Batuk Rejan (Pertusis) – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Batuk rejan adalah salah satu jenis batuk yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis, yang penularannya dapat disebarkan melalui udara ketika ada penderita. Pertusis atau batuk rejan merupakan penyakit yang rentan menyerang siapapun terutama anak-anak. Tak jarang, pertusis mampu menimbulkan kematian akibat gagal napas yang diakibatkannya. Pertusis juga mampu menghambat proses tumbuh kembang anak.

doktersehat-batuk-keracunan-gas-monoksida-rejan-pertusis-Pneumonia-Atipik

Penyebab
Bakteri yang menyebabkan batuk rejan berbentuk rambut seperti struktur kecil bulu saluran napas kita.  Ketika batuk dan bersin, maka bakteri tersebut dapat terlepas dari saluran napas untuk terbang di udara. Bakteri teresebut dinamaan Bordetella pertusis.

Penyebaran penyakit 3 minggu setelah batuk dimulai. Penyakit biasanya berlangsung 6 sampai 12 minggu.

Gejala
Pertusis yang dalam bahasa inggris disebut dengan “whooping cough” atau juga batuk rejan, dimulai dengan gejala seperti flu biasa. Setelah 1–2 minggu, gejala tersebut semakin berat terutama pada gejala batuk. Penderita menjadi sulit bernapas. Batuk pun diiringin dengan tarikan napas panjang (whooping) dan pada bayi seringkali disertai dengan henti napas.

Batuk rejan dapat menyebabkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa, terutama pada bayi. Mungkin gejala akan lebih ringan pada orang dewasa. Mengetahui gejala dapat membantu orangtua maupun penderita didiagnosis secara tepat sehingga dapat memulai pengobatan lebih cepat dan tepat. Kebanyakan penderita pertusis adalah anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi DPT sehingga jelas pasti ketika pemeriksaan, dokter bertanya tentang riwayat imunisasi pada anak.

Komplikasi yang Dapat Muncul
Batuk rejan ini mampu memberikan komplikasi kepada organ lainnya seperti:

  • Pneumonia pada paru. Mengingat pertusis adalah penyakit pada saluran napas, maka 10% penderitanya mampu mengalami pneumonia. Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan rontgen toraks untuk melihat kondisi paru-paru penderita.
  • Batuk akan meningkatkan tekanan intratekal pada tubuh. Tekanan yang meningkat itu akan meningkatkan tekanan di dalam rongga perut sehingga beberapa organ dapat keluar dari kantong pembungkusnya. Hernia dapat hilang sendiri jika derajatnya belum berat setelah pertusis reda. Jika hernia telah menetap meskipun pertusis telah reda, maka hernia dapat diatasi dengan operasi.
  • Kurang gizi
  • Kejang terjadi karena pertusis mampu mengganggu jalan napas sehingga otak kekurangan oksigen dan berakhir dengan kejang.
Baca Juga:  Migrain - Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksin DPT. Namun, vaksin DPT ini tidak berlangsung seumur hidup melainkan hanya bertahan beberapa periode saja sehingga vaksinasi diberikan selama beberapa kali. Anak perlu divaksinasi pada usia ini:

  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6 bulan
  • 15 sampai 18 bulan
  • 4 sampai 6 tahun

Imunitas akan semakin melemah dari waktu ke waktu. Kasus biasanya berkembang pada anak-anak antara 11 dan 18 bulan. Orangtua dapat menjaga anak tetap aman dengan vaksin booster DPT yang diberikan pada usia 15–18 bulan.

Pengobatan
Selain penderita, keluarga yang tinggal serumah perlu diberikan antibiotik profilaksis yaitu ibu hamil dan bayi yang berusia kurang dair 1 bulan. Antibiotik pilihan adalah eritromisin selama 10 hari, atau jenis antibiotik makrolida lainnya. Antibiotik tidak memperpendek masa sakit tetapi memperpendek masa infeksius (masa penularan). Antibiotik akan memperpendek masa infeksius yang tadinya 3 minggu menjadi 5 hari saja. Antibiotik tidak diberikan pada penyakit yang telah berlangsung di atas 3 minggu karena masa infeksius telah lewat.

Oksigenasi perlu diberikan apabila penderita tampak kebiruan atau ada tanda-tanda gagal napas. (dr Ursula Penny)