Beberapa Mitos Tentang Selaput Dara

DokterSehat.Com – Indonesia adalah salah satu negara dimana kultur Ketimurannya masih dijunjung dengan sangat tinggi. Salah satu jenis kultur Ketimuran yang masih dijaga ketat oleh masyarakat adalah tentang bagaimana perempuan haruslah menjaga keperawanan hingga mereka menikah. Disamping karena faktor agama, menjaga keperawanan sering kali dianggap sebagai sebuah kehormatan bagi kaum wanita. Dalam dunia medis, keperawanan diasosiasikan dengan selaput dara pada organ vital wanita. Berikut adalah beberapa mitos masyarakat yang berhubungan erat dengan kultur keperawanan yang diyakini oleh masyarakat.



Keperawanan kerap kali dikaitkan dengan pendarahan saat berhubungan intim dengan suami pertama kali. Padahal, dalam dunia medis, hal ini tidak selalu berlaku benar sama sekali karena banyak wanita yang tidak mengalami pendarahan sama sekali meskipun belum pernah melakukan hubungan intim sebelumnya. Bentuk dari selaput dara yang berbeda-beda pada organ intim wanita menjadi penyebab hal ini. Jangan terkecoh dengan anggapan bahwa wanita yang tidak mengalami pendarahan adalah wanita yang kurang baik-baik karena ternyata mitos ini tidak selalu benar adanya. Selain itu, wanita yang melakukan aktifitas fisik yang banyak di waktu muda maupun kecelakaan bisa membuat selaput dara menjadi robek dan membuatnya seakan-akan tidak lagi perawat.

Bentuk selaput dara yang berbeda-beda pada wanita juga mempengaruhi bentuk lubang dan pori-pori di organ intim wanita sehingga tingkat kelembutan dan fleksibilitas dari selaput dara pun berbeda-beda. Ada selaput dara yang berbentuk melingkari lubang vagina yang disebut annular hymen, ada juga yang memiliki beberapa lubang terbuka yang disebut sebagai septate hymen, dan selaput dara dengan lubang kecil yang sangat banyak yang disebut cibriform hymen.

Yang lebih mengejutkan ternyata tidak semua wanita memiliki selaput dara sejak lahir! Memang, hanya sangat sedikit kemungkinan wanita lahir tanpa selaput dara. Namun, hal ini tentu bisa menjadi dasar jika ternyata perempuan tidak mengalami pendarahan saat melakukan hubungan intim dengan suami. Hal ini berarti, kita harus lebih bijak dalam menghadapi mitos tentang keperawanan pada masyarakat.