Bagaimana Anemia Bisa Terjadi?

DokterSehat.Com – Anemia atau kurang darah adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang berperan dalam mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.



Akibat dari anemia adalah transportasi sel darah merah akan terganggu dan jaringan tubuh si penderita anemia akan mengalami kekuranga oksigen guna mengahasilkan energi. Maka tidak mengeherankan jika gejala anemia ditunjukan dengan merasa cepat lelah, pucat, gelisah, dan terkadang sesak. Serta ditandai dengan warna pucat di beberapa bagian tubuh seperti lidah dan kelopak mata.

Penyebab umum dari anemia antara lain; kekurangan zat besi, pendarahan usus, pendarahan, genetik, kekurangan vitamin B12, kekuarangan asam folat, gangangguan sunsum tulang.

Anemia dan gejala jantung

Orang yang mengalami anemia cenderung kekurangan oksigen dalam darah mereka. Hal ini mengakibatkan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa oksigen yang cukup untuk organ-organ di tubuh. Gejala-gejala yang berhubungan dengan jantung dan anemia adalah aritmia (detak jantung tidak normal), sesak napas, dan nyeri dada.

Anemia pada anak

Sekitar satu dari tujuh anak diketahui mengembangkan anemia pada umur dua tahun. Kebanyakan dari mereka yang terkena anemia diketahui akibat kekurangan asupan zat besi. Mereka yang kekurangan zat besi dan mengalami anemia cenderung mengonsumsi makanan-makanan yang tidak sehat. Jika tidak diatasi, anemia bisa mempengaruhi perkembangan otak anak secara permanen.

Anemia pada remaja

Jika anak remaja anda sering merasa lelah, mungkin dia sedang terkena anemia. Para remaja berisiko mengalami anemia karena mereka sedang dalam proses pertumbuhan yang begitu signifikan. Gadis remaja juga lebih rentan terhadap anemia karena periode menstruasi mereka.

Anemia aplastik

Anemia aplastik adalah gangguan langka di mana sumsum tulang tidak membuat sel-sel darah yang cukup untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Anemia aplastik mempengaruhi hanya sekitar tiga dalam satu juta orang. Hal ini dapat disebabkan oleh radiasi tingkat tinggi, paparan bahan kimia tertentu, virus, atau gangguan autoimun di mana tubuh menyerang sumsum tulang. Sekitar satu dari lima kasus diwariskan pendahulunya. Dalam kasus yang parah, seseorang memerlukan transfusi darah atau bahkan transplantasi sumsum tulang.

Anemia sel sabit

Anemia sel sabit adalah kelainan bawaan di mana tubuh menghasilkan bentuk hemoglobin yang tidak normal. Hal ini menyebabkan sel darah merah berubah dari bulat menjadi bentuk sabit dan membuatnya terjebak bersama-sama. Hal ini membuat sel darah merah kesulitan untuk melewati pembuluh darah, menyebabkan rasa sakit dan kerusakan jaringan tubuh. Sel-sel darah merah juga mati lebih cepat daripada sel-sel darah merah normal.

Gejala anemia

Jika Anda sering merasa lelah meskipun anda telah tidur dengan cukup atau anda tidak memiliki energi untuk beraktivitas, anda mungkin sedang mengalami anemia. Hal ini dapat menjadi masalah terhadap memori atau suasana hati anda. Gejala anemia ditandai mulai dari yang ringan hingga yang mengancam nyawa, beberapa diantaranya adalah lemas, pusing, kulit pucat, sakit kepala, tangan dan kaki terasa dingin atau mati rasa, dan suhu tubuh rendah.

Faktor resiko anemia

Wanita dan orang dengan penyakit kronis memiliki risiko terbesar untuk mengalami anemia. Ketika wanita kehilangan darah saat periode menstruasi yang berat, mereka mungkin mengalami anemia. Kehamilan juga bisa memungkinkan perubahan volume darah seorang wanita yang pada akhirnya dapat menyebabkan anemia. Penyakit kronis seperti penyakit ginjal dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk membuat sel darah merah. Kekurangan asupan zat besi, folat, atau vitamin B12 juga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena anemia. Selain itu, ada beberapa jenis anemia yang disebabkan karena faktor keturunan.

Penyebab anemia

  1. Kekurangan zat besi
    Kekurangan zat besi sering dikaitkan dengan anemia. Zat besi yang terkandung pada tumbuh-tumbuhan dan suplemen tidak diserap dengan baik layaknya pada daging merah. Gangguan pencernaan seperti sindrom Crohn (Crohn’s disease), penyakit celiac, atau proses bypass lambung dapat menghambat penyerapan zat besi. Ada beberapa makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi ketika makanan-makanan ini dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung zat besi. Makanan-makanan tersebut adalah produk susu, makanan berkalsium, suplemen kalsium, antasida, kopi, dan teh.
  1. Kekurangan vitamin
    Tubuh membutuhkan vitamin B12 dan folat untuk membuat sel darah merah. Kekurangan asupan kedua vitamin ini bisa menyebabkan anemia. Gangguan autoimun atau masalah pencernaan juga dapat mencegah tubuh dalam menyerap vitamin B12. Makanan hewani dan sereal merupakan sumber yang baik dari vitamin B12. Folat (vitamin B9) bisa ditemukan pada sayuran berdaun hijau, buah-buahan, kacang kering, kacang polong, dan lain sebagainya.
  1. Penyakit kronis
    Penyakit kronis atau infeksi dapat menyebabkan tubuh untuk membuat lebih sedikit sel darah merah. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan hemoglobin. Jika anda kekurangan sel darah merah atau anda kehilangan darah yang cukup banyak, maka tubuh akan mudah mengembangkan anemia. Beberapa obat-obatan dan perawatan medis juga membuat tubuh anda berisiko untuk terkena anemia.
  1. Kehilangan darah
    Kehilangan terlalu banyak sel darah merah merupakan penyebab umum dari anemia. Menstruasi berat, bisul, luka, atau operasi dapat menyebabkan kehilangan darah yang cukup untuk menyebabkan anemia terkait dengan kekurangan zat besi. Wanita yang memiliki periode menstruasi yang berat harus mendapatkan cobaan atas ancaman anemia setiap tahunnya.
Baca Juga:  Cara Membersihkan Paru-paru Perokok

Diagnosa

Sebuah tes darah lengkap akan memeriksa level sel derah merah, sel darah putih, trombosit, dan hemoglobin yang ada dalam tubuh anda. Tes ini juga akan memeriksa faktor-faktor lain seperti ukuran rata-rata, variabilitas ukuran, volume, dan konsentrasi hemoglobin sel darah merah. Jika anda kekurangan anemia akibat kekurangan zat besi, maka sel darah merah anda terlihat lebih kecil dari ukuran normal. Dokter mungkin akan bertanya tentang gejala-gejala yang anda alami, obat-obatan yang anda konsumsi, dan riwayat keluarga anda.

Jika tubuh anda memproduksi terlalu sedikit atau terlalu banyak sel darah, atau strukturnya terlihat tidak normal, anda mungkin perlu melakukan tes sumsum tulang. Sumsum tulang, jaringan spons dalam tulang mengandung sel induk yang berubah menjadi sel-sel darah. Dokter akan mengambil sedikit sampel dari sumsum tulang melalui jarum suntik.

Mengobati anemia

  1. Suplemen zat besi
    Suplemen zat besi sering dibutuhkan untuk mengatasi anemia yang disebabkan karena kekurangan mineral tersebut. Suplemen zat besi baik dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau minuman yang mengandung vitamin C seperti jus jeruk. Namun jangan konsumsi suplemen zat besi bersamaan dengan kopi, teh, atau makanan atau minuman berkalsium karena dapat menghambat penyerapan zat besi. Beberapa orang mungkin perlu mengimbanginya juga dengan mengonsumsi suplemen vitamin B12 dan asam folat.
  1. Obat-obatan
    Anemia bisa diatasi dengan pemberian kortikosteroid (salah satu jenis hormon) atau obat-obatan lainnya yang bisa menekan permasalahan sistem imun. Selain itu, jika anemia terjadi terkait dengan sumsum tulang, maka akan diobati dengan pemberian eritropoietin, hormon yang memiliki peran terhadap proses hematopoiesis, berguna dalam membentuk sumsum tulang pada proses hematopoiesis.
  1. Transfusi darah
    Jika anda memiliki anemia yang berat, anda mungkin memerlukan transfusi darah yang cocok dengan jenis anda. Ketika sel darah merah yang diproduksi tidak bekerja dengan baik, anemia dapat diobati atau disembuhkan dengan transplantasi. Dalam kasus ini, sumsum tulang dari seorang pendonor dapat menggantikan sumsum tulang yang rusak sehingga tubuh dapat mulai memproduksi sel-sel darah yang sehat.

Mencegah anemia

Anda dapat mencegah beberapa jenis anemia dengan mengonsumsi makanan yang sehat. Makanan yang mengandung zat besi seperti daging merah tanpa lemak, hati, ikan, tahu, kacang-kacangan, lentil, sayuran hijau, dan buah kering baik dikonsumsi untuk mencegah anemia. Selain itu, konsumsi juga makanan yang mengandung vitamin B12 dan asam folat seperti telur, produk susu, bayam, dan pisang. Makanan dan minuman ber-vitamin C juga baik dikonsumsi untuk membantu tubuh dalam menyerap zat besi.

Itulah beberapa informasi mengenai anemia. Untuk memastikan lebih lanjut apakah anda mengalami anemia atau tidak, konsultasikan dengan dokter. Semoga artikel ini bermanfaat.