Asupan Karbohidrat Berlebihan Bisa Meningkatkan Resiko Penyakit Jantung

DokterSehat.Com – Penyakit jantung telah menjadi penyakit paling berbahaya di dunia. Banyak orang yang merasa khawatir bahwa dirinya terkena penyakit mematikan yang satu ini.

13

Beragam carapun dilakukan untuk mengurangi resiko terserang penyakit jantung, mulai dari rajin melakukan olahraga (khususnya senam jantung), memeriksakan kondisi jantung secara rutin, dan menghindari asupan makanan yang disinyalir berpotensi dapat meningkatkan resiko terkena penyakit ini.

Namun, sayangnya belum banyak yang tahu bahwa salah satu jenis makanan yang cukup berbahaya karena mampu meningkatkan resiko terserang penyakit jantung apabila dikonsumsi secara berlebihan ialah konsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat semacam mie, nasi, roti tawar, dan lainnya.

Bukan tidak boleh sama sekali, melainkan perlu dilakukan pembatasan terhadap asupan makanan yang mengandung karbohidrat supaya tidak berlebihan. Banyak orang bahkan dokter sendiri menyebutkan bahwa lemak merupakan faktor yang menjadi pemicu timbulnya penyakit jantung.

Namun selain lemak, memakan makanan yang mengandung karbohidrat secara berlebihan pun bisa meningkatkan resiko terkena jantung. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Washington, AS, dinyatakan bahwa seseorang yang melakukan diet kaya karbohidrat berpotensi dalam meningkatkan kadar gula dalam darah sekaligus juga meningkatkan resiko penyakit jantung.

Penelitian lainnya dilakukan di Israel, tepatnya di Pusat Penelitian Chaim Cheba yang melakukan evaluasi kepada sekitar 56 laki-laki dan perempuan sehat namun mengalami masalah dengan bobot tubuhnya (menderita obesitas).

Mereka yang dievaluasi memiliki rentang usia antara 35-60 tahun. Setiap sukarelawan yang tercatat tidak memiliki rekam medis menderita diabetes ataupun penyakit jantung. Setelah itu, mereka dibagi ke dalam dua kelompok dengan jenis sarapan yang berbeda.

Sukarelawan golongan yang pertama diberikan sarapan makanan yang mengandung glukosa, jagung, dan sereal yang merupakan makanan yang kaya akan serat dan air. Kemudian mereka dipantau melalui indeks pencatatan kandungan karbohidrat dalam tubuhnya (glycemic index).

Kemudian untuk kategori makanan rendah karbohidrat para sukarelawan diberikan makanan berupa gandum, buah-buahan, sayuran, dan juga kacang. Kemudian untuk makanan tinggi karbohidrat, sukarelawan diberikan kentang, roti tawar, dan juga jagung.

Sebelum dan sesudah makan, tim yang meneliti akan melakukan pengecekan terhadap fungsi endothelium yang merupakan lapisan pada sel dan menjadi pembatas dalam pembuluh darah. Jika kemudian fungsi endothelium tidak maksimal maka hal tersebut yang akan memicu terjadinya penyakit jantung.

Baca Juga:  Pola Makan Untuk Anak Sehat

Brachial Arter Flow-Mediated Dilation (FMD) yang berfungsi untuk mendeteksi fungsi endothelium digunakan sebagai alat pengecekan. Kadar gula dalam darah pun tak luput dari pemeriksaan tim peneliti yang pemeriksaannya dilakukan sebelum dan dua jam sesudah makan.

Sukarelawan banyak yang mengalami peningkatan kadar gula dalam darah setelah mengonsumsi makanan yang kaya karbohidrat. Dan secara garis besar tim peneliti menemukan bahwa makanan yang mengandung karbohidrat tinggi berpotensi dalam merusak fungsi endothelial.

Waspadai makanan yang kaya glukosa

Penelitian sebelumnya juga menemukan, kandungan gula dalam darah usai mengkonsumsi makanan kaya glukosa merupakan faktor resiko penyakit jantung, tidak hanya bagi pasien dengan penyakit diabetes tapi juga kebanyakan masyarakat.

Menurunnya fungsi endothilial menjadi kunci utama perkembangan penyakit jantung dan pembuluh darah. Studi ini telah dipulikasikan dalam Jurnal Kardiologi Universitas di Amerika. Pakar lain berpendapat, penelitian yang dilakukan sungguh menarik.

Tapi perlu digaris bawahi penelitian masih memerlukan konfirmasi lebih jauh lagi. Studi dengan desain lintas batas memang sungguh aneh, tutur Direktur Laboratorium Metabolisme, Universitas Massachusset di Amrhest, AS. Tapi dia mengatakan penelitian tersebut seharusnya dilakukan berkelanjutan.

Studi lain yang dilakukan di Universitas Alabama Birmingham, AS mempertanyakan apakah mengurangi karbohidrat bisa menahan rasa kenyang usai makan. Dipimpin oleh pakar nutrisi, Barbara Gower pada penelitian lain mencatat warga Amerika 55 % pada umumnya mendapat kadar kalori harian dari gula, serat dan tepung. Hal ini yang perlu dikontrol dalam diet.

Tim peneliti juga mengambil sampel penelitian dari diet karbohidrat mencatat 43 % kadar kalori datang dari karbohidrat. Pemasukan protein bernilai sama untuk setiap diet tapi untuk diet moderat menghindari lebih banyak lemak sebagai perbedaan.

Hasilnya, setelah sebulan, 16 sukarelawan diet moderat memiliki kandungan insulin renadah, kadar gula dalam darah lebih stabil dan rasa kenyang lebih lama usai mengkonsumsi makanan ketimbang 14 sukrelawan yang melakukan diet pada kontrol makanan. Mengurangi kadar karbohidrat akan membantu minimalisir konsumsi energi dan kehilangan berat badan, kata Gower.