ASI Ekslusif Untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

DokterSehat.Com– Ibu muda saat ini mulai menggemari aktivitas menyusui bayinya dengan air susu ibu (ASI) bahkan di sejumlah daerah sudah menjadi gaya hidup meskipun mereka sudah harus kembali bekerja di kantor.

doktersehat-menyusui-ibu-hamil

“Saya melihat ibu dan ayah muda sudah sadar pentingnya memberikan ASI dan inisiasi menyusui dini adalah keharusan,” kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli dalam acara ulang tahun ke delapan program studi ilmu gizi Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, di Semarang, Sabtu.

Banyak manfaat yang akan dirasakan oleh ibu maupun bayi dengan pemberian ASI di antaranya untuk risiko terkena kanker berkurang delapan kali dibanding yang tidak memberikan dan tidak mendapatkan ASI.

Bayi yang mendapatkan ASI akan memiliki daya tahan tubuh lebih bagus dan mengurangi gizi buruk, sedangkan pada ibu akan mendapatkan kualitas hidup lebih baik di hari tuanya (risiko untuk terkena kencing manis, stres, dan tulang keropos akan jauh lebih sedikit dibanding yang tidak memberikan ASI-nya).

Dalam kesempatan sama, Ketua Cabang Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jawa Tengah Rachmadhani menambahkan saat ini sudah banyak ibu muda yang terus melanjutkan memberikan ASI meskipun sudah masuk kerja dengan cara memeras susu di kantor.

Rachmadhani menjelaskan indikator dari banyaknya ibu muda mulai mengemari memberikan ASI dapat terlihat dari data yang dimiliki AIMI dan antusiasnya para ibu hamil serta ibu menyusui untuk mengikuti kelas pendidikan inisiasi menyusui dini.

“Kelas edukasi hingga saat ini sudah ada di 12 kota dan untuk di Jateng yakni Semarang, Surakarta, Purwokerto, Tegal, dan Yogyakarta,” katanya.

Data dari Dinkes Jateng juga menyebutkan bahwa pencapaian sasaran ASI ekslusif dari tahun 2007 terus mengalami peningkatan yakni dari 27,35 persen (2007); 28,82 persen (2008), 40,06 persen (2009), dan 52,3 persen (2010).

Baca Juga:  Apa itu Bayi Tabung?

Rachmadhani menambahkan biasanya untuk awal menyusui yang tertunda dikarenakan tidak adanya inisiasi menyusui dini, antara ibu dan bayi tidak dirawat gabung, bayi sudah diberikan susu formula, bayi sudah diberi botol dot, dan ibu tidak mendapat rujukan yang tepat untuk membantu dalam hal menyusui.

Begitu juga sesampai di rumah permasalahan yang biasa muncul ibu stres dan tidak percaya diri, puting lecet, bayi bingung puting, bayi nangis terus, ibu tidak tahu harus meminta bantuan ke mana, serta ibu memutuskan menambah susu formula sampai akhirnya berhenti menyusui.

“Kami dari IAMI berharap jumlah ibu memberikan ASI semakin banyak dan hal tersebut dapat didukung dengan regulasi dan kebijakan tertulis yang mendukung ibu menyusui,” katanya.

Sejumlah hal yang mendukung seperti adanya ruang untuk memerah ASI beserta fasilitasnya dan ruangan menyusui di tempat kerja dan ruang publik seperti terminal, bandara, stasiun kereta api, pusat perbelanjaan, bank, kantor pos, kantor imigrasi, rumah sakit, puskesmas, kantor pemerintahan, dan hotel. (N008/M027)

Sumber