Alergi Pada Anak – bukan masalah sepele!

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

by Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A

Alergi ternyata tak hanya menyerang kulit atau paru seperti yang selama ini kita ketahui, melainkan semua organ tubuh, termasuk otak. Bagaimana mengenali alergi pada anak?

Menurut Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A dari Children Allergy Center RS Bunda, Jakarta, alergi pada anak ternyata tidak sesederhana seperti yang diduga. Sebelumnya, sering kita dengar bahwa gejala alergi adalah batuk, pilek, sesak dan gatal di kulit. “Padahal, alergi dapat menyerang semua organ dan sistem tubuh, mulai paru, kulit, saluran kencing, jantung, bahkan susunan saraf pusat (otak),” tegas Widodo.

Ternyata banyak bahaya dan komplikasi alergi yang bisa terjadi, sehingga sangat berisiko mengganggu tumbuh kembang anak. “Risiko dan tanda alergi ini dapat diketahui sejak anak dilahirkan, bahkan terkadang sejak dalam kandungan pun sudah bisa terdeteksi. Jadi, alergi sebetulnya dapat dicegah sejak dini,” lanjutnya.

Apa sebetulnya alergi? Alergi adalah kumpulan gejala akibat reaksi kekebalan tubuh (respon imun) yang berlebihan, yang diakibatkan oleh beberapa penyebab atau pencetus. Alergi dapat diturunkan dari orangtua atau kakek/nenek penderita. “Jadi, bila ada orangtua, keluarga atau kakek-nenek yang menderita alergi, kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak,” terang Widodo. Bila ada salah satu dari kedua orangtua (ayah misalnya) yang menderita gejala alergi, maka risiko yang mungkin diturunkan pada anak sekitar 25 ­ 30 persen. Sementara bila kedua orangtua alergi, maka risiko alergi menurun ke anak pun meningkat menjadi 60 ­ 70 persen.

Untuk mengetahui risiko alergi pada anak, kita harus mengetahui gejala alergi pada orang dewasa. “Pasalnya, gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua sistem/organ tubuh anak,” lanjut Widodo. Gejala dan tanda alergi dapat ditimbulkan oleh beberapa pencetus atau penyebab, di antaranya:
a.Makanan
Pada bayi dan anak, makanan merupakan pencetus utama, sedangkan pada orang dewasa, pengaruh makanan semakin berkurang.

b.Bukan makanan, antara lain:
1. Inhalasi/hirupan: debu (karpet/filter AC), serbuk sari bunga tanaman, bulu binatang.
2. Kontak: sabun, bahan kimia, atau logam
3. Kecoa
4. Mite/tungau pada kasur, kapuk, dan lain-lain.

GANGGUAN PENCERNAAN
Alergi yang sering berulang dan tidak dikendalikan ternyata juga dapat mengganggu susunan saraf pusat (SSP atau otak). Secara pasti, mekanisme timbulnya gangguan tersebut belum dapat dijelaskan. “Diduga, gangguan SSP itu diakibatkan oleh pengaruh beberapa zat stimulan yang dikeluarkan oleh pencernaan penderita alergi, yang biasanya juga terganggu. Di samping itu, perubahan hormonal pada penderita alergi diduga juga ikut berperan dalam gangguan tersebut,” kata Widodo.

Gangguan otak yang terjadi antara lain keluhan sakit kepala berulang, gangguan tidur, keterlambatan bicara, serta gangguan perilaku. “Gangguan perilaku yang sering terjadi antara lain emosi berlebihan, agresif, overaktif, gangguan belajar, gangguan konsentrasi, gangguan koordinasi, hiperaktif hingga autisme,” lanjutnya.

Selain gangguan SSP, alergi juga bisa mengganggu berbagai sistem dan organ tubuh lain. Akibatnya, tentu sangat mengganggu tumbuh-kembang anak. Gangguan yang sering muncul adalah malnutrisi (kurang gizi). “Berat dan tinggi badan anak kurang dibanding tinggi badan anak lain yang normal seusianya,” tambah Widodo. Malnutrisi biasa terjadi pada anak di atas usia 4-6 bulan, dimana anak mulai dikenalkan makanan baru yang terkadang mengakibatkan alergi atau gangguan. “Ini berakibat gangguan pencernaan seperti sulit makan, sering muntah, sering diare, sering kembung dan sebagainya, yang berisiko terjadinya malnutrisi.”

Gejala gangguan pencernaan yang sering timbul antara lain rewel, terus-terusan menangis, kolik di malam hari pada anak di bawah 3 tahun, bayi dengan riwayat berak darah, dan bayi dengan riwayat diare berulang.

TAK PERLU OBAT
Untuk mendeteksi alergi, banyak tahap yang dilakukan. Yang pertama adalah anamnesa, yakni melihat riwayat orang tua/keluarga/kakek-nenek dan riwayat penyakit sering berulang. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. “Antara lain skin test allergy, foto rontgen (foto polos dada), pemeriksaan laboratorium, dan lainnya,” ujar Widodo.

Penanganan alergi pada anak memang harus dilakukan secara benar dan berkesinambungan. “Pemberian obat terus-menerus bukanlah jalan terbaik. Yang paling ideal adalah menghindari pencetus yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut,” jelas Widodo.

Secara teoritis, alergi memang tak bisa dihilangkan, tetapi dapat dijarangkan frekuensi kekambuhannya serta dikurangi beratnya keluhan. Dengan pertambahan usia anak, di usia 6-7 tahun, pencetus alergi makanan biasanya akan semakin berkurang atau hilang. “Namun, yang sering terjadi, orangtua justru terus memberikan makanan pencetus alergi pada anak, dengan tujuan agar anak kebal dan tidak lagi alergi. Ini tidak benar dan tidak akan mengurangi gejala alergi, tetapi malah memperberat.”

Print Friendly
facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

  1. ika

    saya mau tanya dok.anak saya usia 6 thn.kulitnya sangat sensitif bila digigit nyamuk langsung digaruk sampai berdarah dan akhirnya sekarang membekas warna hitam.apa bekas gigitan nyamuk itu bisa hilang atau saya harus ke dokter spesialis kulit.menurut dokter bagaimana???

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    1. dr. Vanny Bernadus

      Untuk anak2 bisa menghilang dengan sendirinya saat dewasa. Namun bila anda ingin memeriksakan, bisa ke dokter spesialis kulit. Trims

      Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

  2. Febri

    Anak saya umur 5 bulan dok, asi exclusive.
    sudah 2minggu ini kulitnya penuh dengan bercak merah dan bentol”,saya juga sdh berusaha stop makan makanan pemicu alergi seperti kacang susu seafood,dan untuk pengobatan sudah sy coba untuk ksh salep kulit dr dokter ank sy, dan body lotion tapi belum ada perubahan dok,malah tambah banyak kemerahanya.kira” apa yg dok penyebabnya bisa seperti itu dan apa yg harus sy lakukan?
    trims

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    1. dr. Vanny Bernadus

      Tidak setiap orang alergi terhadap kacang, susu, seafood. Sebaiknya lakukan tes alergi dulu untuk anak anda. Trims

      Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

  3. any

    Dok, anakku cowo 2.5th bb 15kg pilek terus menerus sudah hampir 2bln. memang dibilang alergi sejak lahir nafas grok2 dan kalau digigit nyamuk reaksi berlebihan, sampai luka dan berbekas.
    sejak 20jan-sekarang sudah 2x pergi ke dokter anak dan dokter alergi anak tp masi saja pilek ga sembuh2.
    tgl 20jan ke dr alergi dikasi racikan minum, ryvel 0.4ml, vitamin
    tgl 13feb ke dr anak biasa dikasi profilas 2×2.5ml (bikin kulit lengan kasar), meptin 2.5ml sebelum tdr, ryvel 0.4ml setiap jam 8 pagi dan mlm
    dr semuanya sampai obat habis hanya sembuh bbrp hari saja kemudian pilek lge
    itu sudah pantang bnyk makanan dr semua seafood, daging, dairy product, coklat, strawberry, brokoli, kol, telur, kacang2an.
    kamar ga ada boneka, sprei kelambu ac sudah cuci.
    tapi memang di depan rumah sedang ada yg bangun.
    pertanyaan:
    terlalu bnyk pantang pdhal belum tentu itu pencetus alergi nya
    perlu skin prick test kah mengingat umur 2.5th
    harus bagaimana lge ya dok, krn tll bnyk obat dan ga sembuh saya takut jd sinus
    menurut analisa dokter anak saya alergi apa yah? gmn cara mengatasinya?
    2bln pilek terus menerus apakah ud pasti anak saya menderita sinus?

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    1. dr. Vanny Bernadus

      Kemungkinan besar memang alergi. Namun perlu dilakukan tes terlebih dahulu untuk mengetahui apa alerginya. Memang metode prick test kurang nyaman untuk anak2, namun anda bisa browsing ada metode lainnya yg hanya menggunakan gelombang (biotensor/ Bio-E) untuk mendeteksi dan terapinya. Trims

      Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

  4. Resty

    Dok, anak saya usianya 6 bulan kurang 8 hari, di kakinya itu ada seperti kering2 gitu, tp lama2 jadi melebar, seperti luka terbakar, saya sudah pernah pakaikan hydrocortisone.
    Apa tidak masalah anak usia segitu saya bawa ke dokter kulit?

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

  5. Mariana

    Dok. Anak saya yg pertama mulai usia 6th kalau tidur di kamar anak bersama adiknya (sebelumnya bersama ortu). Tapi sejak itu kalau tngah malam sering terbangun dan sudah 2th ini setiap hari terbangun dan sulit tidur jika mamanya tidak menemani. Bagaimana solusinya dok. Apakah itu termasuk alergi (nenek dan papa anak saya termasuk org yg sulit tidur juga, tapi bisa tidur lg jika terbangun)? Skrg anak saya usia nya 10,5th.mohon penjelaannya dok. Makasi

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    1. dr. Vanny Bernadus

      ini bukan alergi. anak anda hanya merasa cemas karena “terpisah” dari orang tua. dan ini perlu waktu. hampir rata2 anak2 yg mulai tidur terpisah dr ortu mengalami hal ini. trims

      Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

Leave a Comment