Dampak Kurang Tidur Sama Buruknya Seperti Efek Stres

Doktersehat.com – Tidur yang cukup merupakan hal yang penting untuk  dipenuhi karena pola tidur akan sangat berpengaruh pada kesehatan.  Kurang tidur akan berdampak buruk bagi kesehatan. Tidur artinya berhemat energi, bukan hanya itu tapi juga menghemat nyawa serta umur. Serius, banyak penyakit datang jika kurang tidur. Tidur ideal tubuh manusia adalah sekitar 8 jam sehari, jika kekurangan maka akan menyebabkan kurang normalnya fungsi tubuh.



Tidur yang sehat didambakan oleh banyak orang, namun jika anda selalu memilih tidur kurang dari kebutuhan, maka siap-siaplah untuk menghadapi resiko-resiko

Penelitian di Universitas Chicago juga menemukan bahwa kurang menutup mata menyebabkan tingkat kortisol, hormon stres meningkat saat sore dan malam dan menyebabkan peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan glukosa darah. Hal itu bisa meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2 . Selain berakibat dengan masalah kesehatan di masa depan, kortisol datang di saat yang tidak tepat yaitu pada saat anda harus istirahat dengan tidur.

Pergelaran Euro 2012 baru saja usai dan menyisakan kantuk bagi mereka yang menonton laga final namun harus bangun awal pagi harinya. Bagi orang-orang yang suka begadang dan tidur kurang dari 8 jam pada malam hari, gejala kurang tidur siap mengintai. Menurut para ilmuwan, efek yang ditimbulkan dari kurang tidur ini serupa dengan efek buruk dari stres.

Ketika tubuh mengalami stres, sistem kekebalan tubuh ternyata merespon dengan cara yang sama seperti yang terjadi saat orang kurang tidur. Untuk memahami dampak kurang tidur dan bagaimana reaksinya terhadap tubuh, peneliti membandingkan sel darah putih orang yang tidur teratur selama 8 jam dengan orang yang tidur kurang dari 8 jam atau disebut juga kurang tidur.

Dalam penelitian ini, peneliti merekrut 15 orang peserta. Kesemua peserta diminta tidur selama 8 jam pada malam hari. Agar tubuhnya bekerja dalam kondisi sempurna, peserta diminta menghabiskan 15 menit waktunya di luar ruangan setiap 90 menit ketika siang hari. Peserta juga diminta menjauhi alkohol, kafein dan obat-obatan.

Pada sesi berikutnya, para peserta diminta tetap terjaga selama 29 jam. Sampel darahnya kemudian diambil pada setiap tahap. Para peneliti menemukan bahwa sel-sel darah putih dalam darah meningkat jumlahnya selama fase kurang tidur.

“Granulosit segera bereaksi ketika tubuh mengalami gejala kurang tidur dan langsung menyerupai respon tubuh saat sedang mengalami stres,” kata Katrin Ackermann, peneliti postdoctoral di Eramus MC University Medical Center Rotterdam di Belanda seperti dilansir Medical Daily, Senin (2/7/2012).

Ackerman berharap, penelitian berikutnya di masa depan akan menemukan mekanisme molekuler di balik respon stres ini dan menjelaskan perannya dalam perkembangan penyakit yang berhubungan dengan gejala kurang tidur kronis. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat atauCenters for Disease Control and Prevention pernah melaporkan bahwa hampir sepertiga warga AS mengalami kurang tidur.

Kurang tidur sendiri diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko stroke, kanker dan obesitas. Orang yang sering kurang tidur atau jam biologisnya terganggu umumnya memiliki kondisi kesehatan yang lebih buruk dibanding orang yang jam tidurnya normal.

“Jika dikonfirmasi dengan lebih banyak data, temuan ini akan memiliki implikasi dalam praktik klinis dan profesi yang berkaitan dengan kurang tidur dalam waktu yang lama, misalnya pada orang yang sering bekerja shift malam,” pungkas Ackermann.

Sumber : .beritaunik.net & detikhealth.com