Delirium – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Delirium adalah disfungsi otak yang transient/ sementara, biasanya reversibel/ dapat kembali normal lagi, memanifestasikan kelainan otaknya ini dengan berbagai kelainan neuropsikiatri. Hal ini dapat terjadi pada semua usia, tetapi lebih sering terjadi pada pasien yang berusia lanjut dan telah dikompromikan dengan status mental.

doktersehat-lesi-otak-delirium-penurunan-fungsi

Tanda dan Gejala
Delirium akan mengalami penurunan perhatian dan kebingungan. Gejala meliputi:

  • Kesadaran berkabut
  • Kesulitan mempertahankan atau mengalihkan perhatian
  • Disorientasi
  • Illusi
  • Halusinasi
  • Tingkat kesadaran berfluktuasi
  • Disfasia/ sulit berbicara
  • Dysarthria (berbicara mendengung karena kesulitan berartikulasi)
  • Tremor
  • Asteriksis (tremor flapping) pada ensefalopati hepatik dan uremia
  • Kelainan motorik/ kelainan anggota gerak

Penegakan Diagnosis
Diagnosis penyakit ini adalah berdasarkan kondisi klinis. Tidak ada uji laboratorium yang dapat mendiagnosa delirium.

Kriteria Diagnostik
Berdasarkan panduan dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, Fifth Edition (DSM-5) kriteria diagnostik untuk delirium adalah sebagai berikut:

  • Gangguan dalam perhatian (yaitu, berkurangnya kemampuan untuk mengarahkan fokus, mempertahankan fokus, dan mengalihkan perhatian) dan gangguan dalam kesadaran.
  • Perubahan kognisi (misalnya, defisit memori, disorientasi, gangguan bahasa, gangguan persepsi) yang tidak membaik dari catatan yang sudah ada sebelumnya, berkembangnya suatu demensia.
  • Gangguan perkembangan dalam waktu yang singkat (biasanya jam sampai hari) dan cenderung berfluktuasi.
  • Ada bukti dari riwayat, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa gangguan ini disebabkan oleh konsekuensi fisiologis langsung dari kondisi umum medis, misal zat memabukkan, penggunaan obat, atau lebih dari satu penyebab.

Instrumen Penilaian
Beberapa langkah-langkah yang digunakan untuk mengidentifikasi penyakit ini meliputi:

  • Metode Penilaian Kebingungan (CAM)
  • Wawancara Gejala Delirium (DSI)
  • Metode Penilaian Kebingungan untuk Intensive Care Unit (CAM-ICU)
  • Perawatan Intensif Delirium Checklist Screening (ICDSC)

Keparahan gejala delirium dapat dinilai dengan Skala Deteksi Delirium (DDS) dan Skala Penilaian Delirium Memorial (MDAS).

Baca Juga:  Hiperpigmentasi dan Hipopigmentasi pada Kulit - Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Pengelolaan
Tujuan pengobatan adalah untuk menentukan penyebab delirium dan menghentikan atau mengembalikan pasien seperti semula lagi. Komponen manajemen delirium termasuk terapi suportif dan manajemen farmakologis.

Cairan dan nutrisi harus diberikan dengan hati-hati karena pasien mungkin tidak bersedia atau fisiknya tidak dapat mempertahankan asupan gizi yang seimbang. Untuk pasien yang diduga menderita keracunan alkohol atau “withdrawal” alkohol, terapi harus mencakup multivitamin, terutama tiamin.

Teknik reorientasi atau isyarat memori seperti kalender, jam, dan foto keluarga dapat membantu. Lingkungan harus stabil, tenang, dan dengan penerangan yang baik.

Delirium yang menyebabkan pasien mencederai orang lain atau diri pasien sendiri perlu diberi obat penenang. Obat yang paling sering digunakan adalah neuroleptik untuk obat penenang. Benzodiazepin sering digunakan.

Ketika delirium didiagnosis atau diduga, penyebabnya harus dicari. Komponen manajemen delirium termasuk terapi suportif dan manajemen farmakologis.

Sebuah penelitian menunjukkan penurunan suara pada malam hari dengan menggunakan penyumbat telinga dalam ruang ICU akan menurunkan risiko delirium sebanyak 53% dan meningkatkan persepsi tidur yang dilaporkan sendiri oleh pasien selama 48 jam. Anggota keluarga dan staf harus menjelaskan memperkuat orientasi pasien, menjelaskan dengan detail kepada pasien, mengajari kembali pasien, serta meyakinkan pasien. Dukungan dari perawat dan keluarga akan mendorong pasien untuk pulih.

Defisit sensorik harus diperbaiki, jika perlu, dengan kacamata dan alat bantu dengar.

Pengekangan fisik harus dihindari. Pasien dapat saja mengigau dengan menarik-narik infus, memanjat keluar dari tempat tidur dan menyebutkan kata-kata yang tidak sopan. Masalah persepsi menyebabkan agitasi, ketakutan, perilaku agresif, dan pasien menjadi rewel. Pasien-pasien ini tidak boleh ditinggalkan sendirian atau tanpa pengawasan. (dr. Ursula Penny)