Atrial Flutter – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Atrial flutter adalah kelainan irama jantung yang mengakibatkan detak jantung bergerak cepat dan kadang-kadang memiliki irama yang tidak teratur. Atrial flutter biasa disebut juga sebagai aritmia.

Atrial-Flutter-doktersehat

Atrial flutter terjadi ketika jantung Anda berdetak dengan cepat karena terlalu banyak impuls listrik yang tidak biasa. Atrial bergetar ketika mereka mencoba untuk bersentuhan, tetapi kontraksi terjadi terlalu cepat. Pada kondisi ini, atrial dapat bergetar hingga mencapai 300 kali per menit, di mana normalnya hanya bergetar 60 sampai 100.

Bahaya utama atrial flutter adalah jantung tidak bisa memompa dengan baik ketika berdetak terlalu cepat. Ketika darah tidak dipompa dengan baik, organ-organ vital, seperti jantung dan otak, mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen dari darah.

Untuk diketahui, atrial flutter yang datang dan pergi, dikenal sebagai atrial flutter paroksismal. Sedangkan atrial flutter yang berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu dikenal sebagai atrial flutter persisten.

Tanda dan Gejala Atrial Flutter

Dengan perawatan yang tepat, atrial flutter jarang mengancam nyawa. Komplikasi atrial flutter yang berbahaya adalah stroke. Beberapa orang tidak memiliki gejala dengan atrial flutter. Namun beberapa pasien lain dapat mengeluhkan gejala berikut:

  • Palpitasi (denyut jantung yang cepat atau sensasi berdebar di dada)
  • Sesak napas
  • Kegelisahan
  • Mudah lelah

Orang dengan penyakit jantung atau penyakit paru-paru sebelumnya, kemudian mengalami atrial flutter dapat memiliki gejala-gejala serta gejala yang lebih signifikan sebagai berikut:

  • Angina pektoris (dada atau jantung nyeri)
  • Sensasi melayang atau berputar
  • Pingsan (sinkop)

Penyebab Atrial Flutter

Atrial flutter dapat disebabkan oleh penyakit jantung atau penyakit lain dalam tubuh yang memengaruhi jantung. Atrial flutter juga bisa disebabkan konsumsi dari zat yang mengubah impuls listrik yang ditransmisikan melalui jantung. Atrial flutter juga dapat terjadi apabila jantung Anda memiliki beberapa masalah diantaranya:

  • Penurunan aliran darah ke jantung (iskemia) karena penyakit jantung koroner, pengerasan arteri (aterosklerosis), dan serangan jantung
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Penyakit otot jantung (kardiomiopati), terutama terkait dengan gagal jantung kongestif
  • Kelainan katup jantung, terutama katup mitral
  • Ruangan jantung yang membesar secara abnormal (hipertrofi)

Selain penyakit jantung, beberapa penyakit ini juga bisa menyebabkan atrial flutter, yaitu:

  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme)
  • Bekuan darah di pembuluh darah di paru-paru (emboli paru)
  • Penyakit paru kronis seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan emfisema, yang menurunkan jumlah oksigen dalam darah

Zat yang dapat menyebabkan atrial flutter adalah:

  • Alkohol
  • Stimulan seperti kokain, amfetamin, pil diet, hingga obat flu
  • Kafein

Untuk diketahui, atrial flutter memiliki kaitan erat dengan aritmia jantung lainnya yang disebut atrial fibrilasi. Atrial flutter dan atrial fibrilasi kadang-kadang terjadi bersama-sama.

Penanganan Atrial Flutter

Jika seseorang mengalami salah satu gejala sugestif atrial flutter, seseorang harus menemui dokter untuk mendapat analisa yang tepat. Jika gejalanya semakin parah Anda harus segera mendapatkan penanganan dari profesional medis. Berikut ini adalah gejala-gejala yang menandakan bahwa Anda harus segera menuju ke UGD:

  • Sakit dada
  • Pusing atau sensasi melayang
  • Menurunnya penglihatan

Diagnosis Atrial Flutter

Salah satu tes sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan elektrokardiogram (EKG). Tes ini dapat membantu memberitahu banyak hal tentang apa yang terjadi dengan jantung. EKG akan mengukur dan mencatat impuls listrik yang mengontrol detak jantung. Kenapa hal ini harus dilakukan?

  • Temuan EKG dapat menunjukkan apakah ada penyimpangan dalam detak jantung dan kelainan pada jantung.
  • Rekaman EKG dapat membantu menentukan jenis aritmia dan di bagian jantung mana aritmia tersebut berasal
  • EKG juga menunjukkan tanda-tanda serangan jantung, iskemia jantung, pembesaran jantung abnormal (hipertrofi), kelainan konduksi, kelainan kimia dan elektrolit tertentu dalam jaringan jantung

Banyak orang memiliki gejala yang menunjukkan aritmia, tetapi ketika EKG direkam, hasilnya menunjukkan keadaan yang normal. Ini mungkin saja Anda menderita atrial flutter paroksismal atau dipengaruhi oleh faktor lain seperti kecemasan.

Pemeriksaan Atrial Flutter

Salah satu perangkat EKG yang terpasang selama 24 jam dikenal sebagai Holter Monitor dan biasanya mencatat irama jantung secara terus menerus selama 24-48 jam. Beberapa dokter lebih memilih perangkat ini karena dapat melihat rekaman intermiten irama jantung.

Baca Juga:  Atrial Flutter - Penanganan Medis

Selain itu, beberapa dokter juga menggunakan echokardiogram. Sebuah tes ultrasound yang menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan gambar jantung ketika sedang berdetak. Dalam tes ini, alat USG diposisikan ke arah dada.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi masalah katup jantung dan mencari pembekuan darah di atrium. Pemeriksaan ini adalah non-invasif dan aman karena menggunakan teknik yang sama dengan yang digunakan untuk mengevaluasi janin selama kehamilan.

Penanganan Atrial Flutter

Banyak orang yang menderita atrial flutter memiliki beberapa bentuk penyakit jantung yang mendasarinya. Oleh karena itu, mereka membutuhkan perawatan medis untuk mengurangi denyut jantung dan mempertahankan irama jantung tetap normal.

Meskipun atrial flutter tidak selalu dapat dicegah, menjalani pola hidup sehat dapat mengurangi kesempatan mengalami penyakit jantung koroner yang dapat menyebabkan atrial flutter.

Cara terbaik untuk mencegah penyakit jantung koroner adalah:

  • Jangan merokok
  • Terlibat dalam aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari
  • Konsumsi makanan yang bergizi, rendah kolesterol dan lemak
  • Menjaga berat badan yang ideal
  • Mengontrol tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kolesterol tinggi
  • Jika seseorang sudah mengalami episode atrial flutter, kunjungi dokter secara teratur dan jalani pengobatan dengan disiplin

Untuk orang-orang yang berusia lebih  dari 65 tahun, biasanya dokter akan menyarankan untuk mengonsumsi obat pengencer darah yaitu warfarin (Coumadin) untuk menurunkan risiko penyakit ini. Warfarin akan mencegah faktor-faktor tertentu penyebab pembekuan darah.

Untuk jangka pendek, biasanya pasien mendapatkan heparin secara intravena (IV) atau subkutan (diberikan melalui suntikan di bawah kulit). Pada orang yang memiliki risiko lebih rendah untuk terkena stroke dan orang-orang yang tidak bisa mengonsumsi warfarin, Anda bisa menggunakan aspirin. Meski begitu, aspirin memiliki efek samping yaitu bisa menimbulkan pendarahan dan ulkus peptikum.

Obat-obatan Atrial Flutter

Pilihan pengobatan tergantung pada penyebab yang mendasarinya, kondisi medis dan kesehatan secara keseluruhan adalah hal yang harus dipertimbangkan. Berikut ini adalah beberapa jenis obat untuk mengatasi atrial Flutter:

  • Obat anti-aritmia: Obat ini sering diberikan untuk mencegah kembalinya flutter atrium setelah defibrilasi. Obat yang paling sering digunakan adalah amiodarone (Cordarone, Pacerone), sotalol (Betapace), propafenone (Rythmol), dan flekainid (Tambocor).
  • Digoxin (Lanoxin): obat ini mengurangi konduktivitas impuls listrik yang melewati nodus SA dan nodus AV serta memperlambat denyut jantung. Digoxin tidak digunakan jika pasien sudah mendapatkan beta-blocker dan ca-channel blocker, kecuali jika orang tersebut memiliki gagal jantung karena ventrikel kiri kurang berfungsi.
  • Beta-blocker: obat ini menurunkan denyut jantung dengan memperlambat konduksi yang melewati nodus AV, menurunkan permintaan jantung terhadap oksigen, dan menstabilkan tekanan darah. Contohnya termasuk propranolol (Inderal) atau metoprolol (Lopressor, Toprol XL).
  • Calcium channel blockers: obat ini juga memperlambat denyut jantung dengan memperlambat konduksi yang melewati nodus AV. Verapamil (Calan, Isoptin) dan diltiazem (Cardizem) adalah contoh obat dari calcium channel blockers.
  • Dofetilide (Tikosyn): penggunaan obat anti-aritmia secara oral ini harus dimulai di rumah sakit selama tiga hari. Rawat inap diperlukan untuk memonitor irama jantung selama periode dosis awal. Jika fibrilasi atrium merespon positif selama dosis awal, dosis pemeliharaan dibentuk untuk dilanjutkan di rumah.
  • Antikoagulan: obat ini mengurangi kemampuan darah untuk membeku, sehingga mengurangi risiko bekuan darah yang terbentuk di jantung atau di pembuluh darah. Atrial flutter meningkatkan risiko penggumpalan darah seperti terbentuk di atrium kiri. Warfarin (Coumadin) adalah obat yang paling umum digunakan untuk pencegahan gumpalan darah yang disebabkan oleh aritmia.

Pada dasarnya, hidup normal dapat dijalani oleh penderita atrial flutter. Penggunaan obat yang tepat dapat mengontrol gejala-gejala yang muncul. Untuk beberapa kasus, atrial flutter dapat disembuhkan dengan radiofrequency ablation catheter.

Jika seseorang mengalami atrial flutter dan tidak ada penyakit jantung yang mendasarinya, maka tingkat kesembuhan akan lebih besar. Namun, jika ada penyakit jantung sebelumnya, atrial flutter dapat kambuh di kemudian hari. Oleh karenanya, berkunjung ke dokter spesialis jantung harus rutin dilakukan.