Apakah Stroke Bisa Dicegah?

DokterSehat.Com – Stroke terjadi ketika aliran darah kaya oksigen ke bagian otak tertentu terhambat. Tanpa oksigen, sel-sel otak akan meti dalam beberapa menit. Perdarahan mendadak di otak juga dapat menyebabkn stroke jika perdarahan tersebut merusak sel-sel otak.

shutterstock_113849278 copy

Siapa saja yang berisiko mengalami stroke?

Beberapa kondisi dan kebiasaan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah faktor risiko. Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk mengalami stroke. Ada faktor risiko yang bisa dicegah atau diobati, misalnya tekanan darah tinggi dan kebiasaan merokok. Ada juga faktor risiko yang tidak bisa dicegah, seperti usia dan jenis kelamin. Faktor risiko utama stroke meliputi:

  • Tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya stroke. Tekanan darah dikatakan tinggi jika lebih dari atau sama dengan 140/90 mmHg dalam minimal 2 kali pengukuran dalam waktu yang berbeda. Jika seseorang juga menderita diabetes atau penyakit ginjal kronik, tekanan darah 130/80 mmHg atau lebih sudah dianggap tinggi.
  • Diabetes adalah penyakit dimana kadar gula darah tinggi karena jumlah insulin di dalam tubuh tidak mencukupi atau karena kerja insulin tidak optimal. Insulin merupakan hormon yang membantu memasukkan gula darah ke dalam sel agar dapat diubah menjadi energi.
  • Penyakit jantung. Penyakit jantung koroner, kardiomiopati, gagal jantung, dan fibrilasi atrium dapat menyebabkan adanya bekuan darah yang dapat berujung pada terjadinya stroke.
  • Merokok dapat merusak pembuluh darah dan menaikkan tekanan darah. Meroko juga dapat menurunkan jumlah oksigen yang dapat dipakai oleh jaringan. Paparan asap rokok secara pasif juga dapat merusak pembuluh darah.
  • Usia dan jenis kelamin. Risiko stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia muda, pria lebih berisiko menderita stroke daripada wanita. Namun, risiko kematian akibat stroke pada wanita lebih tinggi. Wanita yang mengonsumsi pil kontrasepsi juga memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi untuk mengalami stroke.
  • Ras dan etnis. Stroke lebih sering terjadi pada orang Afrika-Amerika, Alaska asli, dan Amerika-Indian daripada pada orang kulit putih, Latin, atau Asia-Amerika.
  • Riwayat keluarga atau diri sendiri pernah mengalami stroke. Orang yang sudah pernah mengalami stroke memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stroke ulang. Begitu pula dengan riwayat keluarga kandung yang pernah mengalami stroke.
  • Aneurisma atau malformasi arteri-vena. Aneurisma adalah penggembungan pembuluh nadi seperti balon yang mudah sekali pecah. Malformasi arteri-vena adalah kelainan susunan pembuluh darah otak yang dapat robek atau pecah. Kelainan ini mungkin telah ada sejak lahir, tetapi biasanya baru terdeteksi jika sudah pecah.

Faktor risiko stroke lain yang dapat dicegah, antara lain:

  • Alkohol dan penyalahgunaan obat, seperti kokain, amfetamin, dan obat-obat NAPZA lainnya.
  • Kondisi medis tertentu, misalnya anemia sel sabit, vaskulitis (peradangan pembuluh darah), dan kelainan pembekuan darah.
  • Kurang gerak.
  • Obesitas dan kegemukan.
  • Stres dan depresi.
  • Kadar kolesterol yang terlalu tinggi.
  • Makanan tidak sehat.
  • Penggunaan obat antiinflamasi non-steroid selain aspirin dapat meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke, terutama pada pasien yang pernah mengalami serangan jantung atau pernah menjalani operasi jantung.
Baca Juga:  Beberapa Mitos Mengenai Makanan

Mengatasi faktor risiko

Selain dengan obat-obatan, faktor risiko juga dapat dikendalikan dengan perubahan gaya hidup yang sehat, yang dapat meliputi:

Makan makanan yang sehat

Makanan sehat yang disarankan antara lain:

  • Produk bebas lemak atau rendah lemak, misalnya susu skim.
  • Ikan yang kaya akan asam lemak omega-3, seperti salmon, tuna, dan trout, kira-kira dua kali seminggu.
  • Buah-buahan, seperti apel, pisang, jeruk, pear, dan buah prun.
  • Kacang-kacangan, misalnya kacang merah, kacang lentil, buncis, kacang polong, dan kacang lima.
  • Sayuran, seperti brokoli, kubis, dan wortel.
  • Biji-bijian, misalnya oatmeal, nasi merah, dan tortilla jagung.

Makanan yang sebaiknya dihindari antara lain: daging merah, minyak kelapa, serta makanan dan minuman yang banyak mengandung gula. Selain itu, makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans juga sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah dan meningkatkan risiko stroke iskemik. Lemak tidak jenuh-lah yang sebaiknya dikonsumsi. Lemak tidak jenuh ini terdapat dalam: alpukat, minyak jagung, minyak bunga matahari, dan minyak kedelai, kacang dan biji-bijian (misalnya kacang kenari), minyak zaitun, minyak wijen, selai kacang, ikan salmon dan trout, serta tahu.

Jumlah konsumsi natrium juga harus dibatasi. Artinya kita harus memilih makanan dengan kandungan garam dan natrium yang lebih rendah. Baca label sebelum membeli makanan.

Sebisa mungkin hindari alkohol. Konsumsi alkohol yang terlalu banyak dapat menaikkan tekanan darah dan kadar trigliserida, sejenis lemak yang terdapat dalam darah. Alkohol juga mengandung banyak kalori, sehingga dapat menyebabkan penambahan berat badan.

Menjaga berat badan tetap ideal

Menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) dapat membantu untuk mengetahui apakah berat badan ideal atau tidak serta dapat memperkirakan jumlah lemak total di dalam tubuh. IMT normal berada pada kisaran 18,5 sampai 24,9 kg/m2.

Pengukuran lingkar pinggang juga dapat mengetahui kemungkinan risiko kesehatan. Jika lemak lebih banyak berada di pinggang, maka risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2 akan lebih tinggi. Risiko tinggi pada lingkar pinggang lebih dari 35 inchi (sekitar 88,9 cm) untuk wanita atau 40 inchi (101,6 cm) untuk pria.

Jika kegemukan, cobalah untuk mengurangi berat badan. Penurunan berat badan sebesar 3 sampai 5 persen saja dapat menurunkan kadar trigliserida, glukosa darah, dan risiko diabetes tipe 2. Penurunan berat badan yang lebih besar lagi dapat memperbaiki tekanan darah, menurunkan kolesterol LDL, dan meningkatkan HDL.

Pengendalian stres

Lakukan kegiatan yang mengurangi stres, misalnya meditasi, latihan fisik, terapi relaksasi, atau dengan menceritakan setiap masalah yang dialami kepada teman atau keluarga.

Olahraga

Olahraga teratur dapat menurunkan berbagai faktor risiko stroke. Cobalah untuk melakukan olahraga aerobik intensitas sedang paling tidak 2,5 jam per minggu atau intensitas berat 1,5 jam per minggu.

Berhenti merokok

Merokok dapat merusak dan mempersempit pembuluh darah seta meningkatkan risiko stroke. Sebisa mungkin hindari asap rokok juga, jangan sampai menjadi perokok pasif.