8 Tips Proses Mengejan Yang Benar

Dokter Sehat – Sekarang ini masih banyak seorang wanita yang lebih memilih melakukan proses persalinan dengan operasi caesar jika dibandingkan dengan persalinan normal, walaupun mereka masih bisa untuk melahirkan dengan normal. Idealnya jika tidak terdapat bahaya yang dapat mengancam keselamatan bayi dan ibu, proses persalinan ini dapat dilakukan secara normal. Pemilihan operasi caesar disebabkan oleh perasaan takut yang mereka alami terhadap rasa sakit yang akan dirasakan ketika melahirkan, atau disebabkan tidak kuat ketika harus mengejan. Namun biasanya tidak kuat ketika mengejan hanya dialami beberapa wanita hamil yang mempunyai riwayat penyakit pada saluran pernafasan.

18

Namun jika anda tidak memiliki masalah pada pernafasan tapi pada saat mengejan mengalami kesulitan, kemungkinan besar anda salah dalam menerapkan cara dalam mengejan. Mengejan pada saat yang kurang tepat dapat beresiko terkena udem portio atau terjadi pembengkakan pada rahim, pembengkakan ini dapat terjadi disebabkan oleh bibir kemaluan tersebut terlalu banyak mengalami dorongan, sementara itu anda belum siap dalam menerima tekanan yang begitu kuat. Jika pembengkakan tersebut telah terjadi, dengan begitu jalan lahir bayi secara normal telah tertutup. Hal ini mangakibatkan anda harus mengambil proses persalinan secara caesar.

Pada dasarnya cara mengejan ketika akan melahirkan tidak berbeda dengan mengejan ketika akan buang air besar. Namun karena prosesnya yang berbeda dan lebih lama serta memerlukan tenaga yang sangat besar. Mengejan sendiri merupakan tahapan ketika terjadi pembukaan atau pun dilatasi mulut rahim yang mencapai puncaknya. Ketika itu konsentrasi menjadi semakin kuat juga secara insting anda juga dapat merasakan dorongan yang sangat kuat untuk bisa mengejan.

Cara mengejan yang benar :

1.Lakukan setelah pembukaan lengkap
Mengejan baru boleh dilakukan setelah pembukaan lengkap, yakni pembukaan 10. Saat itu, observasi yang dilakukan dokter akan menemukan, kepala bayi sudah turun sampai ke dasar panggul dan anus mulai ikut membuka. Gejalanya seperti ingin buang air besar, tetapi jika sudah diberikan obat analgesi (penghilang nyeri) epidural yang dalam, biasanya perasaan di atas tak terasa, sehingga ibu harus memperhatikan komando dari dokter atau bidan. Namun pada analgesi yang diberikan lewat vena atau analgesi lokal, keinginan untuk mengejan tetap ada.

Kenapa mengejan harus menunggu pembukaan lengkap? Hal ini untuk menghindari pembengkakan atau edema pada mulut rahim. Kelak, pembengkakan ini akan mempersulit proses persalinan berikutnya. Meski tidak nyaman karena harus menanti kontraksi hingga pembukaan 10, namun ibu harus tetap bersabar. Tak perlu khawatir karena penundaan mengejan umumnya tak akan membahayakan, kecuali bila jantung janin mulai melemah.

2.Pilih posisi yang tepat
Posisi yang umum dipilih saat mengejan adalah berbaring, kemudian menekuk lutut, kedua kaki dibuka, peluk paha dengan melingkarkan tangan ke bawah paha sampai siku dan menarik paha ke arah dada. Posisi ini memberikan keleluasaan pada ibu untuk mengejan. Posisi lain pun bisa digunakan, seperti berbaring miring ke sisi kiri atau kanan, atau jongkok, yang kesemuanya berdasarkan kasus per kasus supaya janin lebih mudah lahir.

Baca Juga:  Tips Aman Berpuasa Saat Hamil

3.Atur napas
Bernapas harus teratur, tidak boleh serabutan karena tidak bermanfaat signifikan atau bahkan mengganggu proses mengejan. Biasanya dokter/bidan akan memandu ibu mengatur napas supaya tenaga ibu terkumpul, juga ibu memiliki tenaga maksimal untuk mengejan.

Selain itu, mengatur napas yang baik pun dapat mengurangi rasa sakit. Supaya pengaturan napas berjalan mudah, sebaiknya ibu ikut kelas senam hamil karena di kelas itu ibu akan diajarkan cara mengatur napas saat bersalin.

4.Ikuti komando
Biasanya dokter/bidan akan memberi komando kapan ibu harus menarik napas, menahan, dan mengeluarkannya sambil mengejan. Ikuti komando tersebut supaya proses persalinan berjalan teratur dan lebih mudah. Saat mengejan pun biasanya dokter/bidan mengingatkan ibu untuk meletakkan dagu di dada supaya bisa melihat perut. Jika ibu tak mengikuti komando, maka pola mengejan menjadi tidak teratur sehingga tenaga terbuang percuma. Efek lainnya, jalan lahir bisa membengkak karena terdapat cairan yang keluar di jalan lahir, vagina pun membengkak sehingga menyulitkan penjahitan.

5.Ikuti irama
Ibu harus mengikuti irama tubuh saat mengejan. Bila pembukaan sudah lengkap, ibu harus segera mengejan, mengatur napas, dan tidak boleh ditahan saat proses pengejanan berlangsung. Ada ibu yang takut fesesnya keluar saat mengejan, sehingga ia menahan pengejanan dengan mengangkat pantat atau panggul. Hal ini dapat membuat robekan perineum (bagian antara vagina dan anus) lebih lebar sehingga memerlukan lebih banyak jahitan. Sebaliknya, jika kontraksi rahim mereda sebaiknya hentikan dahulu pengejanan. Biasanya ibu diminta istirahat sampai menunggu kontraksi berikutnya.

6.Tenaga harus efektif
Jangan buang-buang tenaga yang tak perlu, entah dengan mengeluh atau berteriak-teriak, karena akan menguras tenaga, mengingat ibu harus mengejan berkali-kali. Teriak-teriak atau membuat keributan malah akan menyebabkan tenggorokan kering, batuk, dan serak. Ibu pun semakin panik dan tegang. Akibatnya, ibu tak jelas menangkap instruksi dokter.

7.Pandangan ke arah perut
Arahkan pandangan ke perut supaya ibu bisa lebih berkonsentrasi terhadap persalinan. Selain itu, ibu harus mengejan di perut bukan di leher.

8.Berhenti mengejan saat kepala bayi terlihat
Ketika kepala bayi mulai terlihat (crowning) sebaiknya hentikan mengejan. Biasanya ditandai dengan rasa panas di vagina yang meregang. Tujuannya supaya vagina dan perineum meregang perlahan-lahan, juga untuk mengurangi robekan dan kelahiran yang terlalu cepat. Dokter/bidan akan memberi arahan ketika pengejanan harus dihentikan atau dilanjutkan. Pada saat ini ibu sebaiknya mengatur napas dengan baik.