Cokelat Hitam, Makanan Nikmat yang Mampu Melawan Penyakit Kardiovaskular

DokterSehat.Com – Pakar kesehatan menyebutkan jika cokelat adalah salah satu makanan yang sangat baik bagi kesehatan kita. Beruntung, cokelat termasuk dalam makanan yang cukup mudah ditemui di berbagai tempat. Salah satu jenis cokelat yang diyakini bisa memberikan banyak manfaat bagi tubuh adalah cokelat hitam, cokelat yang masih murni dan belum tercampur dengan bahan-bahan tambahan lainnya. Cokelat hitam sendiri biasanya memiliki kadar biji cokelat atau kakao hingga 70 persen sehingga memiliki rasa pahit yang cukup dominan dan beraroma cukup pekat.

doktersehat-cokelat-minum

Tahukah anda, cokelat hitam ternyata memiliki senyawa yang sangat baik bagi kesehatan jantung kita. Pakar kesehatan Simin Liu, seorang professor yang berasal dari Brown University, Rhode Island, Amerika Serikat, melakukan sebuah penelitian yang melibatkan sekitar 1.139 responden dan melakukan 19 kali percobaan untuk mengetahui apa saja manfaat yang ditawarkan dari cokelat hitam ini. Hasilnya adalah, cokelat hitam ternyata kaya akan flavanol yang membuat tubuh memiliki sirkulasi yang sangat baik sekaligus menjaga kesehatan sistem kardiovaskular dengan maksimal.

Professor Liu menyebutkan jika di dalam kakao pada cokelat hitam, ada asupan flavanol yang ternyata mampu menurunkan dyslipidemia (peningkatan kadar trigliserida yang kurang baik bagi kesehatan jantung), resistensi insulin, hingga peradangan sistemik. Diketahui bahwa semua hal ini bisa meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular.

Sebagian para partisipan diminta untuk mengkonsumsi cokelat hitam dan sebagian lainnya tidak. Hasilnya adalah, mereka yang mengkonsumsi cokelat hitam ternyata mendapatkan asupan 200 hingga 600 miligram flavanol dalam sehari dan mengalami penurunan glukosa darah dan insulin dengan signifikan. Selain itu, kadar HDL atau kolesterol baik mereka juga meningkat. Para partisipan yang mengkonsumsi cokelat hitam juga mengaalmi penurunan kadar trigliserida sehingga kesehatan organ kardiovaskular mereka pun semakin membaik. Hal ini sama sekali tidak terjadi pada peserta penelitian yang tidak mengkonsumsi cokelat.