Apa yang Terkandung dalam Vaksin?

DokterSehat.Com– Sebelum Anda yakin bahwa Anda dan anak Anda mendapatkan vaksinasi, ada baiknya Anda menelaah dahulu apa isi dari 1 vial vaksin tersebut. Benarkah aman dan tidak membahayakan tubuh Anda, dan benarkah vaksin bermanfaat untuk tubuh Anda. Artikel ini mungkin bermanfaat untuk Anda yang pro terhadap vaksinasi dan berguna juga untuk Anda yang termasuk Gerakan Anti Vaksin untuk lebih mendalami keamanan vaksin sehingga dapat memberikan perspektif lain dari cara pandang Anda tentang isi vaksin.



Dalam 1 vial/ suntikan vaksin biasanya berisi cairan sebanyak 0,5 sampai 1 cc vaksin.

1. Bahan Aktif
Yaitu virus atau bakteri yang merupakan antigen yang akan dimasukkan ke dalam tubuh sehingga merangsang tubuh membentuk antibody sesusai dengan antigen yang dimasukannya. Tubuh diharapkan menjadi kebal terhadap penyakit akibat virus/ bakteri tersebut sehingga tidak menjadi sakit atau mengalami komplikasi akibat penyakit itu.

Bahan aktif tersebut bisa berupa:

  • Virus utuh (virus polio, campak, influenza yang live attenuated )
  • Virus subunit (protein HbsAg dari virus Hepatitis B, protein L1 dari HPV, yang dibuat menjadi vaksin menggunakan metode DNA rekombinan)
  • Komponen bakteri:
    • polisakarida dinding sel pada vaksin Pneumokokus, Hib, meningokokus, tifoid)
    • tiga jenis protein pada vaksin pertusis aselular
  • Toksin bakteri: Pada toksoid difteri dan toksin tetanus
  • Bakteri utuh: Mycobacterium pada vaksin BCG

2. Ajuvan/ tambahan
Berfungsi memaksimalkan respons sistem imun tubuh. Antigen + Adjuvant dikenali jauh lebih cepat oleh tubuh daripada Antigen saja. Adjuvant yang paling sering digunakan antara lain garam aluminium. Aluminium sudah dipakai lebih dari 80 tahun.Apakah Aluminium aman?

Dosis garam aluminium yang diizinkan adalah 1.14 mg/ dosis vaksin (ketentuan FDA, Badan POM Amerika). Tidak ada satupun vaksin yang aluminiumnya lebih dari nilai ini. Bagaimana dengan kabar yang menceritakan bahwa aluminium dapat merusak ginjal, otak dan sebagainya.

Sekali lagi, dosis yang diizinkan itu kecil sekali dibandingkan dengan dosis yang dapat ditoleransi tubuh. Karena isu ini berkembang terus, pada Mei 2000, FDA mengundang ratusan ahli vaksin dari seluruh dunia, baik yang pro maupun yang kontra terhadap Aluminium, untuk saling beradu data. Kesimpulan FDA (tahun 2000, hingga kini tak berubah): Penggunaan garam aluminium pada vaksin dinyatakan aman dan efektif.

Sampai sekarang, Aluminium masih digunakan di mayoritas vaksin. Kita tak perlu khawatir karena statusnya sudah dinyatakan aman oleh ratusan ahli.

3. Pelarut
Pelarut adalah cairan yang digunakan untuk melarutkan vaksin hingga konsentrasi tertentu, sehingga dapat disuntikkan atau diteteskan ke dalam tubuh. Bahan yang digunakan adalah air steril / aquabidest atau Natrium klorida (cairan infus). Baik golongan anti vaksin maupun provaksinasi setuju bahwa pelarut yang berupa cairan infus ini aman untuk tubuh.

Baca Juga:  Vaksin HPV, Seberapa Efektif?

4. Stabilizer
Fungsi zat ini adalah menstabilkan vaksin saat berada pada kondisi ekstrem, misalnya panas. Dosis yang digunakan amat kecil, yaitu <10 mikrogram. Jenis-jenis stabilizers antara lain: gula (sukrosa & laktosa), asam amino (glisin, asam glutamat) atau protein (albumin, gelatin).

Isu yang berkembang mengenai stabilizers adalah penggunaan stabilizer jenis protein (terutama gelatin) dapat menyebabkan reaksi alergi. Namun hal ini dibantah dengan fakta kejadiannya yang amat sangat jarang.

5. Pengawet
Preservatives berfungsi untuk mencegah tumbuhnya bakteri/ jamur selama proses pembuatan vaksin. Namun tidak semua vaksin menggunakan preservatives. Zat ini terutama digunakan di kemasan vaksin multidosis untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme.

Saat ini, hanya ada 4 jenis Preservatives yang diizinkan digunakan. Yang paling terkenal adalah Timerosal (turunan merkuri).

Isu aman-tidaknya Timerosal ini dimulai sejak awal 1990 di negara-negara Barat. Beberapa ahli menduga merkuri menyebabkan autisme & ADHD. Dengan adanya isu ini maka para ahli pun berkumpul kembali dan pada tahun 2000, badan POM dari USA mengeluarkan rekomendasi, yakni sebisa mungkin pabrik pembuat vaksin tidak menggunakan Timerosal.

Penelitian berlanjut di tahun 2001, dan organisasi IOM menyatakan bahwa data yang ada tak cukup kuat utk menyimpulkan apakah ada/ tidak hubungan Timerosal dengan autisme.

Timerosal merupakan etil merkuri. Sifat etil merkuri SANGAT BERBEDA dengan metil merkuri. Etil merkuri yang digunakan dalam vaksin tidak akan terakumulasi dalam tubuh karena cepat dimetabolisme dan waktu paruhnya hanya 7 hari. Dosis yang digunakan pun amat sangat kecil. Sedangkan merkuri berbahaya yg selama ini sering kita dengar adalah bentuk metil merkuri, yang sifatnya berbeda dengantimerosal (etil merkuri). Lebih berbahaya metil merkuri yang kita konsumsi sehari-hari dari seafood.

Tahun 2004 IOM mengeluarkan kesimpulan final, yaitu tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin yang mengandung Timerosal dengan kejadian autisme, ADHD, dll. Namun sejalan dengan promosi kesehatan dunia bebas merkuri pada produk apapun (kosmetik, obat, dll), tetap dianjurkan produksi vaksin tanpa merkuri. WHO sendiri tetap memperbolehkan penggunaan Timerosal khususnya untuk vaksin multidosis. Vaksin yang diproduksi di AS dan Eropa saat ini bebas merkuri.

6. Residu
Selain antigen dan zat aditif, terkadang vaksin memiliki residu yang timbul selama proses pembuatan. Residu berupa: formaldehid, antibiotik, partikel2 mikroorganisme; yang kadarnya amat sangat kecil, bahkan sering tak terdeteksi.

Dr. Kristo Hendra Djaya

Ditulis oleh Dr. Kristo Hendra Djaya, SpPD

Dr. Kristo Hendra Djaya, SpPD merupakan dokter ahli pencegahan penyakit, Vaksinologis, Internis di RSIA Bun Kosambi dan CEO dari Klinik InHarmony. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang mendalam mengenai penyakit dalam dan pencegahan penyakit, beliau merupakan salah satu pakar vaksin & imunisasi yang terdepan dan paling dicari di Indonesia.