Berminggu-Minggu Menahan BAB, Bocah Ini Akhirnya Meninggal Dunia

DokterSehat.Com– Meskipun memang bisa membuat perut terasa tidak nyaman atau memicu beberapa masalah kesehatan, pakar kesehatan menyebutkan bahwa sangat jarang ditemui kasus kematian yang disebabkan oleh menahan buang air besar. Namun, pada tahun 30 Juni 2015 lalu, diketahui bahwa ada seorang anak yang menderita autisme yang akhirnya harus meninggal dunia karena menahan buang air besar hingga berminggu-minggu. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

doktersehat-virus-zika-anak-sakit-persendian-otot-cacingan-sakit

Pakar kesehatan dr. Niket Sonpal yang merupakan asisten professor klinis dari Tuoro College of Osteophatic Medicine di kota New York menyebutkan bahwa andai orang dewasa kerap menahan buang air besar hingga berjam-jam lamanya, maka kotoran pada perutnya akan cenderung lebih keras sehingga akan lebih sulit untuk dikeluarkan. Namun, andai kita mengkonsumsi obat pencahar, maka masalah susah buang air besar ini biasanya langsung bisa diatasi. Sayangnya, bocah malang yang bernama Emily Titterington ini mengalami kondisi yang berbeda. Tak hanya mengalami autisme, Emily yang berusia 16 tahun ini ternyata memiliki fobia pada toilet sehingga Ia bisa menahan buang air besarnya hingga berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.

Diketahui bahwa sebelum meninggal, Emily ternyata telah tidak buang air besar selama 8 minggu berturut-turut. Karena konsisi ini, usus dalam perutnya pun mengalami pembengkakan hingga akhirnya menekan jantung dan rongga dadanya. Emily sendiri sempat akan diobati namun bocah ini selalu menolaknya hingga akhirnya kondisi ini menyebabkan serangan jantung yang mengambil nyawanya.

Dalam dunia medis, Emily mengalami kondisi yang disebut sebagai stool withholding. Pakar kesehatan dr. Amanda Jeffery sendiri menyebut kondisi ini sebagai hal yang cukup sering terjadi pada anak atau remaja. Namun, andai Emily segera dibawa ke dokter dan mendapatkan penanganan medis yang tepat, Ia sebenarnya masih bisa ditolong. Fobianya pada toilet sebenarnya juga masih bisa disembuhkan. Sayangnya, hal ini ternyata tidak dilakukan dan akhirnya bocah malang ini meninggal dunia.