Belajar Musik Bikin Bayi Cerdas

Doktersehat.com – Sebuah riset kembali menemukan manfaat musik bagi perkembangan otak bayi. Kajian para ilmuwan dari McMaster University mengindikasikan, melatih anak sejak dini bermain musik dapat memberikan manfaat, bahkan sebelum mereka dapat berjalan atau bicara.



Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas mengenalkan musik kepada janin, bayi dan anak, misalnya memperdengarkan musik, bernyanyi secara teratur atau bahkan memainkan alat musik akan memberikan banyak manfaat karena baik bagi pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Pengenalan musik ke anak sejak dini dapat memupuk banyak keterampilan yang akan terus bermanfaat bagi anak sepanjang hidupnya.

Peneliti menemukan bahwa bayi berusia satu tahun yang berpartisipasi dalam kelas musik interaktif bersama orang tua mereka cenderung lebih sering tersenyum, berkomunikasi lebih baik dan menunjukkan respons otak yang lebih prima terhadap musik.

Musik yang memiliki beragam komponen suara, nada, dan irama dapat merangsang pembentukan sel-sel otak janin di usia 26 minggu karena pada usia tersebut janin sudah bisa memberikan respon pada stimulasi suara yang didengar

“Sebelumnya, banyak riset tentang pelatihan musik hanya berfokus pada anak yang berusia lebih tua,” kata Laurel Trainor, selaku direktur McMaster Institut for Musik and the Mind.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa otak bayi mungkin sangat plastik (elastis) berkaitan dengan paparan musik,” ujar Trainor yang mempublikasikan temuannya dalam jurnal ilmiah Developmental Science and Annals of The New York Academy of Sciences..

Dalam risetnya, Trainor bekerjasama dengan David Gerry, seorang pengajar musik dan mahasiswa pascasarjana, yang menerima penghargaan dari Yayasan Grammy tahun 2008 untuk mempelajari efek dari pelatihan musik pada bayi. Dalam studi terakhirnya, Trainor dan Gerry melibatkan selompok bayi dan para orang tua untuk berpartisipasi dan menghabiskan waktu selama enam bulan mengikuti kelas musik setiap minggunya. Kelas musik tersebut terbagi kedalam dua jenis.

Pada kelas interaktif pertama, orang tua dan bayi terlibat dalam segala hal tentang musik seperti misalnya bernyanyi dan bermain alat musik. Orang tua dan bayi juga saling bekerja sama untuk belajar bermain instrumen perkusi, bergantian dan menyanyikan lagu-lagu tertentu.

Di kelas musik lainnya, bayi dan orang tua bermain berbagai jenis mainan atau boneka sambil mendengarkan iringan musik sebagai latar belakang. Sebelum kelas dimulai, semua bayi telah menunjukkan komunikasi dan perkembangan sosial yang sama.

“Bayi yang berpartisipasi dalam kelas musik interaktif bersama dengan orang tua mereka memiliki sensitivitas dalam mengenali struktur nada,” kata Trainor.

“Sementara bayi yang hanya pasif mendengarkan musik tidak menunjukkan preferensi yang sama. Bahkan otak mereka merespon musik secara berbeda. Bayi dari kelas musik interaktif menunjukkan respons otak yang lebih besar terhadap alunan nada pada musik,” ujarnya.

Bayi dari kelas musik interaktif juga dapat merangsang keterampilan komunikasi yang lebih baik di awal, seperti menunjuk benda-benda yang berada di luar jangkauan, atau melambaikan tangan. Secara sosial, bayi-bayi juga tersenyum lebih banyak, lebih mudah untuk ditenangkan, dan sedikit mengalami gangguan bila ada hal-hal yang dianggap asing oleh mereka.

“Ada banyak cara untuk agar orang tua dapat terhubung dengan bayi mereka,” kata koordinator studi, Andrea Unrau.

“Hal terbesar tentang musik adalah semua orang menyukainya dan semua orang bisa belajar permainan musik interaktif yang sederhana secara bersama-sama,” tutupnya.

Sumber : kompas.health.com & informasitips.com