Awas Infeksi Zombie Oleh Gigitan Serangga

DokterSehat.Com – Apa yang terbayang di kepala Anda jika mendengar kata Zombie? Mungkin Anda akan membayangkan serial Walking Dead, film I am Legend atau sekelompok manusia yang tampak seperti mayat hidup berjalan dengan kaki diseret, merusak kota, menyerang manusia ‘normal’, menggigit, dan menyebarkan wabah zombie. Tapi, pernahkah Anda berpikir bahwa ‘infeksi zombie’ itu benar-benar ada?

doktersehat-virus-masker

Zombie, menurut ahli zombie Matt Mogk, harus memenuhi tiga kriteria: mayat hidup, agresif, dan terinfeksi. Yang dimaksud mayat hidup di sini bukan secara harfiah mayat yang hidup kembali, tetapi manusia hidup yang tidak sadar sepenuhnya. Keadaan ini terjadi akibat produksi tetrodotoksin, jenis neurotoksin yang berasal dari mikroorganisme penginfeksi, yang menyebabkan kesadaran penderita serupa saat tidur.

Infeksi zombie pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Amerika, diduga penyebabnya adalah virus Solanum, karena di kemudian hari terbukti virus ini menyebabkan kejadian serupa di berbagai belahan dunia. Berikutnya infeksi virus Trixie, senjata biologis hasil modifikasi Rhabdovirus, di Pennsylvania pada 1973 dan di Iowa pada 2010. Virus ini mengkontaminasi air setelah pesawat militer yang membawanya menabrak sebuah reservoir kota menyebabkan warga kota terinfeksi karena mengkonsumsi air yang berasal dari reservoir tersebut. Dan yang tak kalah menggemparkan adalah wabah infeksi zombie di London, Inggris, setelah seorang aktivis binatang tergigit oleh simpanse yang sedang dites dengan virus hasil modifikasi Ebola. Wabah yang terjadi pada tahun 2004 ini menyebabkan karantina seluruh pulau Britania.

Gejala infeksi umumnya seragam, namun waktu inkubasinya bervariasi mulai dari hitungan detik hingga hari. Gejala yang khas adalah penurunan kesadaran yang dibarengi dengan peningkatan agresivitas, pasien menjadi  mudah marah, cenderung ingin menyerang dan menggigit. Gejala lain berupa gaya berjalan seperti diseret –seperti yang Anda lihat di film-film zombie-, mengerang, menurunnya ketangkasan dan sifat kepribadian, serta membusuk. Pada kasus yang jarang, gejala yang timbul adalah meningkatnya kecerdasan dan kewaspadaan dengan lebih sedikit peningkatan agresivitas.

Baca Juga:  Cara Pola Makan Sehat Di Masa Kehamilan

Kesamaan wabah-wabah tersebut adalah penularannya melalui gigitan. Dari hasil penelitian, diduga infeksi ini juga ditularkan oleh serangga, seperti kutu kasur di Amerika Selatan dan nyamuk yang membawa hasil modifikasi virus Kellis-Amberlee. Sedangkan penyebabnya antara lain adalah bentuk modifikasi Yersinia pestis, jamur Cordyseps, mutasi strain M. Bovis, dan lain-lain, baik secara tunggal maupun kombinasi.

Cepatnya onset dan kecenderungannya merusak masyarakat, menyebabkan sulitnya pengembangan langkah pencegahan dan terapi. Amputasi daerah tergigit, terbukti berhasil mencegah berkembangnya infeksi pada beberapa kasus, tapi tidak dapat dijadikan upaya pencegahan preventif universal. Pengembangan vaksin pun sulit dilakukan karena dibutuhkan biaya yang besar dan laboratorium yang mampu menyediakan bahan patogen zombie. Bahkan bila terapi efektif telah dikembangkan, kemungkinan obat harus dikonsumsi terus menerus untuk mencegah pasien berubah kembali menjadi zombie. Oleh karena itu, diperlukan riset lebih lanjut.

Kenyataaan bahwa infeksi zombie seringkali disebabkan oleh mikroorganisme hasil pengembangan senjata biologis cukup mengkhawatirkan sehingga sebaiknya ada diskusi nyata antara ilmuwan dan pemerintah untuk mencegah terjadinya ‘kecelakaan’ dan bila perlu menghentikan pengembangan senjata biologis yang dapat berujung tersebarnya wabah zombie dan mengancam keberadaan umat manusia pada khususnya dan kehidupan pada umumnya.

Sumber: British Medical Journal