Cotard’s Syndrome Buat Penderitanya Seperti Mayat Hidup

DokterSehat.Com – Sindrom Cotard atau yang dikenal juga dengan Walking Corpse Syndrome (WCS) merupakan salah satu kelainan neuropsikiatrik yang jarang terjadi. Penderita penyakit ini akan merasa bahwa ia sudah mati dan tidak ada di dunia lagi.

6

Selain itu, orang dengan sindrom Cotard juga merasa bahwa ia sudah kehilangan darah atau organ internalnya serta bagian-bagian tubuh yang sudah membusuk, padahal sebenarnya orang tersebut tidak kehilangan apapun.

Sindrom ini diberi nama sesuai dengan penemunya, yaitu Jules Cotard, seorang neurolog Perancis yang menemukan kasus unik ini pada 1880. Kondisi ini bisa berasal dari faktor neurologis atau mental, terutama penyakit mental yang berhubungan dengan depresi.

Penyakit ini juga telah dikaitkan dengan gangguan lain seperti skizofrenia dan gangguan bipolar. Selain penyakit mental, penyakit ini dapat terjadi ketika ada masalah dengan otak, seperti cedera pada kepala.

Gejala

Khayalan negasi adalah gejala utama dalam sindrom Cotard itu. Pasien yang menderita penyakit mental ini biasanya menyangkal keberadaan mereka, atau adanya bagian tubuh tertentu, atau adanya sebagian tubuh mereka. Sindrom Cotard adalah dalam tiga tahap :

  • Perbenihan tahap-gejala depresi psikotik dan hipokondria muncul.
  • Blooming tahap-perkembangan penuh sindrom dan delusi negasi dan
  • tahap-lanjutan, delusi parah kronis dan depresi kejiwaan kronis.

Sindrom Cotard menarik diri orang yang menderita dari orang lain, termasuk mengabaikan kebersihan pribadi nya dan kesehatan fisik. Khayalan negasi dari diri mencegah pasien dari membuat rasa realitas eksternal, menghasilkan pandangan yang menyimpang dari dunia luar. Seperti khayalan dari negasi biasanya ditemukan pada pasien psikotik yang juga menyajikan skizofrenia. Meskipun diagnosis sindrom Cotard tidak memerlukan pasien telah memiliki halusinasi, delusi kuat negasi sebanding dengan delusi ditemukan pada pasien skizofrenia.

Baca Juga:  Gejala Dan Pengobatan Penyakit Kawasaki

Pengobatan

Sebuah Tinjauan (2010) melaporkan pengobatan farmakologis sukses (mono-terapi dan multi-terapi) dengan menggunakan antidepresan, antipsikotik, dan suasana hati menstabilkan obat.

Demikian juga, dengan pasien depresi, terapi electroconvulsive (ECT) lebih efektif daripada farmakoterapi.