Berjalan dalam Tidur (Sleepwalking) – Pengertian, Gejala, dan Penyebab

doktersehat-sleepwalking-tidur-berjalan
pic credit: thatedeguy

Berjalan dalam tidur adalah gangguan yang menyebabkan orang untuk bangun dan berjalan saat mereka sedang tidur. Berjalan dalam tidur atau yang sering disebut sebagai sleepwalking, biasanya terjadi ketika seseorang berpindah tahap gelombang tidur, ke dalam tahap gelombang tidur yang lebih ringan atau ke status terjaga. Orang yang mengalaminya tidak dapat merespon rangsangan apapun yang ada disekitarnya.

Pada umumnya, orang yang mengalami tidur sambil berjalan tidak memiliki ingatan atas aktivitas yang dilakukannya. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin berbicara dan melakukan hal yang tidak masuk akal.

Tidur berjalan biasanya terjadi pada masa kecil, di antara usia 4-8 tahun. Namun, orang dewasa juga dapat melakukannya. Terjadinya sleepwalking pada orang dewasa umum terjadi, dan biasanya tidak terkait dengan gangguan psikiatrik maupun psikologis yang signifikan.

Gejala Tidur Sambil Berjalan

Jika Anda bertemu dengan orang yang mengalami tidur sambil berjalan, biasanya dia hanya memandang lurus dan tampak seperti tidak mengenali Anda. Meski mata terbukanya dan ,terlihat seperti terjaga, sesungguhnya dia masih tertidur. Jika Anda mencoba untuk menyapanya, biasanya dia tidak akan merespon atau merespon dengan jawaban meracau.

Gangguan tidur yang terjadi pada orang dewasa dapat melibatkan perilaku yang lebih rumit. Penyakit tidur berjalan pada orang dewasa dapat mengakibatkan gangguan dalam pekerjaan dan hubungan sosial dengan lingkungan sekitar.

Penyebab Tidur Sambil Berjalan

Penyakit tidur sambil berjalan merupakan penyakit yang diwariskan dari genetika keluarga. Jika Anda memiliki orangtua atau saudara yang tidur sambil berjalan, Anda 10 kali lebih mungkin untuk cenderung mengalami sleepwalking daripada mereka yang tidak memiliki riwayat penyakit ini  dalam keluarga. Selain itu, penyakit ini juga lebih cenderung terjadi pada mereka yang kembar identik.

Berikut ini hal-hal yang dapat memicu atau memperparah kondisi Anda:

  • Memiliki jadwal tidur yang tidak teratur
  • Sedang stres
  • Mengonsumsi obat penenang hipnotik (yang mampu membuat relaksasi atau tidur), neuroleptik (digunakan untuk mengobati psikosis), stimulan (yang meningkatkan aktivitas), dan antihistamin (digunakan untuk mengobati gejala alergi).

Kondisi medis yang telah dikaitkan dengan sleepwalking meliputi:

  • Masalah irama jantung
  • Demam
  • Mulas
  • Asma malam hari
  • Kejang malam hari
  • Apnea tidur obstruktif (suatu kondisi di mana Anda berhenti bernapas sebentar saat tidur)
  • Sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome)
  • Gangguan kejiwaan, misalnya, gangguan stres pasca trauma, serangan panik, atau status disosiatif, seperti gangguan kepribadian ganda

Perawatan medis untuk tidur sambil berjalan diperlukan ketika gangguan tidur ini disebabkan oleh masalah medis yang mendasari. Dalam beberapa kasus, beberapa dokter akan meresepkan beberapa obat untuk mengontrol penyakit ini.

Pencegahan Tidur Sambil Berjalan

Tidak ada cara yang diketahui dapat benar-benar mencegah tidur sambil berjalan. Namun, langkah-langkah tertentu dapat diambil untuk meminimalkan risiko, diantaranya:

  • Tidur yang cukup
  • Jangan terlalu stres
  • Cobalah bermeditasi atau melakukan latihan relaksasi
  • Menghindari segala bentuk rangsangan (pendengaran atau visual) sebelum tidur

Sementara itu, berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan agar hal-hal berbahaya tidak terjadi pada Anda:

  •  Menyingkirkan benda-benda tajam di sekitar lingkungan tidur
  • Jika memungkinkan, tidurlah di kasur yang tidak terlalu jauh dengan lantai
  • Kunci pintu dan jendela
  • Tempatkan alarm dekat pintu kamar

Penanganan Tidur Sambil Berjalan

Jika tidur sambil berjalan disebabkan oleh kondisi medis yang mendasari, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), apnea tidur obstruktif, kejang, gerakan kaki periodik, atau sindrom kaki gelisah, masalah tidur sambil berjalan dapat berhenti setelah kondisi medis yang mendasarinya diobati.

Sementara itu, beberapa obat mungkin diperlukan untuk mengurangi risiko cedera yang diakibatan tidur sambil berjalan, diantaranya:

  • Prosom
  • Klonopin
  • Trazodon (Desyrel)

Penggunaan obat-obat di atas dapat dihentikan setelah tidur sambil berjalan sudah menurun intensitasnya. Akan tetapi, penyakit ini justru bisa mengalami peningkatan setelah penggunaan obat terhenti.

Selain penggunaan obat, Anda juga bisa mencoba teknik relaksasi atau pencitraan mental. Cara ini lebih disukai oleh orang-orang dengan gangguan tidur sambil berjalan. Relaksasi dan teknik citra mental paling efektif bila dilakukan dengan bantuan seorang ahli terapi perilaku atau ahli hipnotis. Jika gejalanya berlanjut hingga mencederai diri atau orang lain, maka tindakan lanjutan adalah berkonsultasi dengan spesialis jiwa.

Meski terkesan menakutkan, tidur sambil berjalan bukanlah gangguan yang serius karena kondisi ini dapat diobati secara efektif. Hal terpenting dalam pengobatan penyakit tidur berjalan adalah memastikan bahwa tidak ada gangguan atau penyakit lain yang menyertai penyakit tidur berjalan. Pada beberapa kasus, penyakit tidur berjalan dapat hilang sendirinya.

ikuti-kontes-sehatitubaik-menangkan-berbagai-hadiah-menarik