Cara Kerja Rompi Anti Kanker

Foto: Dwianto Wibowo/TEMPO



DokterSehat.comApa itu kanker? Tentunya sel tubuh memiliki fungsi dan tugas masing-masing. Misal sel usus untuk menyerap dan memilah makanan yang akan diserap oleh tubuh, sel saraf untuk menghantarkan kelistrikan impuls rangsang tertentu, dan lain-lain. Setiap sel memiliki inti sel yang berisi DNA untuk mengatur kerja sel, sifat sel, dan usia sel itu sendiri. Pada sel kanker, kerja DNA kacau, sel beraktivitas dengan tidak terarah.  Tidak ada lagi yang menghentikan regenerasinya sehingga sel itu akan memperbanyak secara tak terkontrol dan ukurannya terus membesar. Usia sel yang seharusnya semisal 120 hari jadi semakin panjang, ukuran sel yang seharusnya misalnya 120 mikron menjadi lebih besar. Regenerasi yang seharusnya dari 1 sel menjadi 2 sel, kini menjadi 4 sel, 8 sel, bahkan ratusan sel.  Itulah yang disebut sel ganas.

Bagaimana cara kerja rompi anti kanker?
Banyak dari kita yang telah mendengar tentang baju elektronik fenomenal yang diklaim dapat menghancurkan sel kanker. Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) yaitu alat pemindai tomografi kapasitansi listrik berbasis medan listrik statis. Awalnya ECVT telah dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional untuk memindai obyek dielektrika pesawat ulang alik selama misi antariksa. Kini Dr. Warsito yang merupakan Doktor (bukan dokter ya, red.) jebolan Shizuoka University mengembanngkan Center of Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology di Tangerang, Banten.

Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa cara kerja ECVT adalah memanfaatkan medan elektronik statis untuk “mengacaukan” sel-sel ganas yang sedang membelah diri sehingga pada akhirnya sel ganas akan mati. Sebelumnya pasien perlu dilakukan pemindaian sel ganas dalam tubuh untuk menentukan posisi dari sel kanker.

Begitu letak sel kanker telah dipresisikan, ECVT akan “menembak” area tersebut agar sel-sel ganas dikacaukan pembelahan dirinya.

Baca Juga:  Sakit Perut Setelah Makan, Apa Yang Terjadi?

Bagaimana hal ini dari kacamata medis?

Kedokteran adalah ilmu dan seni, karena tidak murni “ilmu” saja, melainkan memiliki unsur “seni”, maka setiap orang akan merespon berbeda-beda terhadap penyakit yang bisa saja sama secara keilmuan. Pun juga dengan kanker. Tidak semua kanker dapat merespon terhadap kerja yang sama dari rompi anti kanker ini.  Cara kerja yang menyerupai rompi anti kanker adalah radioterapi. Radioterapi juga membutuhkan presisi lokasi yang tepat dimanakah zat radioaktif ditembakkan untuk “menghancurkan” sel-sel kanker. Namun, sama seperti obat lainnya, radioterapi juga memiliki efek samping, yaitu sel-sel sehat di sekitar sel-sel kanker tak dipungkiri dapat terkena imbasnya. Entah ikut mati, atau terganggu fungsinya, padahal dalam menembakkan zat radioaktif juga sudah diperhitungkan dosis dan posisinya.

Tidak semua kanker sensitif (berespon) terhadap radioterapi. Ada kanker-kanker yang berespon dengan baik, disebut dengan “radiosensitif” dan “radioresponsif” seperti kanker darah. Namun ada juga kanker yang tidak berespon dengan radioterapi disebut dengan “radioresisten”. Masing-masing memiliki kriteria kenapa disebut radiosensitif, kenapa disebut radioresponsif, dan disebut dengan radioresisten.

Itulah mengapa kanker sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Selain setiap orang berespon berbeda-beda terhadap pengobatan kanker, sifat kanker sendiri itu berbeda-beda. Kanker otak tentunya berbeda dengan kanker darah. Kanker usus tentunya berbeda dengan kanker tulang. Dan sulitnya menemukan obatnya karena kekacauan yang terjadi adalah berada di tingkat DNA, berada di inti sel. Bahkan sel saja adalah satuan terkecil dari mahluk hidup.

Namun, tentu kita perlu mengapresiasi pola pikir dan upaya dari penemuan rompi anti kanker yang kini tengah dikembangkan oleh Dr. Warsito. Bagaimana perkembangan selanjutnya? Semoga penemuan ini menuju ke titik terang pengobatan kanker. *UPP