendorong adanya interaksi antara penderita dengan keluarga atau kerabat dekatnya

Selain itu, penanganan masalah yang mendasari sangat diperlukan seperti gangguan buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK), dan imobilisasi. Diet sehat, berolahraga, dan mengobati kondisi fisik, semuanya dapat membantu menurunkan kekambuhan delirium.