Antibiotik Bisa Memicu Kasus Asma

doktersehat-sesak-nafas-asma

DokterSehat.Com– Penyakit Asma (Asthma) adalah suatu penyakit kronik (menahun) yang menyerang saluran pernafasan (bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) dinding rongga bronchiale sehingga mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya seseorang mengalami sesak nafas. Penyakit Asma paling banyak ditemukan di negara maju, terutama yang tingkat polusi udaranya tinggi baik dari asap kendaraan maupun debu padang pasir.

Penggunaan antiobiotik secara tidak wajar ternyata tidak hanya memicu resistensi kuman terhadap obat antibiotik, tetapi juga berpotensi meningkatkan kasus dan keparahan penyakit asma alergi pada usia dini. Demikian hasil riset yang dilakukan para ahli dari University of British Columbia.

Temuan ini sedianya dipublikasikan hari ini dalam journal EMBO report. Dalam kajiannya, peneliti menemukan bahwa pemakaian antibiotik tertentu dapat merusak bakteri pada usus yang dapat memicu perkembangan penyakit asma.

“Telah lama diketahui bahwa banyak anak-anak yang sering terpapar antibiotik – seperti yang terjadi di beberapa negara maju – sehingga mereka lebih rentan terhadap asma,” kata peneliti, Brett Finlay, ahli mikrobiologi dari University of British Columbia.

“Penelitian kami adalah bukti eksperimental pertama yang menunjukkan bagaimana paparan antibiotik dapat memicu perkembangan asma,” tambahnya.

Dalam risetnya, Finlay dan tim meneliti bagaimana efek penggunaan dua jenis antibiotik yang secara luas digunakan seperti streptomisin dan vankomisin, dapat mempengaruhi ekosistem bakteri dalam usus. Finlay menemukan bahwa vankomisin dapat mengubah komunitas bakteri di dalam usus dan meningkatkan keparahan dari asma (hasil uji coba pada tikus).

Sementara penggunaan antibiotik yang sama pada tikus dewasa tidak mempengaruhi kerentanan tikus terhadap asma. Hal ini menunjukkan bahwa awal kehidupan menjadi masa kritis dalam membangun sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Peneliti mencatat, penyakit asma telah mempengaruhi lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia dan prevalensinya terus mengalami meningkat rata-rata sebesar 50 persen setiap dekade, khususnya di kalangan anak-anak yang tinggal di negara industri.

Finlay mengatakan, di dalam usus manusia terdapat sekitar 100 triliun bakteri, dan berisi lebih dari 1.000 spesies bakteri. “Meskipun tidak sepenuhnya dipahami, tetapi mikro-organisme, yang dikenal sebagai “flora usus” melakukan sejumlah fungsi yang justru sangat berguna untuk manusia,” kata Finlay.

“Praktik sosial modern, seperti peningkatan metode sanitasi dan pemakaian antibiotik secara luas, disinyalir sebagai penyebab hilangnya spesies bakteri baik di dalam usus kita yang mungkin berperan penting untuk sistem kekebalan tubuh yang sehat,” kata Finlay.

Finlay kembali menegaskan, pemberian antibiotik kepada anak-anak mungkin dapat mengganggu kehidupan normal dari bakteri, sehingga tidak boleh dianggap remeh.

Studi didanai oleh Canadian Institute of Health Research (CIHR). Marc Ouellette, Direktur Ilmiah dari CIHR mengungkapkan, “telah diakui bahwa mikroba memainkan peran penting dalam kesehatan manusia – dan kami menemukan bahwa gangguan pada bakteri telah dikaitkan dengan beberapa kondisi kesehatan kronis.

Hasil penting dari tim Prof Finlay mengkonfirmasi bahwa “pemberian antibiotik kepada anak-anak muda, yang mengganggu flora normal bakteri, tidak boleh dianggap enteng.”

ikuti-kontes-sehatitubaik-menangkan-berbagai-hadiah-menarik