Amputasi – Pengertian, Penyebab, dan Prosedur

Amputasi adalah operasi pengangkatan seluruh atau sebagian anggota tubuh seperti kaki, tangan, atau jari. Amputasi merupakan suatu momok menakutkan bagi setiap orang, namun sering kali menjadi satu-satunya pilihan agar jaringan tubuh dapat berfungsi dengan baik.

doktersehat-amputasi

Untuk diketahui, di Indonesia sendiri, jumlah amputasi kaki yang disebabkan karena diabetes berkisar antara 15-30 % dengan angka kematian penderita ulkus/gangren berkisar diantara 17-32 tahun.

Penyebab Amputasi

Ada banyak alasan kenapa amputasi harus dilakukan. Salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah karena sirkulasi yang buruk atau adanya kerusakan pembuluh darah arteri. Tanpa aliran darah yang memadai, sel-sel tubuh tidak bisa mendapatkan oksigen dan nutrisi dari aliran darah. Akibatnya, jaringan yang terkena mulai mati dan infeksi dapat terjadi.

Penyebab lainnya untuk amputasi mungkin termasuk:

  • Cedera parah (dari kecelakaan kendaraan atau luka bakar serius)
  • Tumor ganas/ kanker di tulang atau otot ekstermitas (anggota gerak tubuh)
  • Infeksi serius yang tidak membaik dengan antibiotik atau pengobatan lainnya
  • Penebalan jaringan saraf (neuroma)
  • Kematian jaringan karena pembekuan (frostbite). Frostbite adalah membekunya sebagian organ tubuh yang terpapar oleh suhu dingin yang berlebihan. Frostbite umumnya terjadi pada suhu 0°C (32°F). Frostbite dikenal dengan radang dingin dimana jaringan sel di dalam tubuh menjadi rusak karena terjadi pembekuan.

Prosedur Amputasi

Amputasi biasanya memerlukan rawat inap di rumah sakit dari 5-14 hari, tergantung pada operasi dan komplikasi. Prosedur itu sendiri dapat bervariasi, tergantung pada anggota tubuh atau ekstremitas yang diamputasi dan kesehatan pasien.

Amputasi dapat dilakukan dengan anestesi umum (yang berarti pasien dibuat tidak sadarkan diri) atau dengan anestesi spinal, yang mematikan sementara tubuh dari pinggang ke bawah.

Ketika melakukan amputasi, ahli bedah mengambil semua jaringan yang rusak sementara meninggalkan sebanyak mungkin jaringan yang sehat. Seorang dokter dapat menggunakan beberapa metode untuk menentukan di mana batas memotong dan berapa banyak jaringan yang diambil, diantaranya:

  • Memeriksa pulsasi (denyut aliran darah) terdekat dengan tempat yang direncanakan untuk dipotong
  • Membandingkan suhu kulit anggota tubuh yang terkena dengan suhu tubuh dari anggota tubuh yang sehat
  • Mencari area kulit yang memerah (menandakan masih mendapatkan aliran darah)
  • Memeriksa apakah kulit dekat lokasi untuk dipotong sensitif terhadap sentuhan

Selama prodesur amputasi berlangsung, dokter bedah akan mengambil jaringan yang sakit dan setiap tulang yang hancur, meratakan daerah tulang yang tidak halus, menutup pembuluh darah dan saraf. Prosedur akhir yang biasa dilakukan adalah memotong dan membentuk otot sehingga tumpul, atau supaya ujung dari anggota badan yang diamputasi dapat memiliki anggota badan buatan (prosthesis) yang melekat pada tubuh.

Baca Juga:  Kejam! Usai Amputasi, Pasien Ini Diberi Bantal Potongan Kakinya Sendiri!

Komplikasi Amputasi

Komplikasi yang mungkin terjadi setelah amputasi, baik akibat suatu prosedur atau akibat cedera, antara lain:

  • Phantom limb pain, yaitu nyeri yang terasa pada organ tubuh yang tidak lagi dimiliki
  • Deep vein thrombosis (DVT)
  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Rusaknya pembuluh darah dan saraf
  • Nyeri

Penanganan Setelah Amputasi

Dokter bedah dapat memilih untuk menutup luka langsung dengan menjahit flaps kulit (amputasi tertutup) atau meninggalkan area tersebut terbuka selama beberapa hari, dengan tujuan mengangkat jaringan tambahan.

Setelah itu, dokter bedah akan menempatkan pembalut steril pada luka dan bisa menempatkan stocking di bagian ujung anggota tubuh yang diamputasi untuk menahan terkucurnya darah. Dokter bedah biasanya akan menggunakan splint untuk mengurangi terjadinya traksi (gaya gesek maksimum yang bisa dihasilkan antara dua permukaan tanpa mengalami slip)

Pengawasan dokter diperlukan terhadap penyembuhan luka dan kondisi apapun yang mungkin mengganggu penyembuhan, seperti adanya penyakit yang mendasari yaitu kencing manis atau pengerasan pembuluh darah. Biasanya dokter akan meresepkan obat untuk meringankan rasa sakit dan membantu mencegah infeksi.

Jika pasien memiliki masalah dengan nyeri phantom (rasa sakit di tungkai yang diamputasi) atau kesedihan atas hilangnya anggota tubuh, dokter akan menyarankan untuk bertemu dengan psikolog.

Idealnya, luka harus sepenuhnya sembuh dalam waktu sekitar empat sampai delapan minggu. Tapi penyesuaian fisik dan emosional untuk kehilangan anggota tubuh bisa menjadi proses yang panjang. Pemulihan jangka panjang dan rehabilitasi akan mencakup:

  • Latihan untuk meningkatkan kekuatan otot dan kontrol anggota gerak
  • Kegiatan untuk membantu mengembalikan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari
  • Penggunaan kaki palsu dan alat bantu
  • Dukungan emosional dari keluarga dan rekan terdekat, termasuk konseling dengan psikolog, untuk membantu mengatasi kesedihan karena kehilangan anggota tubuh dan penyesuaian terhadap citra tubuh yang baru

Mencegah Amputasi

Amputasi akibat cedera biasanya terjadi secara tiba-tiba sehingga sangat sulit untuk dicegah. Namun untuk beberapa kondisi tertentu, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kemungkinan amputasi, antara lain:

  • Jangan remehkan nyeri pada anggota tubuh
  • Simpan benda-benda tajam di tempat yang jarang dilewati
  • Mengenakan alat pelindung ketika berada di area kerja yang berisiko
  • Jauhkan anak-anak dari dari mesin berbahaya seperti alat pemotong atau pengebor