Anak Batuk, Perlukah Obat?

Doktersehat.com – Setiap kali anak batuk, yang terpikirkan oleh orang tua yaitu memberikan obat batuk untuk anak. Obat batuk memang obat yang bisa dibeli dimana saja tetepi perlu diketahui bahwa obat batuk memiliki resiko yang dapat mengganggu kesehatan anak. Orangtua sebaiknya berhati-hati dalam memberikan obat batuk, khususnya pada balita. Apabila batuk dirasakan tidak terlalu menganggu dan berbahaya, anak sebaiknya cukup diberikan air putih atau ASI saja (usia di bawah 6 bulan).



alah satu akibat merugikan (adverse reaction) yang sangat fatal dari obat batuk yang diberikan pada anak-anak adalah terjadinya Reye’s syndrome. Penyakit ini mengakibatkan penimbunan lemak pada otak, hati dan organ tubuh lainnya pada anak dan remaja, terlebih-lebih bilamana mereka sedang menderita cacar air (chicken pox) atau flu. Di masa lampau, bila anak-anak mengalami cacar air atau selesma, para orangtua segera memberikan aspirin untuk mengatasi demam, sakit kepala dan nyeri pada tubuh. Hasil penelitian membuktikan bahwa aspirin atau salicilat ternyata dapat mengakibatkan Reye’s syndrome yang diikuti dengan kerusakan otak (brain damage) pada anak. Oleh karenanya, segala obat penghilang rasa nyeri yang mengandung aspirin tidak diperbolehkan lagi diberikan pada anak di bawah usia enam tahun. Bahkan otoritas kesehatan di banyak negara maju sudah merekomendasikan untuk tidak memberikan obat aspirin dan obat batuk ini untuk anak di bawah 12 tahun.

Ada beberapa jenis obat batuk yang tersedia dipasaran, seperti ekspektoran dan antitusif.  Menurut dokter spesialis anak di Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina dr. Herbowo Soetomenggolo, untuk anak di bawah usia 6 tahun, penggunaan obat batuk antitusif tidak dianjurkan karena justru dapat memicu masalah yang lebih serius seperti pneumonia.

Baca Juga:  Rasa Cemas Yang berlebihan

“Batuk adalah suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan lendir dan kuman. Jadi bagaimana anak bisa mengeluarkan lendir atau kuman kalau diberikan antitusif,” kata Herbowo saat acara temu media di Jakarta, Senin, (2/7/2012).

Antitusif adalah senyawa yang bekerja dengan menekan pusat batuk. Obat-obat antitusif ini menghentikan rangsangan batuk, menurunkan frekuensi dan intensitas dorongan batuk karena refleks batuk ditekan atau dihambat.

Herbowo menerangkan, pemberian antitusif akan membuat lendir dan kuman menetap di dalam paru-paru sehingga akan berkembang biak. Masa inkubasi (dari kuman masuk sampai menimbulkan penyakit) biasanya berlangsung selama 3-7 hari. Tapi, bila yang masuk adalah kuman pneumonia yang ganas, hanya dalam waktu satu hari bisa langsung menimbulkan gejala sesak dan kematian.

“Makanya pada anak yang sedang batuk obat ini sangat tidak dianjurkan. Kalau anak masih di bawah 6 bulan minum beri saja ASI. Karena ASI dan air putih adalah pengencer dahak yang paling baik,” katanya.

Herbowo menganjurkan, kalau memang batuk pada anak terlihat sangat mengganggu dan butuh obat, sebaiknya berikan obat batuk pencencer dahak (ekspektoran) dan obat yang bisa membantu mengeluarkan dahak. Penggunaan obat batuk pada anak adalah pilihan terakhir. Bilamana anak mengalami batuk yang disebabkan oleh flu biasa, maka tanpa diberikan obat gejala batuk-batuk ini akan hilang dengan sendirinya.

“Bilamana batuk-batuk berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya bawa ke dokter untuk mencari penyebabnya, sehingga obat yang diberikan tepat guna dan sasaran,” tutupnya.

Sumber : kompas.health.com & kesehatan.kompasiana.com