
DokterSehat.com telah dipercaya lebih dari 6 tahun sebagai Informasi Kesehatan, tips kesehatan
dan konsultasi online segala macam jenis penyakit, kanker, seksualitas dan kesehatan keluarga.
by Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A
Alergi ternyata tak hanya menyerang kulit atau paru seperti yang selama ini kita ketahui, melainkan semua organ tubuh, termasuk otak. Bagaimana mengenali alergi pada anak?
Menurut Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A dari Children Allergy Center RS Bunda, Jakarta, alergi pada anak ternyata tidak sesederhana seperti yang diduga. Sebelumnya, sering kita dengar bahwa gejala alergi adalah batuk, pilek, sesak dan gatal di kulit. “Padahal, alergi dapat menyerang semua organ dan sistem tubuh, mulai paru, kulit, saluran kencing, jantung, bahkan susunan saraf pusat (otak),” tegas Widodo.
Ternyata banyak bahaya dan komplikasi alergi yang bisa terjadi, sehingga sangat berisiko mengganggu tumbuh kembang anak. “Risiko dan tanda alergi ini dapat diketahui sejak anak dilahirkan, bahkan terkadang sejak dalam kandungan pun sudah bisa terdeteksi. Jadi, alergi sebetulnya dapat dicegah sejak dini,” lanjutnya.
Apa sebetulnya alergi? Alergi adalah kumpulan gejala akibat reaksi kekebalan tubuh (respon imun) yang berlebihan, yang diakibatkan oleh beberapa penyebab atau pencetus. Alergi dapat diturunkan dari orangtua atau kakek/nenek penderita. “Jadi, bila ada orangtua, keluarga atau kakek-nenek yang menderita alergi, kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak,” terang Widodo. Bila ada salah satu dari kedua orangtua (ayah misalnya) yang menderita gejala alergi, maka risiko yang mungkin diturunkan pada anak sekitar 25 30 persen. Sementara bila kedua orangtua alergi, maka risiko alergi menurun ke anak pun meningkat menjadi 60 70 persen.
Untuk mengetahui risiko alergi pada anak, kita harus mengetahui gejala alergi pada orang dewasa. “Pasalnya, gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua sistem/organ tubuh anak,” lanjut Widodo. Gejala dan tanda alergi dapat ditimbulkan oleh beberapa pencetus atau penyebab, di antaranya:
a.Makanan
Pada bayi dan anak, makanan merupakan pencetus utama, sedangkan pada orang dewasa, pengaruh makanan semakin berkurang.
b.Bukan makanan, antara lain:
1. Inhalasi/hirupan: debu (karpet/filter AC), serbuk sari bunga tanaman, bulu binatang.
2. Kontak: sabun, bahan kimia, atau logam
3. Kecoa
4. Mite/tungau pada kasur, kapuk, dan lain-lain.
GANGGUAN PENCERNAAN
Alergi yang sering berulang dan tidak dikendalikan ternyata juga dapat mengganggu susunan saraf pusat (SSP atau otak). Secara pasti, mekanisme timbulnya gangguan tersebut belum dapat dijelaskan. “Diduga, gangguan SSP itu diakibatkan oleh pengaruh beberapa zat stimulan yang dikeluarkan oleh pencernaan penderita alergi, yang biasanya juga terganggu. Di samping itu, perubahan hormonal pada penderita alergi diduga juga ikut berperan dalam gangguan tersebut,” kata Widodo.
Gangguan otak yang terjadi antara lain keluhan sakit kepala berulang, gangguan tidur, keterlambatan bicara, serta gangguan perilaku. “Gangguan perilaku yang sering terjadi antara lain emosi berlebihan, agresif, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan koordinasi, hiperaktif hingga autisme,” lanjutnya.
Selain gangguan SSP, alergi juga bisa mengganggu berbagai sistem dan organ tubuh lain. Akibatnya, tentu sangat mengganggu tumbuh-kembang anak. Gangguan yang sering muncul adalah malnutrisi (kurang gizi). “Berat dan tinggi badan anak kurang dibanding tinggi badan anak lain yang normal seusianya,” tambah Widodo. Malnutrisi biasa terjadi pada anak di atas usia 4-6 bulan, dimana anak mulai dikenalkan makanan baru yang terkadang mengakibatkan alergi atau gangguan. “Ini berakibat gangguan pencernaan seperti sulit makan, sering muntah, sering diare, sering kembung dan sebagainya, yang berisiko terjadinya malnutrisi.”
Gejala gangguan pencernaan yang sering timbul antara lain rewel, terus-terusan menangis, kolik di malam hari pada anak di bawah 3 tahun, bayi dengan riwayat berak darah, dan bayi dengan riwayat diare berulang.
TAK PERLU OBAT
Untuk mendeteksi alergi, banyak tahap yang dilakukan. Yang pertama adalah anamnesa, yakni melihat riwayat orang tua/keluarga/kakek-nenek dan riwayat penyakit sering berulang. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. “Antara lain skin test allergy, foto rontgen (foto polos dada), pemeriksaan laboratorium, dan lainnya,” ujar Widodo.
Penanganan alergi pada anak memang harus dilakukan secara benar dan berkesinambungan. “Pemberian obat terus-menerus bukanlah jalan terbaik. Yang paling ideal adalah menghindari pencetus yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut,” jelas Widodo.
Secara teoritis, alergi memang tak bisa dihilangkan, tetapi dapat dijarangkan frekuensi kekambuhannya serta dikurangi beratnya keluhan. Dengan pertambahan usia anak, di usia 6-7 tahun, pencetus alergi makanan biasanya akan semakin berkurang atau hilang. “Namun, yang sering terjadi, orangtua justru terus memberikan makanan pencetus alergi pada anak, dengan tujuan agar anak kebal dan tidak lagi alergi. Ini tidak benar dan tidak akan mengurangi gejala alergi, tetapi malah memperberat.”
Alergi Pada Anak - bukan masalah sepele!,
Anak saya sering bentol2 dok..bahkan di muka juga..
pertama ke dokter..disuruh menghindari protein dok..
ke dokter lagi..didiagnosa krn lama g minum obat cacing..
ke dokter yg ke 3 kalinxa..
diprogram 2 bulan minum obat terapi.. tapi dalam perjalanan ..kadang sebelum minum obat malam..anak dah bentol2 duluan (memang diminum tiap malam aja)
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Anak usia 5 th dok..
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Anak sy (2th jgsejak lahir ,alergi high protein.susu Nya dulu pakai NAN-HA… Sekrgk susu Nya pregestimil. Kl melanggar larangan Mkanan diet nya… Pasti timbul bercak2 Merah di kulitnya. Atau pup Nya Cair . Seringkali kekebalan tubuhnya melemah, sehingga di mudah sakit flu. Kl Kena flu, ,demam, dia pasti kejang. Yg Ingin sy tanyakan….. Apakah alergi yg terjadi terlalu sering bisa minyebabkan timbul epilesi2
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
anak sy skr umur 8 th.awalnya dia mimisan n timbul lebam di kaki,tangan & badannya tanpa panas dll.saya bw ke dokter anak lalu dites darah n hasilnya eosinofilnya 1700 n leukositnya 16400.kt dokter dia alergi n dia jg skin tes jg rontghen hidung dan paru2.hsl skin tes dia byk sekali pantangan mknan yg dia boleh hanya daging sapi n kambing sisanya semua dia g boleh.jd sehari2 dia hanya mkn itu daging Tempe tahu sayur.ini sdh berjalan 2bln Dan hasilnya dia bosen lalu berat badannya trn 4kg.kembali kontrol tdk Ada perubahan dr hasil eos n leukositnya.hasil ronthgennya di paru2 Ada fleck n ringitis jg sinus pd hidung.obat yg diberikan stiap kontrol aerius,formuno,cerini jg antibiotic levocin.
Jadi apa benar anak saya ini alergi? Apa obat yg diberikan ini sdh Benar lalu antibiotic yg diberikan stiap bln itu apa tdk berbahaya,krn setau sy antibiotic tdk boleh terlalu sering dikonsumsi yg berakibat tdk baik.mohon bantuannya dokter….terima kasih.
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Doc, anak saya kenapa ya bawaan dari lahir sampai anak saya berumur 3 thn, alergi sama santan kelapa,,, kadang kalaw santanya terkena kulit anak saya bisa merah seperti biduran,,,kadang2 setiap lekukan siku tangan dan kaki merah karena gatal-gatal, saya heran nga kebanyakan seperti anak yang lain, apakah anak saya alerginya nga bisa di sembuhkan,,, atau kalaw bisa apa Obatnya ya Doc biar saya cari…. Makasih sebelumnya
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Halo dok…
Saya punya 2 orang anak, anak ke-1 cowok umur 2 thn 11 bln. Kalo dia digigit nyamuk pasti selalu digaruk-garuk sampai jadi luka bahkan jadi kudis. Ini berlangsung setiap hari sampai sekarang seluruh kaki dan badan bahkan muka dan telinga ada kudis dan bekas-bekasnya sampai sekarang. Saya sudah coba beberapa salep yang diberikan dokter dan obat tapi tdk ada perubahan. Akhirnya saya kompres rivanol berangsur-angsur kudisnya kering. Tapi namanya nyamuk dimana-mana ada, anak saya tidak pernah lepas dari gatal-gatal/kudisnya. Apakah ini termasuk alergi dok? Bagaimana cara mengatasinya doerimaka k? Terima kasih.
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Anak ke-2 perempuan berumur 7 bln kurang 3 hari, berat badan 7,8 kg. Sejak umur 3 bln, dia sudah berhenti ASI krn ASI sy kurang dan dia selalu diberi formula. Akhirnya tdk mau ASI lagi. Kemudian, dia terkena pilek dan batuk. Sudah diobati sekali dua kali sembuh tapi selalu datang lagi. Setiap bulan tak pernah bebas dari batuk pilek. Setelah umur 5 bln selain batuk pilek ada juga gatal-gatal di tubuhnya khususnya pada tangan dan kaki, seorg dokter ank yg berbeda dari dokter yg sblmnya mengatakan anak saya alergi pada susu sapi dan semua makanan produk sapi/mengandung sapi. Akhirnya diberi susu khusus ank alergi tapi karena rasanya tidak enak susu itu tidak pernah habis seperti susu formula sebelumnya, dan batuk pilek serta gatal-gatalnya juga masih ada, padahal sudah diganti susu, minum obat dan diolesi salep pada bagian yang gatal-gatal. Sekarang dianjurkan susu soya, syukur anak saya lebih mau minumnya daripada susu sebelumnya. Tapi sampai sekarang usianya hampir 7 bln, batuk pilek setiap hari, dan gatal-gatal masih suka datang, bahkan ada beberapa benjolan di leher bagian belakang di bawah rambutnya, benjolan kecil-kecil, 1 sebesar kelereng berwarna merah kebiru-biruan. Karna banyaknya lendir, sekali-kali anak saya terapi uap dan radiasi sinar matahari. Saya bingung sekali dok, anak saya setiap hari harus minum obat, tapi kondisinya masih tetap sama. Oya dok, neneknya dan papanya memang alergi pada sea food, khususnya udang. Bantu saya ya dok, untuk solusi kesehatan anak saya, dari bayi sudah dicekokin obat setiap hari. Saya kasihan melihatnya. Terima kasih banyak dok.
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Doc,anak saya berusia 4 thn, yang mau sy tanyakan anak sy ini sudah 2 bulan belakangan ini suka gatal2 di bagian vagina, kemudian digaruk hingga lecet tentu saja ini sangat mengganggu, sy sudah mebawa ke dokter sebelumnya, menurut dokter pada saat itu ada bisul kecil namun setelah bisul itu sembuh gatal2 tetap terjadi walaupun sy sudah berikan cairan antiseptik dan sabun antiseptik.
apakah penyebab gatal2 ini Doc,alergi atau bagaiman dan bagaimana dengan solusinya agar anak sy nyaman beraktivitas
terima kasih
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Terus terang Saya kaget ketika mengetahui ahwa alergi dampaknya itu sampai ke otak lkarena anak saya alergi apa ada obat yang dapat mengurangi gatal pada alergi yang menyerang batita
U
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Doc. Anak sy laki-laki berumur 3 tahun, skitar 2-4 harian kalo malem seluruh badannya benjol2 sperti alergi tapi tdk terlalu. Dan ini terjadi jika malem hri antara jam 22.00-03.00 stelah itu biasanya akan normal kmbali. Mnurut doc. Apa solusinya? Dan knpa itu terjadi pada malam hari? Trimakasih. Soemarsono. Jak-Tim
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0
Doc, anak saya umur 4th 8 bln. Sejak bayi (6 bln) sering maatanya memerah dan gatal2, sy bawa ke dokter mata katanya alergi. Lalu sy dibekali obat tetes (cendo vernacel)utk persediaan di rmh jika matanya memerah dan gatal lg bs di gunakan. Sampai dg skrg obat itu msh sy gunakan jika matanya sdh mulai gata, berbintik2 putih di kelopak dalam mata. Nah,apa resikonya jika obat itu terus menerus digunakan. Apa akibatnya pada mata anak sy ? Apakah beresiko tjd glaucoma?
Tolong di jawab ya dok. Tk
Setuju atau Tidak Setuju:
0
0