Amankah Memakai Produk Pemutih Kulit?

DokterSehat.Com – Salah satu obsesi yang diinginkan oleh wanita Indonesia adalah memiliki kulit yang putih, mulus, dan bersih. Memang, tidak semua wanita Indonesia terlahir dengan kulit yang cerah dan cenderung mudah untuk menjadi gelap jika terkena sinar matahari, namun, kini ada banyak produk kecantikan yang diklaim bisa memutihkan kulit dan membuat tampilan kulit menjadi lebih menarik. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah produk pemutih kulit ini akan aman untuk digunakan?



Terdapat banyak sekali produk pemutih kulit yang beredar di masyarakat. Selain sabun pembersih, lotion, atau bahkan terapi suntik vitamin C , suntik DNA, dan terapi plasma darah diklaim mampu membuat kulit jauh lebih cerah dalam waktu yang cukup cepat. Suntik vitamin C sendiri kini sangat populer di kalangan wanita Indonesia. Dengan suntikan berdosis sekitar 2000 mg vitamin C, kulit diklaim akan mendapatkan nutrisi yang cukup sehingga akan menjadi lebih lembab dan lebih putih. Selain itu, suntikan DNA atau terapi plasma darah diklaim bisa membuat kulit menjadi lebih mulus tanpa adanya flek-flek hitam.

Pakar kesehatan sendiri mengungkapkan bahwa terapi layaknya suntik vitamin C secara medis sebenarnya bukan memutihkan kulit. Suntikan vitamin C ini justru akan mencerahkan kulit setidaknya hingga satu atau dua level saja. Prosedur suntik vitamin C pada wajah sendiri adalah hal yang normal dilakukan oleh pakar kesehatan. Hanya saja, untuk terapi pencerahan seluruh tubuh harus diawasi dengan benar oleh dokter, khususnya dalam hal kandungan di dalam suntikan dan juga dosisnya.

Pakar kesehatan menyebutkan jika wanita kini harus lebih berhati-hati jika ada tawaran untuk memutihkan kulit wajah dan tubuh dari salon kecantikan tertentu yang belum benar-benar aman atau mengantongi ijin medis yang jelas. Banyak terapi yang diklaim bisa mencerahkan kulit dengan cara menghambat pembentukan pigmen pada kulit, sesuatu yang janggal mengingat pigmen kulit secara normal akan terus terbentuk untuk melindungi tubuh dari penyakit kanker. Jika kita menghentikan pertumbuhan pigmen kulit ini, bisa jadi kita akan meningkatkan resiko terkena kanker kulit mengingat kita cenderung tinggal di area yang kaya sinar matahari.