Awas Menenggak Minuman Panas Bisa Memicu Kanker, Menurut World Health Organisation (WHO)

DokterSehat.Com – Sebuah studi terbaru memberikan kabar yang sangat mengejutkan bagi dunia kesehatan dan masyarakat secara umum. Bagaimana tidak, studi ini menunjukkan fakta dimana konsumsi minuman yang masih panas ternyata membuat kita memiliki resiko yang lebih besar terkena kanker. Hal ini tentu menjadi kabar buruk bagi banyak orang mengingat sebagian orang menikmati minuman layaknya kopi atau teh saat suhunya masih cukup panas. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

DokterSehat Teh Minuman Panas

Penelitian ini sendiri dilakukan oleh Badan Internasional untuk Riset Kanker atau IARC yang merupakan salah satu departemen dari Badan Kesehatan Dunia milik PBB, yakni WHO. Penelitian ini sendiri didasari oleh berbagai studi yang dilangsungkan di negara-negara layaknya Iran, Tiongkok, dan berbagai negara di Amerika Selatan, tempat dimana banyak orang yang memiliki kecenderungan untuk menikmati minuman layaknya teh ataupun kopi dengan suhu yang cukup panas, yakni sekitar 70 derajat Celcius atau bahkan lebih. Hasilnya adalah, jika seseorang cukup sering mengkonsumsi minuman panas dengan suhu 65 derajat Celcius atau lebih, Ia memiliki resiko yang lebih besar untuk terkena kanker esofagus atau kanker kerongkongan.

Biasanya, kanker esofagus memiliki kaitan erat dengan kebiasaan buruk merokok atau menenggak alkohol. Namun, ternyata konsumsi minuman panas juga memiliki kaitan erat dengan munculnya salah satu kanker barbahaya ini. Menurut pakar kesehatan yang melakukan penelitian ini, minuman panas ternyata memiliki kemungkinan bersifat karsinogenik sehingga menyebabkan munculnya kanker. Direktur IARC, Christopher Wild, menuturkan pada kantor berita AFP, bahwa resiko kanker esofagus ternyata bisa meningkat jika suhu minuman yang diminum cukup panas dan bukan disebabkan oleh minuman itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah, kanker esofagus adalah salah satu kanker paling mematikan di dunia dengan menempati posisi ke 8 kanker pembunuh dengan data kematian 400.000 kasus pada tahun 2012 saja.

Baca Juga:  Berpelukan Kurangi Risiko Penyakit jantung

Sumber: WHO Journal, Lancelot Oncology