Beberapa Hal Penyebab Depresi

Doktersehat.com- Pernahkah Anda berfikir, apa yang begitu mudah menyebabkan diri Anda stres? Bisa jadi deadline dari pekerjaan, masalah asmara, atau permasalahan hidup sehari-hari yang cukup sensitif. Walau terdengar sederhana, para ahli menganggap kejadian sehari-hari tersebut dapat menyebabkan reaksi-reaksi di dalam tubuh yang melemahkan kondisi mental dan memicu depresi.



Orang-orang yang depresi lebih merasa seperti gagal dan hanya melihat sedikit harapan dalam kehidupan mereka. Gejala depresi sangat bervariasi tergantung masing-masing individu. Sebuah depresi dapat dikategorikan ringan, sedang, dan berat. Tergantung dari intensitas gejala.

Depresi secara umum dikondisikan dengan gejala seperti perasaan tidak bahagia yang menyita sebagian besar waktu, munculnya perasaan lelah walau tidak beraktivitas, serta hilangnya energi.

Depresi juga dapat menyebabkan menghilangnya semua minat, bahkan pada kegiatan menyenangkan sekali pun. Selain menurunnya gairah seksual, hilangnya nafsu makan, rendahnya perhatian dan konsentrasi, terganggunya pola tidur, kinerja buruk, munculnya keinginan untuk menyendiri bahkan bunuh diri.

Semua kondisi tersebut dapat muncul dikarena keadaan yang menekan sehingga menghilangkan kepercayaan diri, rasa putus asa, ketidakberdayaan, dan merasa tidak berharga.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan depresi. Berikut beberapa faktor penyebab depresi:

1. Kepribadian rapuh
Individu yang retan terhadap depresi adalah individu yang tidak memiliki kepribadian yang kuat dan pengalaman hidup yang menyakitkan sebelumnya. Bahkan, kegagalan dalam pekerjaan atau hubungan percintaan mereka dapat menjadi penyebab munculnya depresi.

2. Kemarahan yang tersembunyi
Orang yang depresi merasa dikecewakan oleh orang lain yang dianggap penting dalam kehidupan mereka. Namun, mereka merasa tidak nyaman dalam mengekspresikan kemarahan dan takut jika kemarahan itu akan menyakiti orang tersebut atau merusak hubungan mereka.

Seringkali, orang-orang tersebut mengekspresikan kemarahan mereka kepada diri sendiri sehingga menyebabkan kebencian pada diri dan depresi.

3. Orang dengan pola berpikir negatif
Orang-orang yang depresi kerap berpikir negatif tentang diri mereka sendiri. Merasa mereka tidak berguna dengan berpikir bahwa tidak ada yang peduli dengannya, dan merasa kehidupannya tidak mengalami perubahan yang baik.

Baca Juga:  Rumah Sakit Setia Mitra

Orang yang depresi cenderung fokus pada pengalaman pahit dan mengesampingkan pengalaman-pengalaman positif. Perhatian yang berlebihan pada pengalaman negatif akan mengarah pada keputusasaan.

4. Penyebab medis
Depresi dapat muncul karena beberapa pengobatan yang mengakibatkan kelaian pada sistem neurotransmitter monoamine, terutama serotonin, adrenalin, dan dopamin yang berhubungan dengan munculnya stres.

Penelitian terbaru menyatakan depresi yang kita alami bisa didiagnosis hanya dari bagaimana intensitas kita ‘berselancar’ di internet. Spesifiknya, orang yang depresi menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggunakan internet, terutama untuk chatting atau ngobrol secara online dan melakukan aktivitas seperti berbagi foto, lagu atau video.

Studi yang diikuti 216 mahasiswa tersebut memantau penggunaan internet partisipan secara aktual dan mengkorelasikan pola-pola tertentu dengan sistem skor lebih tinggi pada penderita depresi.

Peneliti meminta sukarelawan untuk menjawab survei berisi beberapa pertanyaan yang dirancang untuk mencari berbagai gejala depresi. “Pertanyaannya pun dibuat sedemikian rupa sehingga partisipan tak menyadari bahwa peneliti tengah mencari kadar depresi dalam dirinya,” ujar Sriram Chellappan, asisten profesor ilmu komputer di Missouri University of Science and Technology seperti dilansir dari msnbc, Senin (21/5/2012).

Kemudian, peneliti mengamati penggunaan internet partisipan dengan memantau apa yang partisipan lakukan setiap kali login ke server universitas.

Chellappan pun menekankan bahwa survei dan pemantauan internet ini dilakukan secara anonim. Setiap partisipan diberi nama samaran di awal studi dan dari situ setiap partisipan hanya bisa diidentifikasi dengan nama fiktif tersebut.

Bagi Chellappan, temuan baru ini bisa jadi pelopor sistem peringatan dini atau semacam alarm yang dapat memberitahukan kepada kita tentang kecenderungan depresi tersebut.

Sementara penelitian lain telah mengkorelasikan bahwa terlalu lama menggunakan komputer bisa menyebabkan masalah kesehatan mental, Chellappan justru melihat pola penggunaan internet ini sebagai salah satu gejalanya.

Faktanya, Chellappan tertarik untuk memperluas penelitiannya dengan mencari tahu hubungan antara penggunaan internet dan sejumlah masalah kesehatan mental.

Sumber:detikhealth.com&gejleg.com