Agar Tidak Stress, Pemerintah Jepang Meminta Karyawan Kantor Pulang Lebih Cepat

DokterSehat.Com– Jepang sudah dikenal luas sebagai negara dengan etos kerja yang sangat tinggi. Tak hanya disiplin, pekerja di Jepang dikenal berdedikasi sangat tinggi pada tempat kerjanya hingga sering melakukan lembur. Meskipun memang bisa memberikan kemajuan yang sangat positif bagi perekonomian, pemerintah Jepang ternyata melihat kebiasaan pekerja kantoran di Jepang yang selalu bekerja hingga titik maksimal ini berpotensi menyebabkan kelelahan atau stress. Sebagaimana diketahui, angka penderita stress atau depresi di Jepang yang disebabkan oleh faktor pekerjaan cukup tinggi sehingga mempengaruhi tingginya angka bunuh diri di Negeri Sakura tersebut.



Karena tidak ingin kasus stress, depresi, atau bahkan pekerja yang jatuh sakit karena bekerja terlalu keras semakin meningkat, maka pemerintah Jepang semenjak bulan Februari 2017 kemarin mulai mengkampanyekan ‘Jumat Premium’ yang diharapkan mulai dipergunakan oleh karyawan kantor. Jumat Premium ini sendiri adalah keleluasaan yang diberikan pada karyawan kantor dimana pada satu hari Jumat di setiap bulan, mereka diperbolehkan untuk pulang ke rumah pada jam 15:00 sore, beberapa jam lebih awal dari jam pulang kerja pada umumnya.

Sayangnya, meskipun cukup banyak perusahaan yang mendukung kampanye Jumat Premium ini, respons masyarakat untuk menggunakan Jumat Premium ini ternyata cenderung rendah. Salah seorang manajer komunikasi sebuah perusahaan ternama di Jepang, Ryutta Hattori, bahkan menyebutkan bahwa perusahaannya sampai memberikan iming-iming bonus hanya agar karyawannya mau menggunakan jatah Jumat Premium-nya.

Sebagai informasi, sebuah survei terbaru yang dilakukan oleh pemerintah Jepang menyebutkan bahwa satu dari empat warganya pernah mempertimbangkan untuk melakukan bunuh diri karena berbagai macam sebab, termasuk stress karena pekerjaan. Dalam survei terbaru tersebut, angka 23,6 persen warga yang pernah berpikir untuk bunuh diri ini mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen dari tahun 2012. Karena alasan inilah pemerintah Jepang berusaha sebaik mungkin untuk menurunkan tingkat stress warganya.