Apa itu Skizofrenia?

DokterSehat.Com – Skizofrenia merupakan kelainan otak berat yang mengubah cara seseorang dalam berpikir, bertindak, mengungkapkan perasaan, mengartikan suatu pertistiwa, dan berhubungan dengan orang lain. Orang dengan skizofrenia – penyakit mental paling kronis dan paling berat ini – seringkali mengalami masalah dalam melakukan fungsinya di dalam masyarakat, lingkungan kerja, sekolah, dan hubungan sosial dengan orang lain. Skizofrenia dapat membuat penderitanya mengalami ketakutan dan menarik diri. Penyakit ini merupakan penyakit seumur hidup yang tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan dengan tata laksana yang tepat.

doktersehat-konsultasi-Limfadenopati

Skizofrenia bukan merupakan kepribadian yang lebih dari satu. Skizofrenia termasuk dalam gangguan psikosis, yaitu suatu jenis kelainan mental dimana seseorang tidak mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya khayalan semata. Kadang-kadang, orang dengan gangguan psikosis seperti lepas dari kenyataan. Dunia ini bagi mereka seperti sekumpulan pikiran, gambar-gambar, dan suara yang membingungkan. Tingkah laku orang dengan skizofrenia bisa sangat aneh dan tak terduga. Perubahan kepribadian dan tingkah laku secara mendadak, yang terjadi ketika penderita skizofrenia lepas dari kenyataan, disebut sebagai episode psikotik.

Berat ringannya skizofrenia bervariasi pada tiap orang. Ada yang hanya mengalami satu kali episode psikotik dan ada pula yang mengalami episode psikotik berulang kali sepanjang hidupnya tetapi masih bisa menjalani hidup secara normal saat sedang tidak dalam episode psikotik. Ada juga yang terus mengalami penurunan fungsi dirinya seiring dengan berjalannya waktu. Gejala skizofrenia cenderung hilang dan timbul dalam suatu siklus yang disebut remisi dan relaps.

Skizofrenia dapat dibagi menjadi beberapa jenis:

  • Dimana seseorang merasa dikejar-kejar atau diawasi.
  • Dimana seseorang tampak bingung dan kacau.
  • Dimana seseorang secara fisik tidak bergerak atau tidak berbicara sama sekali.
  • Jenis dimana tidak ada gejala dari tiga jenis di atas yang lebih menonjol dibanding yang lain.
  • Dimana gejala psikotik sudah sangat berkurang atau tidak tampak.

Gejala positif skizofrenia

Positif disini bukan berarti baik, tetapi gejala yang menunjukkan bentuk pikir atau tingkah laku tidak rasional yang tampak sangat jelas, bahkan berlebihan. Gejala yang terkadang disebut gejala psikotik ini antara lain:

  • Delusi atau waham. Delusi adalah kepercayaan aneh yang tidak realistis dan orang yang meyakininya tersebut tidak mau diubah keyakinannya walaupun sudah diberi informasi yang benar. Contohnya, orang yang menderita delusi mungkin merasa bahwa orang lain bisa mendengarkan isi pikirannya, bahwa dirinya adalah Tuhan, atau bahwa orang lain berusaha mengendalikan pikirannya.
  • Yaitu adanya sensasi yang tidak nyata, misalnya melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, mendengar suara, atau merasakan sentuhan di kulit walaupun tidak ada yang menyentuk.
  • Ialah kondisi dimana seseorang secara fisik berada pada satu posisi saja, tidak bergerak sama sekali, untuk waktu yang lama.

Ada juga gejala positif lain yang menunjukkan ketidakmampuan seseorang dalam berpikir jernih dan memberikan respon secara tepat, contohnya:

  • Berbicara ‘ngalor ngidul’ atau menggunakan kata-kata yang aneh sehingga orang lain tidak bisa memahami perkataannya
  • Pola pikir yang meloncat-loncat dari satu topik ke topik lain
  • Bergerak dengan lambat
  • Tidak bisa membuat keputusan
  • Menulis banyak tulisan tetapi tidak ada maknanya
  • Lupa akan segala hal
  • Mengulang-ulang suatu gerakan, misalnya berjalan mondar-mandir atau berputar-putar
  • Tidak bisa memahami apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan

Gejala kognitif skizofrenia

  • Buruknya fungsi eksekutif (kemampuan untuk memahami suatu informasi dan memanfaatkan informasi tersebut untuk membuat suatu keputusan)
  • Gangguan dalam memusatkan perhatian
  • Kesulitan untuk mengingat sesuatu

Gejala negatif skizofrenia

Negatif di sini bukan berarti buruk, melainkan tidak adanya tingkah laku tertentu yang pada orang normal ada tetapi pada skizofrenia tidak ada. Gejala negatif meliputi:

  • Kurangnya emosi, tidak bisa dibedakan apakah senang atau sedih
  • Penarikan diri dari keluarga, teman, dan aktivitas sosial
  • Kurangnya energi
  • Tidak banyak bicara
  • Kurangnya motivasi
  • Kehilangan rasa puas atau kesenangan dalam hidup
  • Kurangnya perawatan diri
Baca Juga:  Tidur Lebih Cepat, Anak Pun Akan Menurunkan Resiko Terkena Obesitas

Apa yang menyebabkan skizofrenia?

Penyebab pastinya belum diketahui. Namun, yang pasti – seperti kanker dan diabetes – skizofrenia merupakan penyakit sungguhan dengan dasar biologis. Skizofrenia bukan merupakan akibat dari pola asuh yang buruk atau kepribadian yang lemah. Para peneliti telah menemukan beberapa faktor yang berperan dalam terjadinya skizofrenia termasuk:

  • Skizofrenia dapat diturunkan dari orang tua ke anaknya.
  • Arus listrik dan zat kimia dalam otak. Orang dengan skizofrenia memiliki pengaturan zat kimia tertentu (neurotransmiter) di dalam otak, sehingga mengganggu perjalanan sinyal kelistrikan di dalam otak yang dapat mengganggu pola pikir dan perilaku.
  • Kelainan otak. Penelitian mengungkapkan bahwa pada orang skizofrenia terdapat struktur dan fungsi otak yang abnormal. Namun, kelainan ini tidak terjadi pada semua orang yang menderita skizofrenia dan malah bisa juga terjadi pada orang yang tidak menderita skizofrenia.
  • Faktor lingkungan. Faktor lingkungan tertentu, misalnya infeksi virus, paparan zat beracun seperti marijuana, atau tingkat stres yang tinggi, dapat mencetuskan skizofrenia pada orang yang rentan mengalaminya termasuk orang dengan riwayat keluarga penderita skizofrenia.

Siapa saja yang bisa menderita skizofrenia?

Semua orang bisa menderita skizofrenia. Skizofrenia ditemukan di semua ras dan budaya di seluruh dunia. Skizofrenia juga dapat terjadi pada semua usia, tetapi umumnya muncul pertama kali pada usia remaja atau awal 20an. Penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita, meskipun gejala biasanya muncul lebih awal pada pria (pada usia remaja atau 20an) dibanding wanita (usia 20-30an). Semakin muda usia saat gejalanya pertama kali muncul, semakin berat penyakitnya dan semakin kecil peluang untuk bisa menjalankan fungsi kehidupan dengan baik.

Diagnosis dan pengobatan

Untuk mendiagnosis skizofrenia, dokter perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Tidak ada pemeriksaan laboratorium ataupun radiologi yang dapat mendukung diagnosis penyakit ini. Dokter umum akan merujuk ke spesialis kejiwaan yang selanjutnya akan melakukan wawancara secara mendalam pada pasien dan keluarganya untuk menentukan diagnosis dan terapi yang tepat.

Tujuan pengobatan skizofrenia adalah untuk mengurangi gejalanya dan menurunkan angka kekambuhan (relaps). Terapi bisa meliputi:

  • Obat-obatan. Yang disebut dengan antipsikotik.
  • Terapi psikososial. Untuk mengatasi masalah perilaku, psikologis, sosial, dan okupasional yang berhubungan dengan penyakit ini.
  • Perawatan di rumah sakit. Tidak semua pasien skizofrenia perlu dirawat di rumah sakit. Hanya yang memiliki gejala yang berat atau berpotensi mencelakai dirinya sendiri atau orang lain atau yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri saja yang perlu dirawat di rumah sakit.
  • Electroconvulsive therapy (ECT). Terapi dengan memberikan kejutan listrik di otak.

Apakah orang dengan skizofrenia itu berbahaya?

Banyak buku dan film yang menunjukkan orang dengan skizofrenia atau gangguan jiwa lain sebagai orang yang berbahaya. Itu tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar penderita skizofrenia itu tidak berbahaya. Namun, pada beberapa kasus orang dengan gangguan jiwa mungkin melakukan suatu aktivitas yang berbahaya sebagai hasil dari kondisi psikotik mereka atau akibat dari perasaan mereka yang seperti ketakutan atau merasa terancam. Justru orang dengan skizofrenia itu cenderung berbahaya bagi dirinya sendiri. Bunuh diri merupakan penyebab kematian nomer satu pada penderita skizofrenia.

Apakah skizofrenia bisa disembuhkan?

Dengan tata laksana yang tepat, sebagian besar penderita skizofrenia dapat menjalani hidupnya secara optimal, bergantung pada berat ringannya kondisi psikosis dan kontinuitas terapi. Sebagian besar dari mereka ini mampu membaur dengan keluarga dan masyarakat tanpa perlu perawatan di rumah sakit jiwa. Penelitian masih terus dilakukan untuk mengembangkan obat yang lebih efektif dengan efek samping yang lebih ringan.

Apakah skizofrenia bisa dicegah?

Belum ditemukan cara untuk mencegah skizofrenia. Cara yang paling baik untuk mencegah gangguan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial penderita adalah dengan deteksi dan pengobatan secara dini.