Darah Menggumpal dan Nyeri Saat Haid

DokterSehat.com – Haid biasanya terjadi selama 6-7 hari. Pada periode tersebut tubuh akan mengeluarkan darah melalui vagina. Biasanya gumpalan darah yang keluar berwarna merah cerah atau merah tua dan pekat.



Gumpalan darah ini biasanya keluar saat haid masih “deras-derasnya” atau saat perdarahan yang terberat. Keluarnya gumpalan darah secara berulang ini membuat darah haid Anda terlihat lebih kental ketimbang biasanya.

Sebenarnya tubuh melepaskan zat yang bisa mencegah pembekuan darah yang berfungsi mencegah darah haid menjadi gumpalan saat keluar. Tapi, saat awal haid biasanya darah yang keluar lebih banyak sehingga zat pencegah pembekuan darah (antikoagulan) tidak cukup waktu untuk bekerja. Akibatnya, darah pun keluar bergumpal-gumpal.

Kondisi ini sebenarnya normal saja dialami tiap wanita, terutama jika gumpalan darah terjadi pada hari-hari pertama. Tapi, keluarnya darah secara berlebihan dan terus menerus bisa jadi mengakibatkan anemia. Jika jumlah gumpalan darah yang keluar tidak normal dan  lebih dari masa haid yang normal sekitar 6-7 hari, maka sebaiknya segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter agar mengetahui penyebab sebenarnya.

Selain itu, sakit pinggang saat haid juga sering dialami kaum hawa. Menurut dr Judi Januadi Endjun, SpOG, dismenorea atau nyeri haid ada dua jenis, yakni dismenorea primer dan dismenorea sekunder.

Pada dismenorea primer, nyeri haid muncul bukan karena kelainan anatomis organ kandungan, melainkan karena gangguan fungsi fisiologi, misalnya gangguan hormon.

Pemeriksaan USG bisa dijalani untuk memastikan ada tidaknya kelainan anatomis organ kandungandan analisi hormon, terutama kadar prostaglandin darah.  Dismenorea primer biasanya dapat hilang dengan sendirinya setelah melahirkan atau setelah gangguan hormon dihilangkan dengan pengobatan hormonal.

Sementara pada dismenorea sekunder bisa ditemukan kelainan di organ kandungan, seperti adenomiosis atau mioma uteri pada rahim dan kista endometriosis pada indung telur atau kelainan bawaan rahim seperti rahim bersekat atau ada dua.

Baca Juga:  Bahaya Mendengkur Yang Bisa Mematikan!

Penanganan dismenorea sekunder jauh lebih sulit dan mungkin saja memerlukan tindakan pembedahan atau bahkan tidak dapat disembuhkan kecuali dengan pengangkatan rahim secara keseluruhan (histerektomi).