Toksoplasma, Penyakit Berbahaya yang Mengintai Ibu Hamil

Doktersehat - Toksoplasma
Photo Credit: Flickr.com/cs.k24klik

DokterSehat.Com– Penyakit toksoplasma adalah salah satu penyakit sering dibicarakan oleh ibu hamil. Banyak mitos yang beredar di masyarakat menghubung-hubungkan penyakit ini dengan kucing. Lalu, bagaimana sebenarnya asal muasal penyakit ini bisa menyerang manusia?

Infeksi toksoplasma atau toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii (T. gondii). Penyakit ini tidak berbahaya, tetapi dapat menyebabkan masalah serius ketika Anda mengalaminya saat hamil.

Toksoplasma tidak dapat menyebar dari orang ke orang. Namun, bisa menyebar dari ibu ke bayi dalam kandungan selama kehamilan atau dari transfusi darah atau organ yang terinfeksi dengan parasit toksoplasma.

Penyakit ini dapat membahayakan kesehatan ibu hamil karena dapat menginfeksi plasenta dan janin di dalam kandungan, yang pada akhirnya bisa menyebabkan keguguran, kerusakan otak dan bayi lahir mati.

Penularan Toksoplasma pada Manusia

Banyak orang mengira bahwa toksoplasma hanya disebarkan oleh kucing. Faktanya toksoplasma ditularkan oleh protozoa Toksoplasma gondii yang ditularkan melalui daging dan kotoran hewan yang terinfeksi.

Toksoplasma biasanya menulari orang yang suka memakan daging mentah, tidak menjaga kebersihan badan serta lingkungan, kontak langsung dengan tinja kucing yang terinfeksi atau  tanah yang terkontaminasi tinja kucing.

Infeksi dapat terjadi ketika Anda menyentuh bahan-bahan yang terkontaminasi parasit lalu menyentuh mata, mulut, ataupun hidung. Mereka yang memelihara kucing berisiko terpapar oleh parasit ini.

Oleh karena itu, setelah Anda menyentuh hewan biasakan untuk selalu mencuci tangan. Semakin tua usia kehamilan, semakin tinggi resiko terinfeksi parasit. Sering kali penyakit toksoplasma ini tidak memberikan gejala sama sekali, namun risiko janin terkena toksoplasma mencapai 40 %.

Selain itu, semua hewan berdarah panas dapat menjadi inang dari parasit T. gondii ini. Jadi, tidak hanya kucing tapi anjing, kelinci, bebek hingga ayam. Virus toksoplasma dapat berkembang biak secara daur seksual (skizogoni) atau daur aseksual (gametogoni dan sporogoni) di usus halus kucing yang kemudian akan menghasilkan ookista.

Ookista ini berbentuk seperti telur kemudian keluar melalui kotoran kucing yang terinfeksi, setelah itu telur tersebut kemudian menetas dan kemudian dapat hidup dalam otot (daging) manusia dan berbagai hewan lainnya.

Selain lewat hewan berdarah panas, penularan juga dapat melalui makanan dan kotoran hewan. Terutama jika Anda adalah seorang yang gemar memakan daging mentah dari daging hewan yang terinfeksi, lalapan yang dimakan mentah dan tidak di cuci bersih serta tangan yang tidak dibersihkan dari tanah yang terinfeksi.

Dari tanahlah virus toksoplasma dapat menyebar melalui hewan, tumbuh-tumbuhan atau sayuran yang kontak dengan ookista tersebut.

Diagnosis Toksoplasma pada Ibu Hamil

Ketika ibu hamil menunjukkan hasil tes darah yang menyatakan diirinya terkena infeksi toksoplasma, maka ada beberapa tes untuk memeriksa apakah infeksi juga menular pada janin. Beberapa tes tersebut adalah:

  • Pada prosedur ini, dokter akan mengambil sampel air ketuban penderita saat usia kehamilan di atas 15 minggu. Dengan tes ini bisa segera diketahui apakah janin terinfeksi atau tidak.
  • Uji ultrasound. Pada pengujian ini, dokter akan melihat akibat infeksi pada janin seperti adanya kumpulan cairan pada otak (hidrosefalus). Bila ternyata janin tampak normal, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan pada bayi setelah lahir.

Setelah proses melahirkan, bayi akan menjalani pemeriksaan untuk melihat adanya kerusakan dari infeksi, serta tes darah untuk memastikan apakah bayi masih mengidap infeksi.

Toksoplasma dan Masa Menyusui

Toksoplasma pada bayi diketahui dapat menyebar saat kehamilan. Namun, bagaimana jika virus tokso ini menyerang saat sedang menyusui, apakah hal ini dapat membahayakan bayi? Jawabannya adalah tidak.

Anda tetap dapat menyusui bayi ketika Anda dinyatakan mengalami infeksi toksoplasma. Hal ini karena virus toksoplasma tidak dapat menyebar ke bayi melalui air susu ibu (ASI).

Walaupun Anda dapat terkena toksoplasma karena konsumsi susu kambing yang tidak dipasteurisasi, namun parasit Toxoplasma gondii yang menyebabkan toksoplasma tidak pernah ditemukan terkandung dalam ASI.

Virus ini bisa berpindah ke bayi jika puting payudara Anda lecet dan berdarah atau terjadi peradangan di payudara selama beberapa minggu menyusui. Sementara itu, bagi Anda yang pernah menderita toksoplasma beberapa tahun sebelum Anda menyusui, Anda tetap dapat memberikan ASI kepada bayi tanpa khawatir bayi akan terinfeksi parasit ini.

Pada dasarnya, ASI berguna untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi dan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Jika Anda masih khawatir, tidak ada salahnya Anda diskusikan dengan dokter Anda mengenai pilihan Anda untuk menyusui atau tidak.

Efek Toksoplasma pada Ibu Hamil

Sekitar setengah dari wanita yang terinfeksi toksoplasma dapat menularkan infeksi melintasi plasenta ke janin in utero. Transmisi penyakit ke janin lebih jarang terjadi pada awal kehamilan, namun infeksi pada awal kehamilan ini dapat menyebabkan gejala yang lebih parah pada janin, meskipun sang ibu tidak merasakan tanda dan gejala infeksi toksoplasma.

Meski begitu, infeksi virus toksoplasma dapat mendatangkan gejala-gejala seperti, kelelahan, sakit kepala, flu, dan nyeri otot. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa terjadi saat ibu hamil terinfeksi virus toksoplasma, antara lain:

  • Pembengkakan kelenjar getah bening

Pembengkakan kelenjar getah bening merupakan reaksi tubuh terhadap adanya suatu infeksi. Dalam kasus ini, infeksi sendiri terjadi akibat invasi dari parasit Toxoplasma gondii. Akibatnya kelenjar getah bening akan mengalami fungsi melawan penyebab infeksi hingga dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar.

  • Keguguran

Pada umumnya, virus toksoplasma yang menyerang ibu hamil berasal dari infeksi primer. Hal ini bisa terjadi pada sekitar 12 minggu awal kehamilan atau 3 bulan awal kehamilan.

Darah ibu hamil yang sudah terinfeksi parasit Toxoplasma gondii bisa menembus plasenta yang kemudian menimbulkan infeksi. Infeksi yang terjadi pada plasenta ini menyebabkan plasentitis. Plasentitis kemudian menyebabkan keadaan plasenta tidak sehat dan menjadi faktor risiko tidak dapat tumbuhnya plasenta dan janin—yang pada akhirnya dapat menyebabkan keguguran.

Selain dapat menyebabkan keguguran pada ibu hamil di trimester awal, toksoplasma juga bisa menyebabkan janin mengalami cacat bawaan.

  • Hidrosefalus pada janin

Infeksi janin saat masih di dalam kandungan dapat menyebabkan radang pada jaringan otak janin. Akibatnya, hal itu bisa mengakibatkan anak mengalami hidrosefalus.

Hidrosefalus merupakan keadaan di mana bayi mengalami peningkatan tekanan di dalam tengkorak dan kemudian menekan otak. Seiring waktu, pertumbuhan kepala bisa semakin membesar dan dapat memengaruhi fungsi kognitif dan mental pada masa pertumbuhan.

Bayi-bayi dengan hidrosefalus, memiliki mata yang terlihat seperti memandang ke bawah dan otot-otot kaki terlihat kaku, serta rentan mengalami kejang. Gejala-gejala hidrosefalus bawaan lainnya adalah mudah mengantuk, mual, rewel, dan susah makan.

  • Gangguan mata

Gangguan mata pada bayi terjadi akibat infeksi yang menembus plasenta dan menginfeksi organ mata. Infeksi tersebut menyebabkan gangguan pada retina mata sehingga dapat menyebabkan terganggunya fungsi penglihatan. Kelanian mata lain yang sering terjadi seperti, penglihatan kabur, mata juling, nistagmus bahkan katarak pada bayi.

  • Lahir prematur

Infeksi virus toksoplasma pada ibu hamil menyebabkan plasenta menjadi radang plasentitis dan menyebabkan terjadinya kelahiran dini. Meski begitu, kelahiran prematur tidak hanya disebabkan oleh penyakit toksoplasma saja, ada faktor lain yang bisa menyebabkan kejadian bayi lahir prematur.

Jika infeksi sudah terjadi pada trimester awal dan tidak terjadi keguguran, maka pada saat bertahan hingga lahir prematur, bayi perlu diperiksa kesehatannya secara keseluruhan karena bisa saja bayi mengalami cacat lahir bawaan akibat terjadinya infeksi pada masa pembentukan organ.