Cara Mengenali Korban Sodomi dari Anus Anak

DokterSehat.com –  kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak wajib diwaspadai oleh para orangtua. Seperti tragedi yang menimpa seorang bocah berinisial M (berusia 6 tahun) yang menjadi korban sodomi di sekolahnya oleh pegawai cleaning service. Seharusnya, sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk anak-anak. Apalagi sekolah bertaraf internasional.



Berdasarkan psikolog forensik dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Reza Indragiri Amriel, menyatakan, pemeriksaan dubur untuk mengenali anak-anak korban sodomi sebenarnya tidak membutuhkan prosedur khusus. Pemeriksaan anus bahkan dapat dilakukan hanya dengan mata telanjang.

“Anak atau siapa pun yang telah menjadi obyek penyemburitan atau sodomi akan memiliki anus berbentuk corong. Mirip dengan tabung kaca yang ada pada lampu semprong. Benar-benar bolong seperti tabung. Lewat pemeriksaan mata telanjang, anus berbentuk corong itu bisa langsung dilihat, jadi tak membutuhkan prosedur khusus,” ungkap Reza melalui Kompas.com,  menanggapi rencana pihak kepolisan melakukan pemeriksaan dubur anak jalanan guna mendukung pemberantasan eksploitasi anak terkait kasus pelecehan seksual.

Akibat perlakuan sodomi, lanjutnya, korban biasanya akan mengalami masalah dengan organ pencernaannya, terutama saat buang hajat. “Benar-benar bolong seperti tabung. Efeknya, mereka akan kesulitan menahan buang air besar karena otot-otot penahan pembuangannya sudah rusak,” ujar Amriel.

Amriel menekankan, walaupun tidak dibutuhkan prosedur khusus, pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan dampak psikologis anak-anak yang menjalaninya. Sebelum pemeriksaan, perlu ada pendekatan dan sosialisasi yang tepat kepada anak dan pihak keluarga.

“Terlepas dari itu, jika dilakukan lewat paksaan, bisa kita bayangkan, akan memunculkan perasaan takut dan sejenisnya. Untuk mengatasinya, sekali lagi, awali dengan sesi informasi terlebih dahulu, baik untuk si anak maupun keluarganya,” ujarnya.

Hukum dan Pengadilan Kasus Sodomi Anak

Pengamat Sosiolog Univeristas Indonesia (UI), Devi Rahmawati menyebutkan yang sedikit mengkawatirkan mayoritas, kata dia juga, tindakan pelecehan yang dialami anak itu bukannya hanya dilakukan remaja, orang dewasa, tetapi juga kakek-kakek. Tindakan itu termasuk fase yang kritis atau melanggar HAM berat.

”Ini bukan hanya pidana, tapi HAM berat. Anak dalam pembinaan harusnya dilindungi, bukan dilecehkan,” terangnya melalui INDOPOS (Grup JPNN)

Selain unsur budaya, sambung Devi, sulitnya mengungkap kasus kekerasan seksual pada anak dan membawa pelakunya ke meja hijau diduga karena ’otoritas sosial’ para pelaku lebih tinggi daripada korban. Ditambah dengan lemahnya sistem perundangan untuk menjerat pelaku. Kekhawatiran bakal tidak dipercaya, menjadi kendala pengungkapan kasus kekerasan seksual dengan pelaku sedarah sering terjadi. Apalagi kekerasan seksual di lingkungan keluarga atau asrama sekolah cenderung tanpa saksi mata.

”Keterangan korban di bawah umur tidak bisa diakui dalam sistem perundangan kita. Pelaku umumnya memiliki otoritas lebih tinggi ketimbang korban sehingga korban memilih diam. Pelakunya bisa guru, ayah, atau kakak tiri atau orang lain. Untuk mengungkap, para penyidik biasanya mengandalkan hasil riset laboratorium dan kepiawaian para ilmuwan meyakinkan majelis hakim,” ujar juga.

Korban Menjadi Pelaku

Sedangkan, Pangamat Psikologi Universitas Indonesia (UI), Fitriani F Syahrul menegaskan penyimpangan sosial yang bisa jadi disebabkan oleh depresi yang kemudian menyebabkan rusaknya pola pikir para pelaku pelecehan terhadap anak-anak. Sedangkan kasus perceraian juga menjadi faktor lain penyebab perkosaan di dalam keluarga.

Belum lagi, anak-anak cenderung menelan mentah-mentah ’doktrin’ untuk patuh kepada orang tua. ”Bisa saja pelaku frustrasi dengan kehidupannya sendiri, kemudian mencari pelampiasan kepada orang lain. Bahkan bisa anggota keluarga jadi target. Kata-kata ’nurut orang tua’ ini jadi soft terror. Nah ini yang tidak disadari secara langsung dan membuat pelecehan seksual terhadap anak-anak terjadi,” paparnya.

Baca Juga:  Agar Gairah Seks Tetap Membara, Batasi Asupan Kalori Setiap Hari

Fitriani juga menjelaskan, dampak psikologis pada korban anak-anak biasanya tidak berbeda jika ditinjau dari jenis kelamin. Para korban pelecehan seksual itu cenderung tertutup, sulit beradaptasi, bermuatan energi negatif dan sensitif. Selain karakteristik kepribadian, jenis pelecehan seksual yang dialami juga memberikan dampak yang berbeda.

Seperti pelecehan fisik biasanya meninggalkan trauma yang lebih besar dibandingkan kekerasan pelecehan verbal. Selain itu, frekuensi dan durasi terjadinya pelecehan seksual juga berpengaruh terhadap dampak yang ditimbulkan ketika sang anak besar nanti. Semakin sering frekuensinya, atau semakin lama durasinya, maka trauma yang ditimbulkan pada anak juga semakin besar.

Semakin besar trauma yang ditimbulkan, maka semakin panjang waktu pemulihan yang dibutuhkan.

”Side effect-nya anak mengalami gangguan paranoid, trauma berkepanjangan. Sering kali yang mengalami trauma seperti itu ketika dewasa mereka bermasalah terkait hubungan dengan lawan jenis. Mereka pandangannya jadi negatif pada lawan jenis, karena gangguan psikologis yang berat,” tuturnya.

Yang lebih ironisnya, sambung Fitriani, dampak lain dari efek kekerasan seksual yang diterima anak adalah mereka kelak bisa tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Apalagi jika mereka tidak mendapat penanganan yang baik dan kurang penanaman nilai religiusitas, maka sangat mungkin kelak dirinya akan mempraktikkan tindakan tersebut alias menjadi pedofil.

Selain itu, tingkat kenakalan anak-anak korban kekerasan seksual akan menjurus kepada pergaulan bebas yang mendasar pada perilaku seks menyimpang. ”Perilaku seks anak korban kekerasan ke depan akan menyimpang dan menjurus ke pergaulan bebas. Inilah yang terjadi di negara berkembang, sehingga penyebaran penyakit kelamin hingga HIV terus menjangkit,” cetusnya juga.

Dia juga mengaku, sangat sulit menyembuhkan anak korban kekerasan seksual yang trauma berat. ”Bisa jadi mereka nanti akan menjadi pedopil atau yang lain. Inilah yang harusnya dihindari,” kata Fitriani. Oleh karena itu, lanjut Fitriani, untuk mengembalikan trauma anak yang menjadi korban pelecehan seksual perlu penanganan yang seirus.

Di antaranya, keperdulian keluarga yang mengembalikan rasa percaya diri, terutama pada rasa aman kepada anak untuk bercerita. Utamanya, peran lingkungan agar sang anak korban kekerasan tidak dikucilkan lingkungannya.

”Ya hanya dua itu yang penting. Dukungan dari keluarga dan lingkungan. Jika ini bisa dikendalikan maka efek positif akan dapat ditekan. Selain itu juga perlunya penindakan tegas dari aparat kepolisian untuk menindak keras pelaku pelecehan seksual agar memberikan efek jera dan tindakan kekersan seksual berkurang,” paparnya juga. (cok)

Lima Cara Hindari Kekerasan Seksual Pada Anak

1. Tidak Ada Rahasia
Ajarkan si kecil terbuka menyampaikan perasaannya, saat senang, sedih, takut dan gembira. Jika diperlakuan tak senonoh maka dia akan bercerita.

2. Jangan Kenakan Aksesoris Nama
Hindari aksesoris tertulis nama anak. Bisa saja orang tak dikenal menghampiri, lalu menyebutkan namanya seolah-olah kenal lalu menculiknya.

3. Ajarkan Menjaga Organ Tubuh
Katakan pada anak organ intim mereka tidak boleh dipegang sembarang orang. Jika ada yang memegangnya ajarkan berteriak atau lari.

4. Ajarkan Jangan Percaya Orang Asing
Ceritakan kepada si kecil agar berhati-hati bila bertemu dengan orang yang tidak dikenal dan jangan mau menerima apapun dari orang asing.

5. Mencari Perlindungan
Berikan pemahaman siapa saja orang yang dipercaya dan bisa melindunginya. Serta orang-orang yang bisa diminta bantuan, misalnya guru, polisi dan lainnya.