Anak Kecil Juga Bisa Stres

Doktersehat.com – Apakah anak Anda sering merengut atau membanting benda-benda di sekitarnya? Jika hal ini terjadi pada anak Anda bisa jadi buah hati Anda sedang mengalami stres.



Stres merupakan reaksi tubuh terhadap situsasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, dan ketegangan emosi. Stres juga dapat terjadi pada anak-anak. Layaknya orang dewasa, anak yang masih kecil pun bisa stres akibat beban pendidikan yang sangat berat. Untuk itu orangtua perlu mempertajam observasinya dan berusaha mendengar apa perasaan yang dialami si kecil.

Seperti diketahui pendidikan yang ada saat ini membuat anak merasa sangat terbebani, banyaknya pekerjaan rumah yang diberikan serta panjangnya waktu sekolah terkadang membuat anak jadi stres.

Namun sayangnya, orang tua kadang tidak menyadari kondisi stres yang dialami oleh si kecil, sehingga anak semakin merasa tertekan dan ia merasa bingung bagaimana harus mengungkapkan perasaannya. Sebaiknya para orang tua mempunyai ketajaman observasi untuk mengetahui symptom-symptom yang ditunjukkan ketika anak sedang stres.

Psikolog Rustika Thamrin menuturkan anak yang stres biasanya menunjukkan gejala seperti jadi lebih mudah marah, kemudian banting pintu atau benda lain, merengut. Namun sayangnya banyak sekali kasus anak sudah memperlihatkan kekesalan tapi orang tua tidak menyadari dan anak tidak berani menunjukkannya secara langsung. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua lebih peka jika anak sudah menunjukkan gejala stres dan kemudian cobalah bicara 2 arah dengan anak. Komunikasi 2 arah sangat penting dilakukan agar anak tidak selalu memendam perasaannya dan terbiasa untuk mengungkapkan perasaannya.

“Karena hak hakiki anak adalah bagaimana ia didengar perasaannya. Nah, ini yang sering sekali ‘teraniaya’ karena anak tidak didengar perasaannya, dan nanti meledaknya bisa jadi anak kabur atau anak berusaha bunuh diri,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kenali Penyebab, Gejala, Dan Penanganan Batu Empedu

Tika mengungkapkan stres yang dialami oleh si anak bisa karena beban pelajaran, tapi sebenarnya yang paling hakiki adalah dia merasa dirinya tidak dihargai oleh sekolah dan terutama yang signifikan dengan dirinya, siapa itu adalah orang tua.

“Jadi memang orang tua ini tidak bisa mengharapkan anak harus ngomong karena anak sendiri tidak terbiasa untuk ngomong, bingung bagaimana harus bicara atau cara menyampaikan yang tepat ke orang tua sehingga anak menjadi tidak terbuka,” ujar Tika.

Namun jika orang tua dan anak memiliki komunikasi 2 arah yang baik, anak akan lebih mudah untuk mengungkapkan perasaannya dan orang tua juga jadi tahu apa yang dialami oleh si anak, sehingga keduanya dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

Sumber: detik.com