Apa Itu Diet Lemon?

DokterSehat.com – Diet lemon sudah dikenal lebih dari 50 tahun. Program diet ini dinilai  cepat memangkas kelebihan berat badan. Diet ini menggunakan lemon sebagai bahan utama untuk mengikis lemak. Bahkan beberapa orang melakukan diet ini secara ekstrim dengan  hanya mengonsumsi jus lemon tanpa mengonsumsi makanan apapun selama dua minggu.



Padahal diet semacam ini bisa berbahaya bagi kesehatan Anda. Ahli gizi menunjukkan bahwa diet lemon ini bisa mengurangi semua nutrisi penting: kalori, vitamin, mineral, protein, karbohidrat, serat, dan lemak.

Pada saat menjalankan diet lemon ini Anda tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan padat atau suplemen apapun. Anda hanya mengkonsumsi jus lemon untuk membuat Anda terhidrasi. Selama menjalankan program diet ini Anda disarankan untuk mengonsumsi jus lemon yang sudah dicampur berbagai bahan sebanyak 6 gelas atau lebih tiap harinya. Satu gelas jus lemon mengandung:
2 sendok segar diperas jus lemon
2 sendok makan kelas-B sirup maple organik
1/10 sendok teh lada cayenne
10 ons air yang disaring

Setelah menjalankan program ini selama 4-14 hari, pelaku diet disarankan untuk secara perlahan kembali mengonsumsi makanan padat, dimulai dengan menu seperti sup sayuran, diikuti oleh buah-buahan dan sayuran.

Cara Bekerja Diet Lemon

Anda akan kehilangan berat badan selama menjalankan program diet lemon karena dengan melakukan “puasa” tubuh akan kehilangan cukup banyak kalori. Tapi sebenarnya, Anda hanya akan kehilangan air dan otot, bukan lemak.

Selama menjalankan program ini Anda akan merasa lapar dan mungkin mengalami sakit kepala, kelelahan, pusing, kelesuan, diare, mual, atau sembelit. Tidak ada bukti medis bahwa “pembersihan” diet ini sebenarnya dapat membersihkan tubuh dari racun yang menumpuk dalam limbah tubuh.

Baca Juga:  Tips Berlari Yang Aman dan Efektif

Pendapat Ahli

Ahli diet Melinda Johnson, RD, tidak melihat adanya hal positif tentang diet seperti ini.
“Tidak ada bukti ilmiah bahwa Anda butuh melakukan program detoks untuk membersihkan tubuh atau membantu menurunkan berat badan,” katanya.

Para ahli sepakat bahwa program diet seperti ini tidak efektif, bahkan cenderung berbahaya. Berhenti makan hanya akan memusnahkan bakteri sehat dalam usus yang berfungsi membantu pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Penurunan berat badan yang cepat hanya akan menghilangkan otot tanpa lemak. Pamela Peeke ahli kebugaran, MD, mengatakan bahwa melakukan diet tanpa adanya protein yang cukup membuat tubuh harus mendapatkan protein dari sumber lain. Akibatnya, tubuh akan membakar massa otot Anda sendiri. Pada akhir program diet ini, berat badan memang berkurang, tapi tubuh Anda akan memiliki lebih banyak lemak dan otot yang sedikit.

Sebaiknya jangan lakukan penghentian makan dan detoksifikasi, karena kedua program ini berisiko dan tidak bekerja dalam jangka panjang

Pilihlah program penurunan berat badan yang sesuai gaya hidup Anda dan bisa dilakukan dalam jangka panjang.