Bekerja Terlalu Berlebihan, Masyarakat Jepang Rentan Bunuh Diri

DokterSehat.Com – Salah satu ciri khas masyarakat Jepang yang dikenal luas di seluruh dunia adalah budaya kerja kerasnya yang luar biasa. Masyarakat Jepang bekerja jauh lebih keras dan bahkan bisa melakukannya dalam waktu yang sangat lama tanpa mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Melihat begitu besarnya tenaga yang diforsir sekaligus tingginya tekanan kerja di Negeri Matahari Terbit tersebut, pakar kesehatan pun menyebutkan jika masyarakat Jepang memiliki resiko besar terkena berbagai masalah kesehatan. Apa sajakah masalah kesehatan itu?

doktersehat-overtime-sibuk-kerja-lembur-stress-memunda-pekerjaan-wanita-resiko-jantung-resiko-kesehatan-wanita-karir

Pakar kesehatan menyebutkan jika jam keja minimal di Jepang bisa mencapai 12 jam setiap harinya. Meskipun terlihat tidak masuk akal, dalam realitanya sebagian besar perusahaan di Jepang menerapkan jam kerja ini karena memang tuntutan produksi yang sangat tinggi. Alhasil, karyawan di sana rata-rata bekerja lebih dari 60 jam seminggu. Mereka juga cenderung jarang mengambil libur atau jatah cuti. Karena hal ini, banyak karyawan di Jepang pada mengalami stress, kelelahan, sekaligus tertekan. Di Jepang sendiri, kondisi ini memunculkan istilah karoshi yang berarti mati akibat terlalu banyak bekerja.

Kementerian Tenaga Kerja Jepang menyebutkan jika sejauh ini sudah ada 200 kematian yang disebabkan oleh karoshi. Penyebabnya pun macam-macam, dari yang berupa serangan jantung, stroke, atau bahkan bunuh diri karena tak sanggup lagi hidup dengan kondisi seperti ini. The Washington Post menyebutkan jika wanita dengan usia 20 tahunan sangat rentan terkena karoshi dengan angka bunuh diri para wanita Jepang dalam empat tahun terakhir meningkat hingga 39 persen.

Pengacara Hiroshi Kawahito bahkan menyebutkan jika banyak pekerja di Jepang yang baru berusia awal 30an sudah mengalami serangan jantung. Hiroshi bahkan menyebutkan jika angka karoshi per tahun di negara tersebut sudah mencapai 2.310 kasus, jauh lebih tinggi dari data Kementerian Tenaga Kerja. Melihat adanya fakta mengerikan ini, Pemerintah Jepang sedang berusaha mengubah budaya kerja yang sangat berlebihan ini dan mulai meminta karyawan untuk lebih banyak mengambil waktu berlibur.