Apakah Stres pada Wanita Berhubungan dengan Bayi Prematur?

DokterSehat.Com– Stres didefinisikan sebagai respons fisiologis terhadap tuntutan dan ancaman psikologis dan fisik. Artinya – ketika “lingkungan menuntut sesuatu melebihi kapasitas adaptif suatu organisme, terjadi perubahan psikologis dan biologis yang dapat menempatkan orang-orang menjadi berisiko terkena penyakit”

doktersehat-hamil-pusing-Preeklamsia

Dalam dua dekade terakhir, stres psikososial telah berkembang untuk mencakup keadaan kesehatan mental dan stresor seperti kecemasan, depresi, rasisme, kurangnya dukungan sosial, mekanisme penyelesaian masalah, tekanan kerja, tekanan akulturasi, dan kekerasan dalam rumah tangga

Secara umum stres terbagi menjadi stres akut dan kronis. Sementara stres mungkin memiliki beberapa manfaat dalam merespons stresor, stres kronis telah terbukti terkait dengan penyakit kronis termasuk kelahiran prematur.

Contoh stres akut misalnya ujian akhir bagi mahasiswa, pertengkaran singkat dalam suatu hubungan, dan gangguan kecil dalam keuangan. Stres kronis berlanjut untuk jangka waktu yang lebih lama tanpa adanya resolusi terhadap ancaman atau tuntutan. Stresor yang menyertai rasisme sosial, tunawisma yang berkepanjangan, tinggal dalam kondisi sub-standar, tinggal di lingkungan dengan tingkat kejahatan tinggi, dan menjadi orang tua tunggal merupakan stres yang terus menerus dan kronis.

Kelahiran prematur adalah salah satu penyebab utama kematian bayi dan morbiditas masa kanak-kanak dan ini terutama disebabkan oleh ketuban pecah dini.  Bayi berat lahir rendah dan persalinan preterm, dan restriksi pertumbuhan intrauterine adalah penyebab utama morbiditas, mortalitas, dan gangguan perkembangan neonatal di seluruh dunia.

Kelahiran prematur adalah kelahiran bayi kurang dari 37 minggu masa kehamilan. Kelahiran preterm berkontribusi terhadap hasil kelahiran buruk lainnya seperti berat lahir rendah (didefinisikan sebagai 2.500 gram atau kurang), keterlambatan perkembangan, infeksi dan gangguan kognitif. Badan penelitian yang luas memberikan bukti untuk hubungan antara stres dan hasil kelahiran yang buruk seperti prematuritas dan berat lahir rendah. Efek samping kesehatan lainnya seperti cacat lahir, keguguran, lahir mati, dan komplikasi ibu (yaitu preeklampsia, diabetes gestasional, dan perdarahan prenatal) juga terkait dengan stres ibu.

Baca Juga:  Apa itu Kehamilan Sunsang dan Bagaimana Mengatasinya?

Tingginya tingkat prematuritas dan berat lahir rendah adalah masalah kesehatan masyarakat karena mereka adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas bayi dan neonatal. Bayi preterm memiliki risiko lebih tinggi untuk komplikasi serius seperti sistem pernapasan, gastrointestinal, sistem saraf, dan masalah imunogenisitas

Terdapat berbagai jalur fisiologis yang menggambarkan hubungan antara stress prenatal dan hasil persalinan yang buruk. Mekanisme hipotesis primer dari efek stress pada persalinan preterm adalah melalui neuroendokrin, inflamasi atau imun, dan jalur perilaku.

Mengalami peristiwa kehidupan yang besar, kecemasan terkait kehamilan, dan rasisme atau diskriminasi dapat memperburuk tingkat stres yang dirasakan di antara individu-individu sementara keterampilan mengatasi hal yang lebih tinggi dan dukungan sosial yang lebih besar dapat menjadi pelindung. Sementara prosesnya dapat bervariasi, tergantung pada kualitas (yaitu psikologis atau fisik), kekuatan dan durasi stres, paparan stres dapat menyebabkan dua urutan kejadian fisiologis yang melibatkan sistim saraf otonom dan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA). Hormon pelepas-kortikotropin (corticotrophin-releasing hormone/ CRH) memainkan peran kunci dalam memulai dan mengatur respons stres fisiologis. Pelepasan CRH dari hipotalamus ke hipofisis anterior memulai pelepasan hormon adrenokortikotropin secara sistemik (ACTH), yang menandakan kelenjar adrenal untuk melepaskan glukokortikoid (yaitu kortisol). Kondisi ini juga selain memainkan peran dalam sistem saraf simpatis yang menyebabkan pembuluh darah menyempit, juga memainkan peran terhadap respon hormonal, sehingga ketidakseimbangan keduanya akan menyebabkan kontraksi rahim yang lebih cepat dan terjadilah persalinan prematur.

Karena stres pada kehamilan dan stres sepanjang kehidupan wanita memegang peranan kunci terhadap persalinan prematur, dan karena persalinan prematur memiliki banyak risiko terkait komplikasi kesehatan bayi dan tingkat perkembangan bayi, maka penting untuk menjaga wanita agar tidak stres dan mendapatkan dukungan moral dan material dari orang-orang terdekat selama kehamilannya.