Awas, Kebiasaan Multitasking Bikin Otak Menciut

DokterSehat.Com – Apakah Anda punya kebiasaan multitasking alias melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan? Jika ya, ada baiknya untuk hentikan kebiasaan tersebut mulai saat ini!

5

Kebiasaan mengerjakan lebih dari satu hal dalam waktu yang bersamaan atau dikenal dengan sebutan multitasking mulai banyak ditemui akhir-akhir ini. Keterbatasan waktu dan banyaknya hal yang harus dikerjakan menjadi alasan utama orang memilih untuk multitasking.

Misalnya saat sibuk di depan komputer, anda juga bisa saja berdiskusi dengan teman membahas rencana makan siang. Kebiasaan untuk membagi fokus pada banyak hal ternyata dapat membawa pengaruh negatif.

Sebuah riset yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of California menunjukkan, penggunaan sejumlah perangkat teknologi seperti ponsel, laptop dan beberapa handset lainnya secara bersamaan dapat mengubah struktur otak manusia.

Kesimpulan ini bukan tanpa alasa. Mengingat peneliti menyertakan 75 laki-laki dan perempuan sehat yang kerap membagi perhatian mereka dalam menggunakan beberapa jenis teknologi di saat yang bersamaan.

Dalam riset ini peneliti melihat kebiasaan relawan penelitian yang kerap mengirimkan pesan teks sambil mendengarkan musik dan mengecek email, atau menelepon sambil menonton televisi dan membuka laman web.

Dilansir Dailymail, setelah mengetahui kerap melakukan multitasking, para relawan ini dipasangkan alat scan otak yang bisa menunjukkan bagian otak yang disebut dengan anterior cingulate cortex atau ACC. Hasilnya perilaku multitasking positif mengubah struktur otak mereka menjadi lebih kecil.

Melakukan beberapa jenis pekerjaan dalam waktu bersamaan dan melibatkan alat teknologi adalah hal yang biasa terjadi saat ini. Namun berhati-hatilah, sebab kebiasaan ini mampu mengubah bentuk fisik otak serta menurunkan tingkat kefokusan Anda, ungkap Kep Kee Loh, salah seorang peneliti. Bukan hanya dampak itu saja, kemampuan memori Anda pun juga bisa terpengaruh.

Baca Juga:  Hindari Air Minum Isi Ulang dari Depot, Ini Alasannya

Untuk menghasilkan kesimpulan ini, tim peneliti melibatkan sekitar 18 ribu orang berusia 18 hingga 99 tahun dan sekitar 20 persen ditemui mengalami masalah pada kemampuan memori. Angka tertinggi menderita ganggunan kemampuan memori yakni pada usia produktif pada rentang 18-39 tahun yang kerap memilih multitasking untuk menyelesaikan tugas.