7 Wabah Yang Mematikan Dalam Sejarah Manusia

Dokter Sehat – Virus, bakteri, memang tidak kenal ampun. Keganasan mereka tidak mengenal batas negara dan benua, dengan ukurannya yang mikroskopis, virus dan bakteri telah memberikan warna tersendiri pada sejarah kehidupan manusia. Warna hitam kelam yang dikenal sebagai pandemi atau wabah.



Puluhan bahkan ratusan tahun, dunia kedokteran berusaha untuk memerangi pasukan-pasukan mikroskopis ini. Peperangan ini tidak pelak, telah memakan begitu banyak korban jiwa.

Wabah yang mematikan :

1.Cacar
Penyakit cacar telah menewaskan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia di abad ke-20 saja, dan sebagian besar merupakan penduduk asli Amerika. Cacar ( juga dikenal dengan nama Latin variola atau variola vera) adalah penyakit menular yang unik untuk manusia, cacar disebabkan oleh salah satu dari dua varian virus bernama variola mayor dan variola minor. V. Mayor, yang lebih mematikan, memiliki angka kematian 30-35%, sedangkan V. minor menyebabkan bentuk ringan dari penyakit yang disebut alastrim dan membunuh 1% dari penderitanya. Akibat jangka panjang infeksi V. major adalah bekas luka, umumnya di wajah, yang terjadi pada 65–85% penderita. Pada sedikit kasus, efek samping yang dapat terjadi adalah kebutaan karena ulserasi kornea dan infertilitas pada korban laki-laki.

Cacar menewaskan sekitar 60 juta orang Eropa, termasuk lima raja yang berkuasa Eropa, pada abad ke-18 saja. Sampai dengan 30% dari mereka yang terinfeksi, termasuk 80% dari anak di bawah usia 5 tahun, meninggal akibat penyakit ini, dan sepertiga dari korban menjadi buta.

Adapun Amerika, setelah kontak pertama dengan orang Eropa dan Afrika, beberapa percaya bahwa kematian 90 sampai 95 persen dari penduduk asli Amerika disebabkan oleh para pendatang tersebut. Hal ini diduga bahwa cacar adalah penyebab utama dan bertanggung jawab atas pembunuhan hampir semua penduduk asli Amerika, di Meksiko, ketika Aztec bangkit memberontak melawan Cortes, dikarenakan kalah jumlah, orang Spanyol terpaksa mengungsi. Dalam pertempuran itu, seorang tentara Spanyol yang terinfeksi cacar meninggal. Setelah pertempuran, suku Aztec kemudian tertular virus dari tubuh tentara Spanyol tersebut. Ketika Cortes kembali ke ibukota Aztec, cacar telah menghancurkan populasi Aztec. Cacar telah membunuh sebagian besar dari tentara Aztec, kaisar, dan 25% dari keseluruhan populasi. Cortes kemudian dengan mudah mengalahkan Aztec dan masuk Tenochtitlan, di mana ia menemukan cacar yang telah membunuh orang Aztec lebih daripada apa yang telah dibunuh oleh senjata perang.

Cacar diperkirakan bertanggung jawab terhadap 300-500 juta kematian di abad ke-20. Pada tahun 1967, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa 15 juta orang terjangkit penyakit cacar dan bahwa dua juta meninggal pada tahun itu. Setelah kampanye vaksinasi sukses sepanjang abad 19 dan 20, WHO mengeluarkan sertifikasi pemberantasan cacar pada tahun 1979. Hingga hari ini, cacar adalah satu-satunya penyakit menular pada manusia yang telah benar-benar diberantas dari alam.

2.Flu spanyol
Pada tahun 1918 dan 1919, pandemi Flu Spanyol membunuh lebih banyak orang dibanding Hitler, senjata nuklir dan semua teroris jika dikombinasikan. (Pandemi adalah epidemi yang mewabah pada skala global.) Flu Spanyol merupakan versi lebih parah dari flu biasa, yang ditandai dengan sakit tenggorokan biasa, sakit kepala dan demam. Namun, pada banyak pasien, penyakit ini cepat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk dari pilek biasa. Menggigil dan kelelahan ekstrim yang sering disertai dengan cairan di paru-paru. Salah satu dokter yang merawat pasien yang terinfeksi menggambarkan adegan suram, wajah-wajah pasien kebiruan, batuk disertai dahak bernoda darah. Di pagi hari, mayat ditumpuk di kamar mayat seperti kayu bakar.

Tidak ada obat untuk virus influenza, bahkan sampai hari ini. Semua yang dokter bisa lakukan adalah mencoba untuk membuat pasien nyaman, yang merupakan satu-satunya cara yang baik pada waktu itu, karena paru-paru pasien dipenuhi cairan dan didera batuk tak tertahankan. Wajah korban yang kebiruan akhirnya berubah coklat atau ungu dan kaki mereka menjadi hitam. Sebagian dari pasien-pasien tersebut juga terinfeksi bakteri pneumonia sebagai infeksi sekunder. Karena antibiotik belum ditemukan, infeksi sekunder ini juga pada dasarnya tidak dapat diobati. Pandemi datang dan pergi seperti kilat. Lebih dari setengah juta orang meninggal di Amerika Serikat saja, di seluruh dunia, lebih dari 50 juta.

3.Black death
The Black Death, atau The Black Plague, adalah salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah manusia. Wabah ini dimulai di Asia Selatan, Barat atau Tengah dan menyebar ke Eropa pada akhir 1340-an. Jumlah total kematian di seluruh dunia dari pandemi diperkirakan mencapai 75 juta orang, dengan 20 juta kematian di Eropa saja. The Black Death diperkirakan telah membunuh antara sepertiga hingga dua pertiga dari penduduk Eropa.

Baca Juga:  Ehler Danlos Syndrome (EDS) - Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Wabah penyakit ini muncul dengan sendirinya melalui tiga varian penularan. Paling umum merupakan Varian Pes berasal dari pembengkakan yang muncul di leher korban, ketiak ataupun pangkal paha. Penyakit ini tumbuh dengan berbagai ukuran, dimulai dari sebesar telur hingga sebesar apel. Meskipun beberapa orang selamat dari cobaan yang menyakitkan, wabah penyakit ini biasanya memberikan harapan hidup pada korban hingga seminggu.

Varian kedua merupakan wabah Pneumonia yang menyerang sistem pernapasan dan disebarkan hanya dengan menghirup udara yang dihembuskan melalui korban. Wabah penyakit ini jauh lebih mematikan dibanding wabah Pes, harapan hidup hanya dapat diukur dalam satu atau dua hari. Varian ketiga merupakan penularan wabah Septicemia, penyakit yang menyerang sistem darah.

Tanda klasik penyakit pes adalah munculnya buboes di selangkangan, leher dan ketiak, dengan nanah yang mengalir dan berdarah. Korban mengalami kerusakan pada kulit dan jaringan di bawahnya, sampai mereka ditutupi bercak gelap. Sebagian besar korban meninggal dalam waktu empat sampai tujuh hari setelah infeksi.

Ketika wabah mencapai Eropa, ia pertama kali melanda kota-kota pelabuhan dan kemudian mengikuti rute perdagangan, baik lewat laut dan darat. Penyakit pes adalah bentuk paling sering terlihat selama wabah Black Death, dengan angka kematian 30-75 persen dengan gejala demam 38-41 ° C (101-105 ° F), sakit kepala, nyeri sendi sakit, mual dan muntah, dan perasaan umum malaise. Dari mereka yang terjangkit penyakit pes, 4 dari 5 meninggal dalam waktu delapan hari. Wabah pneumonia adalah bentuk yang paling sering kedua selama Black Death, dengan angka kematian 90-95 persen.

Penyakit yang sama diduga telah kembali ke Eropa setiap generasi dengan berbagai virulensi dan mortalitas hingga tahun 1700. Selama periode ini, lebih dari 100 epidemi wabah menyapu seluruh Eropa. Setelah kembali pada tahun 1603, wabah membunuh 38.000 penduduk London. Wabah abad ke-17 yang terkenal lainnya adalah Wabah Italia (1629-1631), Wabah Besar Seville (1647-1652), Wabah Besar London (1665-1666), Wabah Besar Wina (1679). Ada beberapa kontroversi mengenai identitas dari penyakit dalam wabah tersebut, tetapi dalam bentuk virulen penyakit yang ada sama dengan penyakit yang terjadi selama wabah black death. Setelah Wabah Besar Marseille (1720-1722) dan wabah di Moskow (1771), tampaknya penyakit-penyakit tersebut telah menghilang dari Eropa pada abad ke-18. Wabah Black Death pada abad keempat belas memiliki efek drastis pada populasi Eropa, yang mengubah struktur sosial Eropa.

4.Campak
Seperti halnya cacar, wabah campak juga sudah terjadi sebelum Masehi. Campak sendiri menempati peringkat kedua dalam wabah paling mematikan sepanjang sejarah karena telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa hingga 200 juta orang. Gejala, demam, muncul ruam, batuk, sakit tenggorokan, dan mata menjadi merah.

5.HIV (AIDS)
Siapa yang tak kenal dengan penyakit yang satu ini? HIV / AIDS sudah jadi momok mengerikan bagi seluruh penduduk dunia. Ia menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menjadikannnya rentan terhadap segala virus dan bakteri. Hingga kini para peneliti belum menemukan obat mutlak bagi penyakit yang telah mengakibatkan lebih dari 25 juta korban jiwa ini. Gejala, demam, bubo, dan turunnya berat badan secara drastic

6.Tifus
Perlu diperhatikan bahwa typhus yang satu ini berbeda dengan yang kita kenal sebagai tifus atau demam tifoid. Bila demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii, maka Typhus disebabkan oleh bakteri Rickettsia yang dibawa oleh binatang pengerat seperti tikus. Di masa Perang Dunia II, penyakit ini lebih dikenal dengan nama demam penjara atau (jail fever) dan berhasil menelan korban jiwa hingga 8 juta orang.

7.Kolera
Berawal dari India dan terus menyebar hingga mencapai Cina. Pada tahun 1817, wabah kolera menyerang Eropa bagian barat dan Amerika. Hasilnya, ribuan tentara Inggris meninggal. Beruntung, karena sekarang obatnya sudah ditemukan, sehingga kasus-kasus kematian akibat kolera sekarang makin jarang terjadi.