Awas, Perilaku Orang Tua Berikut Juga Bisa Memicu Stress Pada Anak

DokterSehat.Com – Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami stress. Jika orang dewasa stress karena masalah sosial, pekerjaan, atau bahkan karena tekanan ekonomi, maka anak-anak seringkali terkena stress justru karena perilaku orang tua pada dirinya. Pakar psikologis Ristika Thamrin, Spsi, dari Brawijaya Womend and Children Hospital menyebutkan jika tanpa disadari, perilaku orang tua pada anaknyalah yang membuat psikologis mereka tertekan. Apa sajakah perilaku orang tua yang bisa membuat anak stress? Berikut adalah diantaranya.

doktersehat-autis-autisme

Hal pertama yang bisa membuat anak stress adalah jika anak dilarang menangis. Padahal, menangis adalah hal yang normal sebagai ekspresi emosi dari anak. Sayangnya, banyak orang tua yang berharap anaknya menjadi anak yang kuat dan melarang anaknya menangis meskipun kesakitan atau kecewa akan sesuatu hal. Pernyataan orang tua yang melarang anaknya untuk menangis ternyata bisa diserap sebagai anak seharusnya memendam saja perasaan atau rasa sakitnya dan hal ini ternyata bisa meimcu stress.

Membeda-bedakan anak ternyata juga bisa memicu stress pada anak. Sebagai contoh, saat terjadi pertengkaran kakak dan adik, seringkali nada bicara orang tua akan cenderung lebih lembut pada adik karena menganggap sang adik lebih muda dan lebih lemah. Hal ini ternyata bisa memicu stress pada sang kakak karena merasa Ia tidak lagi disayang. Selain itu, pelabelan pada anak layaknya dengan mengecap anak sebagai anak pemalas, anak bodoh, atau bahkan anak lemot dan kemudian dibandingkan dengan anak lain atau saudaranya ternyata juga bisa menekan psikologis anak dan membuatnya stress.

Seringkali orang tua melarang anak melakukan hal yang Ia sukai karena merasa khawatir jika anaknya terluka atau jatuh sakit. Padahal, larangan-larangan ini bisa memicu stress karena anak merasa terbatasi eksplorasinya. Alih-alih terlalu sering membatasinya, cobalah untuk mulai mendampinginya sehingga anak pun tidak akan mudah terkena mara bahaya. Secara psikologis, dukungan ini juga bisa memicu anak menjadi lebih kreatif.