Awas, Polusi Suara Juga Berbahaya Bagi Kesehatan

DokterSehat.Com – Arus urbanisasi di Indonesia kini menjadi semakin gencar dimana semakin banyak orang yang menggantungkan hidupnya di area perkotaan. Mobilitas dan aktifitas manusia yang bertumpuk di area perkotaan tentu akan membuat polusi suara menjadi lebih meningkat dari sebelumnya. Selain dari suara kendaraan bermotor, suara dari dunia industri atau bahkan dari aktifitas lingkungan ternyata juga bisa membuat polusi suara menjadi semakin parah. Yang menjadi masalah adalah, tanpa kita sadari paparan polusi suara ternyata juga bisa berpengaruh besar bagi kesehatan tubuh. Apa sajakah dampak buruk dari polusi udara bagi kesehatan?

shutterstock_328176542 copy

Pakar kesehatan menyebutkan jika mereka yang cenderung tinggal di tempat yang bising atau sering mendengar kebisingan setiap hari akan mudah mengalami masalah tekanan darah tinggi. Kebisingan ternyata bisa memicu rasa stress dan pada akhirnya meningkatkan tekanan darah dan membuat detak jantung semakin cepat. Jika hal ini sering terjadi, fungsi jantung pun beresiko mengalami gangguan. Bagaimana tidak, suara bising ternyata akan diproses oleh otak dan membuat kacaunya detak jantung. Pakar kesehatan bahkan menyebutkan jika kondisi ini bisa membuat jantung menjadi lebih cepat tua dan semakin rentan terkena penyakit jantung.

Polusi suara tentu akan memberikan dampak buruk bagi gangguan pendengaran. Selain telinga akan cukup sering mendenging tiba-tiba, banyak orang yang mengakui jika kemampuan pendengaran mereka semakin menurun. Tanpa kita sadari, polusi suara ternyata bisa membuat pendengaran kita mendengarkan bunyi-bunyian dengan tingkat desibel yang sangat tinggi dan menurunkan fungsi pendengaran secara bertahap.

Pakar kesehatan menyebutkan jika anak-anak dan orang tua memiliki resiko besar jika terpapar polusi suara setiap hari. Bahkan, jika seorang ibu hamil terpapar suara di atas 85 desibel dalam waktu yang lama, Ia bisa mengalami keguguran atau masalah pada embrio janin. Selain itu, wanita normal juga beresiko mengalami kekacauan siklus menstruasi. Bagi anak-anak sendiri yang cenderung masih dalam masa pertumbuhan dan penyempurnaan sistem tubuh beresiko mengalami gangguan pendengaran sejak kecil dan bisa semakin parah seiring dengan bertambahnya usia.