Apa Sebab Anak Laki-Laki Suka Main Perang-Perangan?

DokterSehat.Com – Kita tentu akan sering melihat anak laki-laki, khususnya yang berusia di bawah 11 tahun, yang bermain layaknya mereka sedang dalam peperangan dimana mereka bisa berimajinasi memakai senjata untuk menembak orang atau teman lainnya. Senjata ini bahkan bisa didapatkan dari benda-benda layaknya tongkat, bola, atau bahkan penggaris. Beberapa orang tua biasanya khawatir akan hal ini karena menganggap anaknya menyukai sesuatu hal yang berbau kekerasan. Sebenarnya, apakah kebiasaan bermain perang-perangan ini normal dilakukan oleh anak laki-laki?

doktersehat-anak-kecil-laki-bermain-perang

Pakar kesehatan Michael Thompson, Ph.D menyebutkan jika ada banyak sekali orang tua yang mengkhawatirkan anak laki-lakinya yang seakan-akan terobsesi dengan permainan peperangan ini. Namun, menurut beliau, fantasi dan permainan anak-anak ini sebenarnya hanyalah efek dari aktifnya anak laki-laki di masa kecilnya. Anak laki-laki memang cenderung lebih aktif jika dibandingkan dengan anak perempuan, khususnya saat dalam usia sekolah. Anak laki-laki memiliki energi yang sangat besar sehingga Ia seakan-akan bisa terus bermain tanpa rasa lelah. Salah satu cara agar energi ini bisa tersalurkan adalah dengan cara melakukan permainan perang-perangan, berpetualang, atau bertarung dengan orang lain.

Tentang kekhawatiran orang tua bahwa sang anak nantinya menyukai hal yang berbau dengan kekerasan, Thompson berkata jika orang tua tidak terlalu mengkhawatirkannya. Fantasi anak-anak biasanya hanya akan terjadi pada masa anak-anak dan tidak akan berlanjut menjadi sifat dan perilakunya nanti saat beranjak. Namun, tentu saja dengan catatan sang anak mendapatkan pendidikan dan lingkungan yang membuatnya tidak menyukai hal-hal yang berbau dengan kekerasan.

Memang, tidak semua anak laki-laki suka memainkan peperangan, berolahraga, atau bahkan berlarian sepanjang hari. Namun, biasanya energi anak laki-laki memang sangatlah besar di masa kecilnya. Kita tidak perlu mengkhawatirkan kebiasaan anak-anak asalkan masih dalam batas yang wajar dan masih bisa diarahkan ke hal-hal yang positif.