Benarkah Stress Bisa Memicu Kebotakan?

DokterSehat.Com– Stress memang bisa memberikan banyak dampak buruk bagi kesehatan tubuh. Bahkan, stress juga mampu mempengaruhi penampilan kita. Telah ada penelitian yang membuktikan bahwa stress memang bisa membuat rambut kita beruban. Bahkan, cukup banyak orang yang percaya jika stress bisa membuat kita mengalami kebotakan. Apakah hal ini benar adanya?

doktersehat-rambut-rontok-botak-kebotakan-alopecia

Dalam sebuah penelitian, disebutkan bahwa stress ternyata memang berperan besar pada masalah kebotakan. Tercatat, 6,7 hingga 96 persen  penyebab dari kebotakan ternyata adalah stress, khususnya stress psikososial. Stress jenis ini disebabkan oleh ancaman yang berasal dari lingkungan sosial layaknya tertekan akibat kesuksesan rekan kerja lainnya atau perasaan ditinggalkan para sahabat yang sebelumnya kerap berkumpul bersama. Stress psikososial ini akan membuat penderitanya terasing, kesepian, dan tidak memiliki dukungan. Tak disangka, hal ini bisa berimbas pada kerontokan rambut yang cukup parah.

Pakar kesehatan menyebut tiga jenis kebotakan yang dipicu oleh stress yakni alopecia areata, telogen effluvium, dan trikotilomania. Untuk kebotakan berjenis alopecia areata, stress akan menyebabkan peradangan yang akhirnya berimbas pada penyakit autoimun yang memicu kerontokan rambut yang cukup parah. Biasanya, kebotakan ini  memiliki pola melingkar dan merata di seluruh kepala. Untuk jenis kebotakan telogen effluvium, maka kita akan mengalami kerontokan yang sangat parah, yakni lebih dari seratus helai rambut dalam sehari. Sementara itu, kebotakan berjenis trikotilomania terjadi karena kebiasaan menjambak rambut sendiri saat stress atau merasa cemas yang membuat rambut dan kulit kepala mengalami kerusakan.

Untuk mencegah kebotakan saat terkena stress, pakar kesehatan menyarankan kita untuk selalu tidur dengan waktu yang cukup, mengkonsumsi makanan bergizi, khususnya yang kaya protein, dan memperbanyak air minum. Beberapa jenis makanan yang baik bagi rambut adalah sayur bayam, tahu, kacang-kacangan, susu, serta teh hijau.