Asam Folat Perkecil Risiko Kanker pada Anak

Doktersehat.com – Asam folat merupakan nutrisi penting bagi wanita yang mungkin hamil, karena seorang wanita jatuh kadar folat selama kehamilan karena adanya peningkatan sintesis RBC ibu di paruh pertama kehamilan dan tuntutan janin di babak kedua.



Jangan abaikan vitamin yang satu ini. Bukan cuma penting buat ibu yang sedang hamil, tapi juga buat janin. Asam folat, menurut Dr. Ir. Ali Khomsan dari Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fak. Pertanian IPB, Bogor, termasuk dalam golongan vitamin B. “Yang biasa dipasangkan dengan vitamin B-12. Jadi, orang yang mengalami defisiensi asam folat, biasanya juga akan kekurangan B-12.”

Sementara menurut Dr. Bambang Fajar, Sp.OG dari RS International Bintaro, Tangerang, asam folat adalah salah satu gugus yang berperan dalam pembentukan DNA pada proses erithropoesis. Yaitu, dalam pembentukan sel-sel darah merah atau eritrosit (butir-butir darah merah) dan perkembangan sistem syaraf.

Dalam keadaan normal, tubuh memerlukan 50 mikrogram asam folat. “Jika dalam sehari asam folat yang diserap tubuh kurang dari 50 mikrogram, maka dalam 4 bulan, ia akan terkena defisiensi asam folat ini.”

Kebutuhan asam folat akan meningkat selama kehamilan. “Bisa sampai 800 mikrogram hingga 1 miligram per harinya.” Selain itu, kebutuhan asam folat juga meningkat pada bayi, anak-anak, dan remaja, serta pada penderita penyakit tertentu, seperti kanker dan beberapa penyakit kulit.

Satu lagi bukti betapa pentingnya asam folat bagi ibu hamil dan janin. Sebuah riset teranyar mengindikasikan, konsumsi makanan yang difortifikasi atau diperkaya asam folat dapat mengurangi insiden akibat kanker ginjal dan tumor otak pada anak-anak.

Demikian hasil penelitian Kimberly J. Johnson, PhD, asisten profesor di Brown School, Washington University, St Louis, dan Amy Linabery, PhD, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Minnesota.

Penurunan risiko kanker terutama pada jenis tumor Wilms (suatu jenis kanker ginjal), dan primitive neuroectodermal tumor (PNET) jenis kanker otak.

Sejak tahun 1998, Badan Pengawas Makanan dan Obat (FDA) Amerika Serikat telah mengamanatkan fortifikasi makanan dengan asam folat karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi asam folat prenatal secara signifikan mengurangi kejadian cacat tabung saraf pada bayi.

“Penelitian kami adalah yang terbesar hingga saat ini untuk menunjukkan bahwa fortifikasi asam folat juga dapat menurunkan insiden beberapa jenis kanker anak di Amerika Serikat,” kata Johnson.

“Kami menemukan bahwa ada peningkatan kasus tumor Wilms (kanker ginjal) pada tahun 1986-1997, tapi sesudah itu menurun. Penurunan tersebut ternyata bertepatan persis dengan fortifikasi asam folat,” jelasnya

Sedangkan pada kasus PNET (kanker otak) juga mengalami penurunan setelah pada tahun 1986-1993 mengalami peningkatan. Perubahan tren tidak bertepatan persis dengan fortifikasi asam folat, tetapi bertepatan dengan dicanangkannya sebuah rekomendasi pada tahun 1992 untuk wanita usia subur supaya mengonsumsi 400 mikrogram asam folat setiap hari.

Dalam kajiannya peneliti menggunakan data dari National Cancer Institute Surveillance, Epidemiologi, and Results Program (SEER) sejak tahun 1986-2008. Data tersebut berisi informasi mengenai kasus kanker di berbagai bidang di AS sejak 1973. Penelitian ini melibatkan 8.829 anak-anak, mulai dari lahir sampai usia empat tahun yang didiagnosis mengidap kanker.

“Ada penurunan tumor Wilms dan PNET pada anak-anak yang terdeteksi oleh analisis beberapa data. Yang terpenting, kecepatan penurunan tumor Wilms juga ditemukan dalam sebuah studi kecil yang dilakukan di Ontario, Kanada, yang diterbitkan pada tahun 2011,” kata Johnson.

“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil temuan ini dan untuk menyingkirkan penjelasan lain,” tambahnya.

Johnson mencatat bahwa salah satu negara menghadapi suatu kekhawatiran untuk memutuskan apakah perlu atau tidak untuk memperkaya makanan dengan asam folat guna mengurangi cacat tabung saraf pada bayi baru lahir. Pasalnya adalah ada kemungkinan bahwa fortifikasi dapat menyebabkan kerusakan yang tidak diinginkan, seperti menyebabkan kanker baru atau pra-kanker.

“Di sini (pada temuan ini), kita menunjukkan bahwa fortifikasi asam folat tidak akan meningkatkan kejadian kanker pada anak, yang merupakan berita baik,” katanya.

Sumber : health.kompas.com & pondokibu.com