Meluruskan Stigma Keliru Soal Pil KB

Doktersehat.com –  Penggunaan pil kontrasepsi atau pil KB di Indonesia masih kental dengan anggapan keliru dan stigma-stigma yang kurang tepat.



Padahal, seiring dengan berkembangnya penelitian di bidang kesehatan, pil KB memiliki potensi yang sangat besar untuk pengobatan penyakit khususnya pada wanita seperti gangguan haid atau jerawat.

Seperti diungkapkan ahli kandungan dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, dr Frizar Irmansyah, SpOG (K), banyak informasi terbaru soal pil KB yang belum ketahui masyarakat. Selain itu, mitos-mitos yang kadung melekat pun sudah saatnya untuk diluruskan.

¨Selama ini, penggunaan pil KB memang masih terbatas pada kebutuhan pencegahan kehamilan dan konsumsinya hanya untuk pasangan yang menikah. Stigma di kita kerap menilai negatif wanita yang memakai pil KB sebelum menikah,¨ ungkap dr Frizar dalam sebuah acara media edukasi di Jakarta, Kamis (14/2) lalu.

Ia menjelaskan, pemakaian pil KB pada wanita remaja atau lajang memang belum umum di Indonesia. Padahal, banyak wanita yang mengalami gangguan penyakit yang sebenarnya dapat diatasi dengan pemberian pil KB.
Dalam praktik sehari-hari, dr Frizar banyak menemukan kasus wanita yang haidnya terlalu banyak sehingga harus ditransfusi karena kekurangan darah. Ada pula yang mengalami jerawat yang tak kunjung sembuh akibat ketidakseimbangan hormon. Kedua kasus ini sebenarnya dapat diatasi dengan pemberian pil KB dan hasilnya terbukti efektif dan efisien.

¨Dari pada harus ditransfusi darah dengan risiko terkena HIV atau hepatitis, kan lebih baik meminum pil KB,¨ tegas dr Frizar.

Lebih jauh dr Frizar menggambarkan betapa penggunaan pil KB di luar negeri sudah lebih fleksibel dan menjadi bagian dari gaya hidup. ¨Di sana, remaja putri belasan tahun bahkan sudah dibekali pil KB oleh orang tuanya untuk mencegah kehamilan. Di negeri kita, hal seperti ini masih tabu dan bisa mengundang kontroversi. Padahal sebuah survey yang dilakukan PKBI di sebuah kota belum lama ini menunjukkan hampir 50 persen mahasiswa pernah berhubungan seks di luar pernikahan,¨paparnya.

Baca Juga:  Mengenal Jenis Kanker Sarkoma Kaposi

Dr Frizar, yang juga aktif menjadi Pengurus Perhimpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi (HIFERI), menegaskan mitos soal pil KB yang harus diluruskan. Pada umumnya, masyarakat tak mau memilih pil KB sebagai alat untuk menunda kehamilan karena dapat menyebabkan ´kekeringan´ organ genitalia perempuan.

¨Kenyataannya tidaklah demikian. Kalau dengan pil KB, haidnya menjadi lebih sedikit atau tidak terlalu banyak keputihan itu saya memang setuju. Tapi jangan mengkaitkannya dengan kekeringan. Karena begitu penggunaan pil KB distop, siklus berikutnya akan kembali pada siklus alami, dan wanita pun akan kembali ke kesuburannya dengan cepat. Begitu sehari tidak minum pil akan terjadi spoting (bercak), karena 90 persen obatnya sudah dibuang melalui urin dan buang air besar

Dari berbagai sumber